#komunikasi

Perihal Lupa Nama

“Hai Benny! Eh, maksud saya Denny. Atau Ronny? Aduh maaf, siapa tadi nama kamu?” 😀

Hehehe.. Pernah demikian?

Mungkin banyak dari kita yang demikian, terutama saat baru kenalan. Ngobrol sedikit banyak, lalu lupa lagi nama kenalannya siapa. Terlebih bila baru kenalan dengan sejumlah orang dalam waktu yang bersamaan, misal saat baru bergabung dengan lingkungan yang baru.

Bila baru semenit dua menit berkenalan lalu lupa, masih wajar saja. Namun bagaimana bila sudah cukup lama lantas lupa nama? Steffi Teowira di situs http://www.qerja.com menyebutkan beberapa tips & trik yang dapat diterapkan agar lebih mudah mengingat nama:

1. Menyebut Nama Berulang-Ulang
Teknik mengingat nama tidak ada bedanya dengan teknik menghafal: semakin sering Anda mengucapkannya, semakin ‘menempel’ di otak Anda.

Misalnya Anda baru dikenalkan dengan seseorang bernama Timo, pastikan Anda langsung menyebut ulang namanya. “Hai Timo, nama saya XXX. Kerja di mana, Timo?”

2. Asosiasi Nama
Anda dapat mencoba mengasosiasikan nama mereka dengan penampilan atau informasi yang Anda dapatkan saat berbincang-bincang.

Ketika Anda sedang berkenalan, coba perhatikan fitur fisik mereka. Misalnya A memiliki rambut panjang, jadi ingat-ingatlah kalau “A itu yang rambutnya panjang”. Jika orang tersebut kebetulan memiliki nama yang unik, Anda juga bisa mencoba mengasosiasikannya dengan nama benda yang mirip, kemudian visualisasikan benda tersebut setiap Anda melihat sang kenalan.

Jika Anda sudah bercakap-cakap dan mendapat informasi tambahan tentang orang tersebut, bisa juga coba kaitkan dirinya dengan sepotong informasi. Misalnya koneksi Anda bekerja sebagai koki, coba bayangkan ia sedang memasak dengan topi koki. Menurut para ahli, asosiasi visual akan membuat informasi lebih mudah diserap.

3. Visualisasikan Nama Mereka di Dahi
Coba bayangkan kalau nama kenalan baru Anda tertulis di dahinya. Yup, coba saja! Trik ini konon juga dipakai oleh Franklin Roosevelt, loh.

KALAU TELANJUR LUPA

Bagaimana kalau telanjur lupa? Tentu rasanya memalukan bukan main. Kadang malah berisiko menyinggung lawan bicara Anda. Daripada Anda terbata-bata, coba salah satu trik ini:

1. Tanyakan Nama Belakang
Tanyakan kembali nama lawan bicara Anda dan mereka otomatis akan menyebutkan nama depan, lalu katakan “Maksudnya nama belakang”. Berpura-puralah kalau yang Anda tanyakan adalah nama belakang, padahal sebetulnya yang Anda incar adalah nama depan yang Anda lupakan tadi.

2. Minta Kartu Nama
Tentu saja tidak ada yang akan tersinggung jika Anda meminta kartu nama mereka, kan?

3. Minta Kontak Sosial
Minta kontak email, Twitter atau aplikasi messaging. Nama mereka akan muncul di ponsel Anda dan ini juga akan memudahkan Anda untuk menghubungi mereka lain kali.

4. Kenalkan Pada Teman
Kenalkan teman Anda pada koneksi baru Anda dan mereka otomatis akan mengenalkan diri, jadi Anda bisa menangkap kembali nama mereka!

Sekian beberapa tips & trik yang mungkin bisa digunakan.
Anda ada tips/cara lain? Yuk berbagi di kolom komentar! Semoga makin memperkaya kamus tips & trik para pembaca lainnya 🙂

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

Tantangan Mendidik Anak di Era Digital – Seminar Parenting by Bunda Elly Risman (1)

Sabtu tanggal 21 Februari 2015 yang lalu, alhamdulillah akhirnya saya berkesempatan untuk menghadiri seminar parenting dengan pembicara istimewa, Ibu Elly Risman, Psikolog yang diadakan oleh Sekolah Kreatif SDN Muhammadiyah 16 Surabaya bekerjasama dengan yayasan milik Ibu Elly, Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH). Sebenarnya, gambaran isi seminarnya saya sudah tau karena pernah baca ringkasannya di beberapa blog orang. Tetapi, karena pembicaranya adalah Ibu Elly Risman sendiri, rasanya pasti akan berbeda sekali bila kita bisa ikut hadir dan mendengarkan langsung. Sayang sekali kalau dilewatkan.

Sebelum saya ceritakan isi materi seminarnya, alangkah baiknya saya beri gambaran sekilas terlebih dahulu mengenai profil Ibu Elly Risman ini, supaya Anda semua yang membaca percaya, bahwa Ibu Elly Risman ini bukanlah narasumber main-main untuk memberikan materi mengenai parenting. Ibu Elly Risman ini adalah seorang psikolog dg spesialisasi pengasuhan anak sekaligus menjabat sebagai direktur pelaksana di Yayasan Kita dan Buah Hati. Beliau belajar psikologi di Universitas Indonesia, dan pernah pula 10 tahun lamanya tinggal di Amerika untuk menemani suaminya yang sedang menempuh PhD. Sembari tinggal di Amerika, beliau juga mendalami ilmu parenting di Florida State University Talahase. Ibu Elly ini, ternyata kelahiran 1951. Sudah termasuk cukup berumur menurut saya, tapi, semangat dan tenaganya luarrrr biasa! Salute! Beliau terlihat sangat penyayang dan keibuan, namun tetap tak kehilangan kesan tegas. Keren pokoknya! 🙂

Seminar direncanakan akan berlangsung selama kurang lebih 3 jam, namun kenyataannya berlangsung lebih lama lagi. Dimulai pada pukul 09.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 13.30 WIB. Ibu Elly sampai minta maaf secara pribadi karena menyebabkan shalat dhuhur kami tertunda. Oleh karena betapa panjangnya paparan materi yang disampaikan dan menurut saya isinya padat dan penting semua, maka tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa posts, supaya materinya dapat terserap dengan baik dan Anda semua tidak jenuh membacanya.

Jadi.. tak perlu berlama-lama lagi. Kita mulai saja ya… ^_^

Mengawali seminarnya, Ibu Elly langsung membuka dengan sebuah pernyataan,

“Bencana yang paling besar saat ini adalah kita tidak sadar bahwa kita sedang dalam bencana. Bencana itu ada di telapak tangan kita dan anak-anak kita, yaitu gadget!

Audience sepi seketika.

Berikutnya, Ibu Elly berpesan, bahwa kami, audience, sepulang mengikuti seminar ini, diminta untuk menyampaikannya minimal kepada 3 orang terdekat di sekitar kita. Mengapa? Sebab, lingkungan anak-anak tak hanya terdiri dari kita saja. Bisa jadi, kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk mendidiknya, namun karena lingkungan lainnya belum memahami benar, maka bisa saja ia terkontaminasi dengan mereka yang masih kurang peduli dengan masalah ini. Sayang kaaan? Nah, agar bisa lebih optimal, saya bagikan saja via blog ini. Semoga yang mengetahui informasinya dapat lebih banyak dari sekedar 3 orang dan lebih bermanfaat. Aamiin..

Sesi Pertama: Pengasuhan Orangtua

Di awal sesi pertama Ibu Elly memberikan pertanyaan, “Siapkah kita untuk menjadi orang tua?” Dan jawabannya, hampir sebagian besar para orangtua tidak menguasai benar bagaimana caranya menjadi orangtua. Mereka tidak memahami/memiliki cukup pengetahuan mengenai tahapan perkembangan anak, mereka juga tidak mengetahui bagaimana cara otak bekerja. Padahal, hal tersebut tentu akan berpengaruh terhadap kepribadian dan masa depan anak.

Tahukah Anda poin terpenting dari pengasuhan orangtua? Ya! Yaitu CARA ORANGTUA BERBICARA/BERKOMUNIKASI dengan anaknya!

Berikutnya, beliau memutarkan cuplikan video mengenai bagaimana tak terkontrolnya ibu-ibu itu bila menumpahkan ‘omelan’-nya (saya rekomendasikan Anda nonton filmnya secara penuh, judulnya “I’m not Stupid Too 2”, dijamin tertohok, mengena, penuh derai air mata. manfaat banget untuk gambaran parenting & keluarga!). Betapa para ibu-ibu itu bisa dengan ringan dan tanpa lelahnya mengomel tak henti, hingga sang anak jengah dan tak satupun kata-katanya diresapi mereka. Audience yang sebagian besar ibu-ibu spontan tertawa. Merasa memang begitu mungkin ya! Hahaha..

Kesalahan terbesar dan tersering yang dilakukan oleh para orangtua adalah bicara dengan tidak sengaja pada anak. Tidak sengaja? Ya. Maksudnya, seringkali para orangtua tidak sadar penuh kala berbicara dengan anak, tidak memperkirakan, memperhitungkan, merasakan terlebih dahulu kata-kata apa saja yang mereka sampaikan pada putra putrinya. Spontan saja mengalir keluar. Anak seringkali dihujani dengan rentetan ceramah-ceramah tanpa sela. Terlebih bila di pagi hari, kala bapak ibu, ayah bunda sedang hectic mengejar jam masuk kantor atau jam masuk sekolah anak. Nah, cara komunikasi yang demikian itu, ternyata sangat berbahaya bagi perkembangan anak ke depan. Efeknya:
1. Melemahkan konsep diri anak
2. Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama
3. Merasa tidak berharga atau tidak percaya diri
4. Tidak terbiasa berpikir, memilih, dan mengambil keputusan bagi diri sendiri

Selain 4 efek secara garis besar di atas, bicara tidak sengaja pada anak juga akan membuat anak menjadi:
– Bertanya-tanya/menyesali diri, “Mengapa aku dilahirkan?”
– Lelah jiwa (BeTe)
– De Motivated alias malas
– Merasa terperangkap
– Bingung
– Kecewa
– Dendam
– Bunuh diri

Na’udzubillaahimindzaalik. Serem ya.. 😦

Beliau juga menyampaikan, betapa banyak dari kita, sebagai orangtua, yang tak mengenal diri sendiri? Jarang melihat ke dalam (look in) dan terlalu sering melihat/menilai ke luar (look out). Seringkali terlalu sibuk sehingga jarang mengenali diri sendiri, terlebih lagi berusaha mengenali orang lain, apalagi anak-anak dan pasangannya.

Berikutnya, masih mengenai komunikasi, beliau menyebutkan beberapa kesalahan yang seringkali tanpa sadar kita lakukan dalam berkomunikasi, yaitu:
– Bicara tergesa-gesa
– Tidak mengenal diri sendiri
– Lupa bahwa tiap individu itu unik, sehingga memiliki kebutuhan dan kemauan masing-masing yang berbeda
– Tidak sempat membaca bahasa tubuh
– Tidak mendengar perasaan
– Kurang mendengar aktif

Beliau mencontohkan dengan kasus. Misal saat anak berlari-lari, orangtua mengingatkan berkali-kali, “Jangan lari-lari nak, nanti jatuh!” dan sang anak tetap saja berlarian. Tak lama kemudian, ia benar terjatuh. Apa yang biasanya dilakukan orangtua? Yak, benarrr! Sang orangtua selanjutnya berkata, “Tuh, kaaaaaan.. apa mama bilang? Udah, gapapa cuman jatuh gitu aja. Besok PASTI sembuh.” Padahal, si anak menangis, ia memegangi lututnya, bahasa tubuh dan ekspresinya menunjukkan kesakitan sembari terus menerus sesenggukan berkata, “Sakiiit ma…“.

Sudah berapa kesalahan yang dilakukan Sang Mama? Ia menancapkan dalam memori anaknya berulang-ulang, bahwa ia akan jatuh. Berikutnya, ia menyalahkan anaknya: “tuh kaaan…” dan tak jarang diiringi dengan ceramah panjang. Tak hanya itu saja, Sang Mama juga tak mendengar perasaan anaknya, sekaligus tak membaca bahasa tubuhnya. Si anak menangis, memegangi lututnya, mimik wajahnya sedih, berulang kali bilang “sakiiit..” tapi apa yang mama bilang? “Udah gapapa.. cuman jatuh gitu aja.” Lalu, parahnya lagi, Sang Mama sebenarnya tau bahwa dengan luka yang demikian, tak mungkin akan sembuh esok hari, tapi ia tetap bilang, “PASTI besok sudah sembuh.” Ia beri harapan palsu pada anaknya. Saat itu, sang anak percaya apa kata mamanya, bisa jadi ia tenang, pasti besok sembuh. Sampai keesokan harinya, saat yang ditunggu-tunggunya, ia lihat & rasakan lukanya belum sembuh jua. Dari situlah ia bisa jadi belajar, bahwa mamanya berbohong. Mamanya membohonginya…

Lantas, beliau menyebutkan lebih rinci dalam slide berikutnya, 12 Gaya Populer Kekeliruan dalam Komunikasi:
1. Memerintah            7. Menasihati
2. Menyalahkan          8. Membohongi
3. Meremehkan          9. Menghibur
4. Membandingkan   10. Mengkritik
5. Mencap/melabel   11. Menyindir
6. Mengancam         12. Menganalisa

Bayangkan betapa seringnya orangtua tanpa sadar melakukan 12 gaya populer tersebut. Ibu Elly bertanya, sudah berapa banyak stempel yang dicapkan orangtua di wajah anak-anaknya? Sudah sejak usia berapa kita mengancam anak-anak kita? Misalkan pada salah satu lagu anak yang cukup populer: “nina bobo’.. oh nina bobo’.. kalau tidak bobo’ digigit nyamuk..” nah lho! anak diancam, kalo nggak kunjung bobo’ nanti digigit nyamuk..

Jadi, sudah seberapa banyak? Sudah seberapa sering? Sudah berapa lama? 😦

to be continued –

Salam,
Galuh Nindya

Mendengar Aktif

Hampir seminggu yang lalu, kita dikejutkan dengan berita duka mengenai hilangnya pesawat Airasia QZ 8501 di sekitar Laut Karimata. Berita ini tentu menjadi kabar buruk di penghujung tahun 2014 bagi kita semua, terlebih bagi keluarga penumpang pesawat tersebut. Sebentar setelah berita tersebut, saya mulai melihat pergerakan peran para kawan-kawan yang berkecimpung di dunia psikologi. Mereka bersatu di bawah koordinasi HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) untuk mendirikan pusat krisis di Terminal 2 Bandara Juanda dan Polda Jatim, menjadi relawan untuk mendampingi para keluarga/kerabat penumpang yang memerlukan layanan psikologis. Layanan diberikan selama 24 jam dan terbagi ke dalam 3 shift. Saya pribadi salut dengan semangat teman-teman & guru saya tersebut. Bagaimana tidak, mereka rela bertugas bahkan hingga malam hari dan di hari libur, secara bergantian, untuk terus mendampingi para keluarga penumpang. Padahal, kegiatan pendampingan tersebut pastilah memerlukan kesehatan dan energi yang tidak sedikit.

Mengapa? Karena sebenarnya PFA-Psychological First Aid (Pertolongan Psikologis Awal) yang diperlukan oleh keluarga yg berduka adalah dengan membuatnya merasa tenang, aman, nyaman, dan penuh harapan. Nah, komponen terpenting yang diperlukan saat melakukan PFA adalah mendengarkan. Keluarga penumpang yang berduka tersebut seringkali perlu bercerita untuk membantu meredakan ketegangan emosi yang dirasakannya. Kemampuan mendengarkan ini, tentu memerlukan energi yang luar biasa. Mengapa? Sebab mendengarkan yang diperlukan adalah mendengarkan aktif. Mendengarkan dengan melibatkan seluruh indra, hati, pikiran, dan perasaan.

Dan… inilah sebenarnya yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini. Bukan tentang apa yang menimpa Airasia QZ8501, bukan pula mengenai peran para psikolog dalam pusat krisis kejadian tersebut, bukan pula tentang Psychological First Aid (PFA) yang diberikan, tetapi mengenai mendengarkan. (Hehe, maaf, openingnya kepanjangan plus belibet ya? :D)

Barangkali Anda ada yang bertanya-tanya, mengapa kata ‘mendengarkan’ saya cetak tebal? Sebab saya ingin menekankan, bahwa yang kita perlukan kala berkomunikasi sebenarnya adalah mendengarkan, dan bukan hanya mendengar. Mungkin berikutnya Anda masih bertanya, “memangnya berbeda?”. Jawaban saya: ya! tentu berbeda. Begini, mudahnya, kita menerjemahkan hear adalah mendengar, sedangkan listen adalah mendengarkan. Beda kan? Kala mendengar, kita hanya mengoptimalkan indra pendengaran kita, namun kala mendengarkan, kita juga mengoptimalkan seluruh indra, perhatian, pikiran, dan hati kita sepenuhnya.

Sayangnya, masih banyak juglistening-300x258a dari kita yang seringkali hanya mendengar, tetapi belum mendengarkan kala berkomunikasi dengan orang lain. Atau, mendengarkan, tapi tidak sepenuhnya. Seperti yang Stephen R Covey pernah bilang: Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply.” Kita hanya mendengarkan untuk me-reply, dan bukannya untuk memahami apa yang disampaikan sang pembicara.

Lantas, apa implikasinya apabila kita hanya mendengar dan tidak mendengarkan kala berkomunikasi? Tentu selain kita akan kehilangan makna/informasi yang disampaikan, bisa jadi kita juga akan kehilangan respect dari lawan bicara kita. Mengapa? Sebab baginya, tentu saja kita juga terlihat & terkesan tak menghargai apa yang ia sampaikan, seolah kita hanya sambil lalu mendengarkan. Sangat disayangkan ya? Oleh karenanya, dalam berkomunikasi, kita perlu mengembangkan dan menerapkan skill mendengarkan, atau yang biasa disebut dengan mendengar aktif.

Kemampuan mendengar aktif ini menjadi sangat penting bagi kehidupan kita. Seberapa baik kita mampu mendengarkan, akan berdampak pada kehidupan interpersonal kita dengan orang lain. Entah relasi kita dalam keluarga, pekerjaan, ataupun relasi-relasi lainnya. Dengan mendengarkan, kita bisa menerima informasi dengan lebih utuh, sehingga kita bisa memahami dan bahkan menyelesaikan masalah atau belajar dari informasi yang disampaikan.

Bagaimana caranya agar kita bisa mendengar aktif?

listeningIntinya, mendengar aktif memerlukan usaha penuh dari kita untuk tidak hanya mendengar apa yang dikatakan pembicara/orang lain, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa memahami pesan sepenuhnya dari yang telah disampaikan. Untuk melakukannya, tentu kita perlu berfokus atau memusatkan perhatian kita sepenuhnya pada orang tersebut. Kita juga harus benar-benar dengan sadar menahan diri, jangan sampai perhatian kita terganggu dari hal lain apapun yang ada di sekitar kita, atau kita memberi argumen yang membuat orang tersebut berhenti berbicara. Kita juga perlu menghindarkan diri dari merasa bosan atau kehilangan fokus terhadap apa yang disampaikannya.

1. Perhatikan baik-baik!
Pusatkan perhatian Anda sepenuhnya pada pembicara, jangan sampai perhatian Anda terbagi. Ingatlah pula bahwa bahasa non verbal juga akan berpengaruh. Bagaimana caranya?
– Lihat ke arah pembicara, jangan berpaling muka, atau melihat ke arah lain.
– Singkirkan hal-hal lain yang mengganggu. Apabila Anda sedang melakukan sesuatu, berhentilah. Tinggalkan komputer, letakkan HP, bila sedang menulis-hentikan. Jangan disambi. Katakan dalam diri Anda, saya akan mendengarkan orang ini, bukannya mendengar orang ini sembari melakukan hal ini.. ini.. ini..
– Hindarkan diri juga agar tidak terganggu dari distraktor lain, misal pembicaraan lainnya yang terjadi di sekitar Anda.
– Jangan bicara sendiri
– Perhatikan juga bahasa tubuh pembicara
– Jangan menyiapkan bantahan, atau argumen umpan balik. Dengarkan terlebih dahulu dengan seksama.

2. Tunjukkan keseriusan Anda mendengarkan!
Keseriusan kita dalam mendengarkan akan tampak dari bahasa tubuh kita.
– Beri anggukan sesekali (jangan terlalu sering juga)
– Beri senyuman atau ekspresi wajah lainnya yang sesuai
– Condongkan badan agak ke depan, letakkan tangan Anda secara terbuka (jangan bersendekap), dan jangan sembunyikan tangan Anda (di bawah meja/di saku celana)
– Dorong pembicara untuk melanjutkan perkataannya dengan memberinya sedikit komen verbal seperti ‘iya’ atau ‘he eh’ (pastikan momennya tepat. jangan sampai memotong kata-katanya, atau diberikan terlalu sering karena bisa jadi mengindikasikan sebaliknya, Anda tidak berniat & berminat mendengarkannya)

3. Beri umpan balik!
Saat mendengarkan, kita memproses informasi yang disampaikan. Bisa jadi, ada beberapa hal yang mungkin belum kita pahami atau memerlukan penjelasan lebih lanjut. Setelah pembicara selesai menyampaikan perkataannya, ajukan pertanyaan. Atau, kalau Anda merasa sudah memahami apa yang disampaikan, konfirmasikan. Sampaikan ulang apa yang Anda pahami, parafrasekan. Sampaikan dengan bahasa Anda.

4. Jangan menghakimi!
Menyela pembicara adalah hal yang sia-sia & membuang waktu. Hal tersebut dapat membuat pembicara kesal & dapat menghalangi pemahaman yang menyeluruh mengenai pesan yang disampaikan.
– Biarkan pembicara menyelesaikan setiap poin yang ingin disampaikannya sebelum Anda memberi umpan balik/pertanyaan.
– Jangan menyela dengan argumen balasan.
– Sekali lagi: jangan memotong pembicaraan! Biarkan pembicara selesai terlebih dahulu, apapun yang disampaikannya.

5. Beri respon sewajarnya!
Mendengar aktif adalah sebuah cara untuk memahami dan menghargai. Kita mengumpulkan informasi dan sudut pandang dari pembicara. Oleh karenanya, jangan sampai kita menyerang pembicara atau membuatnya merasa direndahkan.
– Terbuka & jujurlah dalam memberi respon
– Sampaikan pendapat dengan penuh hormat & hati-hati
– Hargai & perlakukan kawan bicara dengan baik

Tentu memerlukan kebulatan tekad dan konsentrasi yang tinggi untuk dapat menjadi pendengar aktif. Mungkin, kebiasaan mendengar yang lama sulit diubah, tetapi bukan tidak mungkin tidak bisa. Berhati-hatilah kala berkomunikasi dengan orang lain dan sadarkan diri sepenuhnya, ingatkan diri bahwa tujuan kita adalah benar-benar mendengarkan apa yang disampaikan kawan bicara kita. Singkirkan dahulu pikiran-pikiran yang terlintas di pikiran Anda dan berfokuslah pada apa yang disampaikan sang pembicara. Sampaikan pertanyaan, dan parafrasekan apa yang telah disampaikannya untuk memastikan bahwa apa yang Anda pahami telah sesuai dengan yang dimaksud pembicara.

Dengan mendengar aktif, kawan bicara kita akan merasa lebih diperhatikan. Sehingga, ia dapat dengan lebih leluasa menyampaikan informasi, ide, atau pendapatnya karena tidak merasa disepelekan. Bagi kita, yang mendengarkan, mendengar aktif akan membantu kita untuk lebih memahami informasi yang disampaikan dengan utuh sehingga menhindarkan miskomunikasi atau kesalahpahaman.

Mari mulai mendengarkan untuk hubungan interpersonal yang lebih baik!
Selamat mencoba! ^_^

Salam,
Galuh Nindya

*note: gambar diambil dari: http://goo.gl/4gZsNU & http://goo.gl/jrIhsp