#suami

Karena Istri Ingin Dimengerti

Pagi ini, saya dapat post dari seorang kawan di group whatsapp.
Judulnya: Karena Istri Ingin Dimengerti.
Saya baca-baca, isinya bagus juga. Kawan-kawan saya yang lain langsung pada forward ke suaminya. Lah, berhubung saya belum punya alamat yang dituju untuk forward, tapi saya berasa sayang banget kalau pesan itu cuma ngendon di hape saya karena isinya bagus & manfaat banget, jadi saya putuskan untuk saya share di blog ini saja. Semoga bermanfaat untuk siapapun yang baca.

Enjoy!

———————————————————————————————————————————————

Saat istri marah, belum tentu ia kesal.
Ia hanya butuh pengertian.

Saat istri menangis, belum tentu ia bersedih.
Ia hanya butuh pelukan.

Saat istri cemberut, belum tentu ia iri.
Ia hanya butuh pujian.

Saat istri menolak, belum tentu ia tak mau.
Ia hanya butuh rayuan dan bujukan.

Saat istri lelah, belum tentu ia merasa capek.
Ia hanya butuh diajak jalan-jalan.

Saat istri sakit hati, belum tentu ia terluka.
Ia hanya butuh belaian.

Namun..
Saat istri tersenyum, ia belum tentu setuju.
Bisa jadi ia sedang berusaha mengerti.

Saat istri tertawa, ia belum tentu bahagia.
Bisa jadi ia sedang berusaha membahagiakan suaminya.

Saat istri diberi hadiah, ia belum tentu senang.
Bisa jadi ia sedang berusaha untuk menghargai.

Saat istri terlihat tegar, ia belum tentu kuat.
Bisa jadi ia sedang mencoba untuk bertahan menghadapi ujian.

Saat istri mengerjakan perintah suami, belum tentu sesuai keinginannya.
Bisa jadi ia sedang berusaha untuk menjadi istri yang taat.

Wahai para suami atau calon suami,
Selami lebih dalam psikologi pasanganmu/calon pasanganmu.
Karena bisa jadi ada makna di setiap kata dan ekspresinya.
Ini bukan masalah tidak adanya ketulusan dan keikhlasan.

Namun belajarlah memahami tabi’at seorang wanita yang rela mengorbankan sisa usianya bersamamu.

Selalu ada pengorbanan dalam membangun cinta.
Namun insyaa Allah berakhir bahagia hingga ke surga.

Semoga kita bisa menjadi pasangan yang saling memahami kekurangan dan kelebihan pasangan kita.
Aamiin yra.

-Anonim-

Salam,
Galuh Nindya

Suami

“Apa lagi, Syifa? Bukankah punya pasangan sudah lebih dari cukup? Bukankah yang terpenting adalah kau tak sendiri lagi dan ada yang bersedia mendampingi? Itu kan alasan mengapa kita perlu seorang suami?”

“Ya Zahida. Memang benar. Suami memang untuk mendampingi. Tapi aku tak mau bila sekedar demikian.”

“Lalu apa lagi, Syifa? Kau ini rumit sekali.”

“…..
Zahida, yang aku inginkan, kelak, suami akan menjadi rumah tempatku pulang, meski entah ke manapun mungkin aku telah melangkah. Suami adalah tempatku pulang, saat segala peluh di luaran telah tercurah. Aku mau, suami adalah tempatku pulang dan bersandar. Yang aku mau, suami adalah imam bagiku, di mana aku bisa mencium tangannya dengan takzim dan penuh hormat. Bahwa betapapun kerasnya aku, aku akan kembali kepada fitrahku sebagai perempuan kala menjadi makmumnya. Mentaati segala bimbingannya.

Ah, Zahida. Mungkin memang benar aku ini terlalu rumit. Aku tau manusia tak ada yang sempurna. Oleh karenanya tak pernah kunanti yang sempurna. Namun, aku juga tak mau bila hanya sekedar punya suami. Yang aku inginkan, nantinya, kami bisa senantiasa seiring sejalan. Bermitra meniti jalan menuju jannah-Nya.

Apa kau mengerti, Zahida?
Kau tau, saat kau memilih siapa yg kelak akan menjadi suamimu, maka kau pun juga memilih calon ayah dari anak-anakmu, yang dengannya kau akan bersama mendidik dan membesarkan putra putrimu menjadi insan insan yang kenal akan Tuhannya, yang kuat pendiriannya, yang akan membawa kesejukan bagi siapapun yang ada di sekitarnya. Kau pun juga sekaligus memilih, panutan dan imam dalam rumah tanggamu. Kau pun juga memilih, sahabat sejati yang akan dengan setia mendengar segala ceritamu. Kau pun juga sekaligus memilih pahlawanmu, yang akan dengan sabar membimbing sekaligus bersedia melindungimu. Kala kau memilih suami, maka kau memilih rumahmu untuk pulang. Aku mau, kelak, tak ada tempat yang lebih aku inginkan untuk pulang, selain kepadanya, Zahida. Aku mau benar-benar takzim kala mencium tangannya kelak. Oleh karenanya, boleh kan aku berhati-hati kala memilihnya?”

“Ah, Syifa.. aku mengerti sekarang. Semoga Allah mempermudah langkahmu, sahabatku.. Temukan rumahmu untuk pulang.”

Syifa tersenyum dan mengaamiini doa sahabat karibnya.
“Allahurabbi, kupercayakan segalanya hanya pada-Mu. Mudahkanlah bagiku membaca petunjuk-Mu. Tenangkanlah hatiku.”, lanjutnya meminta, dalam batinnya.

Air mata Syifa masih bercucuran. Tiap tetesnya menyatu dengan rerintik air hujan yang menyentuh rerumputan. Gemericiknya seakan menjadi senandung, mengiringi lantunan doa-doa yang dipanjatkan dalam batinnya. Setelah pembicaraan itu, suasana menjadi syahdu, kala senja sore itu.