#bunda

Vitamin A(yah) untuk Anak Kita

Tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak kita saat ini membutuhkan vitamin A (Ayah) yang memiliki peranan sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Ayah…
Engkaulah nahkoda, penentu Garis Besar Haluan Keluarga. Engkau yang menentukan ke mana keluarga kita akan kau bawa
Engkau bukan hanya pencari rizki yang penuh berkat, yang menyediakan makanan lezat dan pakaian yang hangat, serta rumah dan isinya yang tak mudah berkarat. Bagi kami, engkau adalah pembimbing anak dan istri yang hebat.

Ayah…
Engkau adalah pembuat kebijakan dan peraturan. Engkau pula yang menentukan standar keberhasilan.

Ayah…
Engkau senantiasa melakukan pemantauan dan perawatan terhadap kami, dan harta benda yang engkau titipkan.

Ayah…
Luangkan waktumu lebih banyak lagi ya..
Obrolan sederhana yang engkau bangun dengan anak kita, membuat ia menjadi anak yang:
– Tumbuh menjadi orang dewasa yang suka menghibur
– Punya harga diri tinggi
– Prestasi akademis di atas rata-rata, dan
– Lebih pandai bergaul

Ayah lain yang kurang ngobrol dan bercengkerama dengan anak, ternyata menyebabkan anak perempuannya:
– Cenderung mudah jatuh cinta dan mencari penerimaan dari laki-laki lain
– 7-8 kali lebih mungkin memiliki anak di luar pernikahan
– Cenderung suka lelaki yang jauh lebih tua, dan
– Cenderung lebih mudah bercerai
dan ternyata, ini berlaku pada anak perempuan dari latar belakang sosial ekonomi manapun.

Sedangkan anak laki-laki yang jarang diajak ngobrol ayahnya,
– Lebih beresiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal
– Cenderung lebih cepat puber di usia yang lebih muda
– Cenderung bergabung dengan gang, dan
– Cenderung menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasa

Ciri anak yang kekurangan vitamin A adalah lebih rentan terhadap peer pressure/tekanan lingkungan sebayanya.

Ayah…
Ingat yuk peran kita sebagai orangtua;
Anak itu AMANAH;
Kita mendapatkan tugas dari Allah untuk mengasuh dan membesarkan anak dengan baik dan benar.
Sebab itu, butuh perjuangan (pikir, rasa, jiwa, tenaga, waktu, dan biaya)

Ayah…
Yuk pimpin keluarga dengan membuat Visi Pengasuhan bersama Ibu.
Visi membuat ayah dan ibu lebih mudah mengayuh bahtera keluarga bersama-sama.

Keluarga Nabi Ibrahim, a.s. mempunyai misi (Q.S. Ibrahim: 35-37):
– Penyelamatan aqidah
– Pembiasaan ibadah
– Pembentukan akhlaqul karimah
– Pengajaran lifeskill (entrepeneur)

Sedangkan Visi Keluarga Imran (Q.S. Ali Imran: 35), yakni menciptakan hamba Allah yang taat.

Ayah…
Mari terus perbaiki pola pengasuhan selama ini.
Anak kita perlu mendapat validasi dari kita agar ia tidak perlu mencari dari orang lain.
Ia membutuhkan 3P:
– Penerimaan
– Penghargaan
– Pujian

Ayah…
Mari kita bedakan pola pengasuhan anak laki-laki dan anak perempuan kita, sebab:
– Otak mereka berbeda
– Tugas dan tanggung jawab mereka kelak saat dewasa juga akan berbeda
– Sehingga, tujuan pengasuhannya pun berbeda. Anak laki-laki kita kelak akan mengemban tanggung jawab yang lebih besar daripada anak perempuan kita. Selain menjadi hamba Allah yang bertaqwa dan berperan di masyarakat, anak laki-laki kita kelak akan menjadi pendidikan dan pengayom keluarga.

Ayah…
Penting sekali vitamin A bagi anak;
Bukan hanya meluangkan ‘waktu lebih’, tapi kuantitas dan kualitas berjalan seimbang.
Tidak hanya terlibat secara fisik, tapi melakukan authoritative parenting (kasih sayang tinggi – tuntutan tinggi, yakni, orangtua memberikan dorongan, dukungan, perhatian, dan menawarkan perhatian tanpa kekerasan).

Ayah…
Biasakan tanya perasaan anak kita setiap hari ya..
Itu berarti engkau sedang membangun kekuatan emosi dan kedekatan batin dengan mereka.
Ingat, PERASAAN ya Yah..

Biarkan dirimu menjadi tempat curhat anak-anakmu,
Tempat mereka meluapkan perasaannya.
Kalian bisa ngobrol tentang apaaaaa saja.
Tentang hal-hal pribadi, tentang hal-hal yang menyenangkan, tentang kesulitan yang dialami, tentang hal yang dianggap tabu dan menjadi tantangan anak jaman sekarang.

Ayah…
Berikan pondasi bagi anak-anakmu,
agar kelak mereka kuat dan mampu berdiri sendiri dengan arif dan disayangi banyak orang.

Ayah…
Peranmu tak tergantikan untuk membantu Ibu membesarkan anak yang sehat dan bahagia,
yang nantinya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan kestabilan negara.

Pesan Rasul tercinta, manusia yang baik adalah mereka yang paling baik pada KELUARGA-nya.

Let’s make everyday a Father’s day!

Oleh: Elly Risman, Psi. (Direktur & Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati)

——————————————–

Terkait tulisan Bunda Elly Risman ini, saya jadi teringat mengenai satu cuplikan film yang cukup mengena mengenai betapa berharganya waktu seorang Ayah bagi putranya:

I didn’t buy Pokemon cards. I just want to buy 1 hour of ur time to attend my concert. I wanted to pay w/ my savings, but it takes a year to save $500. By then my performance would be over. I sold my Pokemon cards, but I couldn’t raise enough. Stealing was my last resort. I’m sorry..

Betapa sang anak sampai rela mencuri, bingung usaha nyari duit sebanyak gaji ayahnya, untuk beli waktunya meski hanya 1 jam, agar ayahnya bisa hadir di konsernya.

Waktu, Ayah.. yang diperlukan putra/putrimu adalah waktu berkualitasmu.. :’)

Kawan, yuk, sebarkan tulisan ini kepada para Ayah dan calon Ayah lainnya. Semoga makin banyak anak-anak yang tumbuh bahagia sebab peran Ayahnya pula, selain Ibunya.

Salam,
Galuh Nindya

Percayalah… Kelak Engkau Akan Merindukan Kembali

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembałi
Saat buah hatimu terus membuntuti
Dan tak ingin engkau pergi
Sementara tumpukan piring kotor menanti untuk dicuci

Percayalah… kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika buah hatimu ditahan di tangan kiri
Karena menangis tak mau ditinggal sendiri
Sementara tangan kananmu memegang kuali

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika kau sibuk penuhi kebutuhan asi
Berbaring memeluk diatas dipan yang tak pernah rapi
Sementara buah hati lainnya berteriak dari kamar mandi
Meminta bantuanmu untuk bersuci

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika kau tak bisa membaca dengan penuh konsentrasi
Karena tangan kecil menarik memintamu menemani
bermain masak-masakan atau kereta api

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Pakaian kotor yang menggunung menantimu membilas kembali
yang diwarnai beragam noda hasil kreasi
Sementara kesibukan menyusui
Membuatmu sulit sekedar untuk nyalakan mesin cuci

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika meja makan selalu dihiasi
Tumpahan susu dan remahan roti
Atau nasi yang berserak setiap hari
Sementara semut terlanjur menghampiri
Sebelum sempat kau bersihkan kembali

Percayalah….. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika menyusul si kecil yang kabur berlari
Menyusuri jalan keluar dari garasi
Sementara masakanmu menghitam dibakar api

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Alas kasur yang khas berbau air seni
Buka tutup popok yang diganti berkali-kali
Sementara hujan terus menerus membasahi

Kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika satu persatu merantau pergi
Jalani masa depan membentuk jati diri
Dan ketika kelak mereka menjadi suami atau istri

Karena kelak engkau akan merindukan kembali
Jangan hiasi masa ini dengan amarahmu yang akan terekam dalam memori
Karena kelak engkau akan merindukan kembali
Jangan lewati masa ini dengan luapan emosi
Yang kelak hanya dapat kau sesali
Karena kelak engkau akan merindukan kembali
Jangan biarkan sosok lain menempati posisi yang lebih berarti
Karena dimasa ini engkau lewati dengan kesibukan diri sendiri

Percayalah…. masa-masa seperti ini akan berganti sebentar lagi
Dengan kerepotan yang lebih banyak pada urusan pikiran dan hati

By: Kiki B

Salam,
Galuh Nindya