#BimbinganIslam

BiAS (4): Dahsyatnya Fitnah Wanita

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 21  Syawal 1436 H / 6 Agustus 2015 M
📝 Materi Tematik
▶ Dahsyatnya Fitnah Wanita
⬇ Download Audio
https://drive.google.com/open?id=0B1e0BM9z9hzYSm9EcGx1eG9PWXM
📺 Video Source

DAHSYATNYA FITNAH WANITA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه و من واله

Sesungguhnya wanita merupakan fitnah terbesar bagi kaum laki-laki.

Bukti yang nyata, kita lihat di zaman sekarang betapa banyak lelaki yang begitu mudah tergoda dengan para wanita. Dan syaithan benar-benar menjadikan para wanita sebagai sarana untuk menjerat kaum lelaki.
Terjadilah banyak perzinahan dan hubungan gelap yang diharamkan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Dan hal ini telah diingatkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari dahulu. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَاتَّقُوا الدُّنْيَا, وَاتَّقُوا النِّسَاءَ, فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ, كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Takutlah kalian kepada dunia dan takutlah kalian kepada wanita.”
(HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudriy)

Kita tahu bahwasanya fitnah wanita merupakan bagian dari fitnah dunia.

Akan tetapi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengkhususkan penyebutan fitnah wanita.

Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan kenapa mengkhususkan penyebutan fitnah wanita.

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah karena wanita.”
(HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudriy)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidak pernah aku tinggalkan suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi para lelaki yang lebih dari fitnah wanita.”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid)

Sungguh fitnah wanita adalah fitnah yang paling berbahaya bagi kaum lelaki.

Bahwasanya lelaki diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā memiliki hasrat kepada wanita, tunduk kepada wanita.

Sampai-sampai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

المرأةُ عَوْرةٌ، فإذا خَرَجَت استَشْرَفَها الشَيطانُ

“Sesungguhnya wanita itu ‘aurat dan jika dia keluar dari rumahnya maka syaithan sudah mengincarnya.” (HR. Tirmidzi)

Kenapa syaithan mengincarnya?
Karena syaithan ingin menjadikan para wanita sebagai sarana untuk menjebak para lelaki, untuk menjauhkan para lelaki dari agama mereka.

Dijadikanlah para wanita:

√ senang berhias
√ mengumbar aurat mereka
√ sebagai hiasan dimana-mana
√ wanita menjadi pajangan

Itu kenyataan yang kita lihat dimana-mana.

Karena memang suatu pemandangan yang sangat dicintai para lelaki.

Syaithan mengerti hal ini. Dan syaithan menjadikan wanita sebagai sarana yang sangat mudah untuk menjerumuskan para lelaki.

Terlebih lagi, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam haditsnya:

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ  

“Aku tidak pernah melihat makhluq yang kurang akalnya dan kurang agamanya namun lebih mampu menundukkan seorang lelaki yang tegas, seperti kalian, wahai para wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Benar, wanita makhluq yang lemah akan tetapi dengan kelemahannya tersebut, dengan manjanya tersebut bisa begitu mudah menjatuhkan seorang laki-laki yang tegas.

Karena memang wanita merupakan fitnah terbesar bagi para lelaki.
Oleh karenanya, ini nasihat bagi para wanita dan juga para lelaki.

Para wanita jangan sampai jadi bahan dan sarana yang dimanfaatkan oleh iblis dan syaithan untuk menggoda para lelaki.

Dan para lelakipun harus berhati-hati, jangan terpengaruh dan jangan terjebak pada jebakan-jebakan iblis yang telah menjadikan para wanita sebagai fitnah.

Sungguh, Allāh Subhānahu wa Ta’ālā telah menyebutkan contoh yang sangat luar biasa yang Allāh abadikan dalam Alqurān tentang kisah Nabiyullāh Yusuf ‘alayhissalām yang tegar dihadapan fitnah wanita.

Yang Allāh Subhānahu wa Ta’ālā menjadikan kisah ini sebagai contoh nyata yang pernah dialami Nabi Yusuf ‘alayhissalām.

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ (يوسف ٢٣)َ

“Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal dirumahnya menggoda dirinya.
Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’
Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allāh, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik’.” (QS. Yusuf: 23)

Maka wanita permaisuri itupun mulai merayu Nabi Yusuf untuk berzina.

Kemudian dia menutup pintu-pintu yang ada agar tidak ada yang melihat mereka tatkala berzina.

Kemudian sang wanita berkata,
“Kemarilah engkau, mari kita melakukan perzinahan.”

Akan tetapi Nabi Yusuf ‘alaihissalām dengan begitu tegarnya bisa melepaskan dirinya dari fitnah wanita permaisuri yang sangat cantik jelita tersebut.

Al-Imam Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Al-Jawābul Kāfi dan juga Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di di dalam tafsirnya menyebutkan beberapa ujian yang sangat berat yang dialami Nabi Yusuf tatkala berhadapan dengan rayuan permaisuri tersebut.

Diantaranya:

Nabi Yusuf ‘alayhissalām adalah lelaki yang gharib (asing).
Asalnya beliau tinggal di Palestina kemudian berpindah ke negeri Mesir.

Dan kita tahu bahwasanya lelaki yang asing kalau hendak bermaksiat di negeri orang lebih berani daripada bermaksiat di kampung sendiri.

Adapun kalau bermaksiat dikampung sendiri dia akan malu jika ketahuan, malu juga bagi keluarganya dan kerabatnya.

Nabi Yusuf masih sangat muda tatkala itu.
Kita tahu besarnya gejolak syahwat seorang yang masih muda.

Yang merayu adalah sang wanita terlebih dahulu.
Lelaki terkadang malu merayu sang wanita tetapi tatkala wanita yang mulai merayu maka mudahlah tersungkur seorang lelaki.

Siapa wanita yang merayu Nabi Yusuf ini? Adalah wanita yang sangat cantik jelita, seorang permaisuri raja.
Selain cantik, dia juga telah menghias dirinya, sehingga kecantikan di atas kecantikan.

Ini ujian yang luar biasa.

Sang wanita telah mengunci seluruh pintu, tidak ada yang melihat.
Dan kita tahu bagaimana kondisinya jika seorang hendak bermaksiat dan tidak ada yang melihat.

Dia akan lebih mudah bermaksiat karena tidak malu, karena tidak ada yang melihat dia.

Ini ujian-ujian berat yang dialami Nabi Yusuf ‘alayhissalām.
Akan tetapi Nabiyullāh Yusuf ‘alayhissalām tegar dalam menghadapi ujian tersebut. Kenapa?

Karena dia takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. Kata Allāh Subhānahu wa Ta’ālā:
إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ (يوسف ٢٤)

“Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.”(QS. Yusuf: 24)

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā menyelamatkan Nabi Yusuf ‘alayhissalām karena Nabi Yusuf ‘alayhissalām adalah orang-orang yang ikhlash.

Dan Nabi Yusuf pun segera lari meninggalkan tempat tersebut.

Tidak ada yang menjamin Nabi Yusuf ‘alayhissalām akan tegar terus dihadapan maksiat tersebut, maka dia segera meninggalkan tempat maksiat tadi.

Oleh karenanya, jika anda dihadapkan pada fitnah wanita, jika anda dirayu oleh seorang wanita yang cantik jelita dan kaya raya, ingatlah bagaimana Nabi Yusuf ‘alayhissalām digoda dengan godaan yang lebih berat dari yang anda hadapi.

Akan tetapi karena Nabi Yusuf berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dan mengingat keagungan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dan takut akan adzab Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, maka dia meninggalkan tempat maksiat tersebut.

Dia meninggalkan rayuan wanita tersebut.

Hendaknya kita ingat akan hari akhirat bahwasanya kenikmatan yang kita dapatkan dengan cara yang haram, dengan berhubungan yang tidak benar dengan wanita yang tidak halal bagi kita, maka ingatlah bahwa kita hanya mendapatkan nikmat sesaat.

Setelah itu kita akan mendapatkan siksaan yang terus menerus, yang pedih yang akan dirasakan oleh seseorang yang bermaksiat kepada Allāh, yang melakukan perzinaan, yang melakukan hubungan gelap dengan wanita yang tidak halal baginya.

Allāh mengancam mereka (orang-orang yang berzina) di akhirat kelak, mereka akan diadzab di alam kubur sebelum diadzab di neraka Jahannam.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’ālā menjauhkan kita dari fitnah wanita.

Dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’ālā menegarkan iman kita tatkala kita dihadapkan dengan rayuan dan godaan wanita yang tidak halal bagi kita.

Wahai para wanita, janganlah anda mau dimanfaatkan oleh iblis, jangan anda mau dijadikan perangkap iblis untuk menjerat para kaum lelaki.

Ingatlah setiap aurat yang anda buka yang dilihat oleh para lelaki akan dicatat oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dan akan menambah beratnya adzab anda pada hari kiamat kelak.

Semakin banyak mata yang melihat aurat yang anda umbar maka semakin berat pula adzab yang anda rasakan di akhirat kelak.

Oleh karenanya, begitu mengerikan bagaimana kondisi para artis, para wanita yang menjadi bintang iklan, yang mengumbar aurat mereka, terpajang ditelevisi dan iklan-iklan yang dilihat oleh jutaan orang.

Maka sungguh pedih adzab yang akan mereka rasakan jika mereka tidak bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Setiap mata yang menikmati aurat yang terumbarkan tersebut akan memperberat adzab anda di hari kiamat kelak.

Kemudian wahai para lelaki, jauhkanlah diri anda dari fitnah wanita.

Tundukkanlah pandanganmu karena Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Ingatlah bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’ālā:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ (غافر ١٩)

“Dia mengetahui (pandangan) Mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS. Ghafir: 16)

Mengetahui pengkhianatan pandangan mata anda meskipun tidak ada yang melihatnya.

Tatkala anda melirik wanita yang tidak halal bagi anda maka ketahuilah bahwa akan dicatat oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Kemudian jauhilah tempat-tempat maksiat, jangan menjebakkan diri anda dalam tempat-tempat bermaksiat.

Sungguh fitnah wanita bukan fitnah yang ringan, tapi fitnah yang luar biasa, fitnah terbesar bagi kaum lelaki.

Dan sekali lagi ingatlah, kalau anda telah terjebak dalam fitnah wanita, kemudian anda merasakan sedikit kenikmatan/kelezatan, dibalik kelezatan tersebut akan ada adzab yang pedih yang berkepanjangan di alam kubur sebelum di akhirat kelak.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’ālā menegarkan iman kita untuk tegar tatkala diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, tatkala dihadapkan dengan fitnah wanita sehingga kita bisa selamat dari fitnah wanita.

Dan semuanya tidak akan bisa kita lakukan kecuali jika kita berdo’a dan mendapat taufiq dari Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

والله تعالى أعلم.
و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم.
و السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

✒Tim Transkrip Materi BiAS
____________________________

BiAS (3): Akhlaq Mulia Seorang Muslim

Rabu, 20 Syawwal 1436 H / 5 Agustus 2015 M
📝 Materi Tematik
▶ Akhlaq Mulia Seorang Muslim
⬇ Download Audio
https://www.dropbox.com/s/ji35qq6tw6eawox/AUD-20150805-WA0003.mp3?dl=0
📺 Video Source

—————

AKHLAQ MULIA SEORANG MUSLIM

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Seorang yang cerdas adalah seorang yang berusaha mencari amalan-amalan yang pahalanya besar.

Karena kita sadar bahwasanya umur kita tidak lama, kemampuan kita beramalpun tidak selamanya kuat.

Oleh karenanya para shahabat terdahulu selalu bertanya kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟

“Amalan mana yang paling afdhal, ya Rasūlullāh?”

Diantara amalan yang afdhal yang hendaknya kita lakukan adalah berakhlaq mulia.

Berakhlaq mulia adalah amalan yang sangat luar biasa.
Dalam hadits, kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لَيْسَ شيْءٌ أَثْقَلُ في مِيزَانِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

“Tidak ada amalan yang paling berat timbangannya di akhirat kelak seperti akhlaq yang mulia.”

Ini menunjukkan bahwasanya akhlaq yang mulia jika diletakkan ditimbangan di akhirat kelak sangat berat.

Kemudian juga Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam haditsnya pernah berkata:

إنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

“Sesunguhnya seseorang dengan akhlaqnya yang mulia bisa meraih derajat orang yang senantiasa puasa sunnah dan senantiasa shalat malam.”

• Orang ini, mungkin jarang shalat malam
• Orang ini, mungkin bahkan tidak shalat malam
• Orang ini, mungkin tidak puasa sunnah.

Akan tetapi, karena akhlaqnya mulia maka dia bisa mencapai derajat orang-orang yang senantiasa shalat malam dan senantiasa puasa sunnah.

Karenanya, kita berusaha menghiasi diri kita dengan akhlaq yang mulia.

Dalam hadits, kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

أنا زَعِيمٌ ببيتٍ في أعْلَى الجنَّةِ لمنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin istana di atas surga bagi orang yang memperindah akhlaqnya.”

Akhlaq bisa diperindah.

Rasūlullāh mengatakan bahwa beliau menjamin istana di surga yang paling tinggi bagi orang yang memperindah akhlaqnya.

Contoh nyata dari praktek akhlaq yang mulia sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Perhatikan!
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَقْرَبَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاقًا        

“Orang yang paling dekat dengan aku pada hari kiamat kelak (tentunya disurga) yaitu orang yang paling baik akhlaqnya.”

Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan, siapa orang yang paling baik akhlaqnya.

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
الْمُوَطَّئُونَ أَكْنَافًا ، الَّذِينَ يَأْلَفُونَ وَيُؤْلَفُونَ ،

“Yaitu orang-orang yang membentangkan tangan-tangan mereka yaitu orang-orang yang mudah untuk bergaul dan mudah untuk diajak bergaul.”

Ternyata di antara akhlaq yang mulia adalah mudah untuk bergaul dan mudah untuk diajak bergaul.
َلا خَيْرَ فِيمَنْ لا يَأْلَفُ وَلا يُؤْلَفُ

“Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa bergaul dan tidak bisa diajak bergaul.”

Lantas bagaimana kita bisa mudah bergaul?
Tentunya jika kita:
• murah senyum
• ramah tamah
• tidak sombong
• tidak angkuh
• menghargai oranglain

Ini agar kita bisa mudah bergaul, agar orang tertarik dengan kita.

Terutama tatkala kita ingin berdakwah. Kita ingin masyrakat menerima dakwah kita.
Bagaimana caranya agar mereka mau bergaul dengan kita?
Agar kita mudah bergaul dengan mereka?

Maka janganlah kita menjadikan kita seakan-akan eksklusif yang membuat orang seakan-akan enggan untuk dekat dengan kita.

Maka nashihat saya kepada para ikhwan sekalian…
Bagi anda yang berpenampilan islami, dengan jenggot yang panjang…
Jadilah anda lebih manis dengan jenggot anda…
Murah senyum…

Orang akan semakin tertarik tatkala melihat anda manis dengan jenggot anda…

Bukan sebaliknya,
Semakin sangar…
Semakin dijauhi orang…
Semakin ditakuti oleh orang…

Ini cara yang keliru.

Demikian juga ukhti muslimah, saudariku…
Tatkala anda memakaijilbab…
Tatkala anda memakai cadar…
Jadilah anda sebagai seorang wanita yang ramah…
Jika melewati oranglain maka tegur…
Jika melewati ibu-ibu yang tidak berjilbab maka salami… tegurlah dia…

Tunjukkanlah bahwasanya wanita yang berjilbab dan bercadar adalah seorang wanita yang rahmat…
Seorang wanita yang mudah untuk beramah tamah dengan oranglain…

Bukan tampilan seorang yang eksklusif, yang jika melewati oranglain cuek, tidak menegur, sehingga terkesan seakan-akan merendahkan, seakan-akan menghinakan.

Dan saya ingatkan, hati-hati jangan sampai seorang menjadi sebaliknya!
Yaitu orang yang paling hina di hadapan Allāh pada hari kiamat kelak.

Siapakah orang tersebut?
Orang tersebut adalah orang yang dijauhi oleh masyarakat, tidak ingin didekati oleh masyarakat.

Kenapa?
Karena:
• lisannya yang kotor
• tidak menghargai orang lain
• suka menghina orang lain

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ الله يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

“Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya dihari kiamat kelak adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia (masyarakat) karena mereka tidak ingin disakiti oleh lisannya yang kotor.”

Dalam riwayat lain اتِّقَاءَ شَرِّهِ.
Karena manusia ingin menjauh dari keburukannya.

Karenanya, manislah anda dengan jenggot anda, dan indahlah anti dengan jilbab dan cadar anti dihadapan masyarakat.

والحمد للّه رب العلمين
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته.
✒Tim Transkrip Materi BiAS
______________________________

BiAS (2): Bahagianya Orang yg Ikhlas

Selasa, 19 Syawwal 1436 H / 4 Agustus 2015 M
👤 Ustadz Firanda Andirja,  MA
📝 Materi Tematik
▶ Bahagianya Orang Yang Ikhlas
📺 Video Source

⬇ Download Audio
https://www.dropbox.com/s/5p71or7abmnppy5/AUD-20150121-WA0031.mp3?dl=0
—————————-

BAHAGIANYA ORANG YANG IKHLASH

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Alhamdulillāh washshalātu wassalāmu ’ala Rasūlillāh.

Sesungguhnya orang yang paling berbahagia adalah orang yang paling ikhlash. Semakin dia meningkatkan keikhlasannya maka dia akan semakin berbahagia.

Bagaimana dia tidak berbahagia?

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā mengetahui kebaikannya, Allāh mengetahui amalannya dan dia menyerahkan ibadahnya semata-mata hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Seseorang di atas muka bumi ini bahagia kalau dia bisa dikenal oleh orang yang mulia, dikenal oleh pejabat. Apalagi dia dikenal oleh misalnya bupati, apalagi dikenal oleh presiden misalnya. Dia bahagia, presiden mengenalnya.

Lantas bagaimana jika yang mengenalnya adalah Rabbul ‘ālamīn, Pencipta dan Penguasa alam semesta ini? Yang jika menghendaki sesuatu hanya mengatakan, “Kun, fayakun”.

Orang yang ikhlash adalah orang yang paling bahagia .

Suatu saat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah berkata kepada Ubay bin Ka’ab, Abu Mundzir radhiallāhu ‘anhu, kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

يَا أُبَيٍّ إِنَّ الله أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ القرآن

“Wahai Ubay, sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’ālā memerintahkan aku untuk membacakan Al Qur’an kepadamu.”

Maka Ubay berkata:

هَلْ سَمَّانِي لك

“Rasūlullāh, apakah Allāh menyebutkan namaku kepadamu?”

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

سَمَّاكَ لي

“Ya, Allāh Subhānahu wa Ta’ālā telah menyebut namamu dihadapanku.”

فَجَعَلَ أُبَيٌّ يَبْكِي

Maka Ubay bin Ka’ab pun menangis.

Kenapa? Ubay menangis karena sangat gembira.

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā mengenalnya, Allāh menyebut namanya.

Orang yang ikhlash, dia tahu bahwasannya Allāh mengetahui amal ibadahnya. Meskipun mungkin orang lain tidak ada yang melihatnya.

Mungkin orang lain tidak mempedulikannya, mungkin orang lain merendahkannya, tapi dia tahu dan yakin, bahwasannya apa yang dia lakukan, kebaikan yang dia lakukan diketahui oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Oleh karena itu, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullāh dalam kitabnya “Al Wasaail Al Mufidah Lil Hayati Sa’iidah” (Kiat-kiat Untuk Meraih Kabahagiaan), beliau menyebutkan:

:idea:“Di antara hal yang bisa mendatangkan kebahagian yaitu seseorang tatkala sedang berbuat baik kepada orang lain, jangan dia menganggap sedang bermuamalah dengan orang tersebut, tetapi sedang bermuamalah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā”.

Tatkala dia memberikan sumbangan kepada orang lain, tatkala dia memberikan bantuan uang kepada orang lain, dia ingat bahwasannya sekarang ini sedang bermuamalah dengan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, Allāh sedang melihat dia memberi sumbangan.

Muamalah dia bukan dengan orang yang dia bantu, tapi muamalah dia dengan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.
Sehingga jika perkaranya demikian, yang dia harapkan hanyalah pujian Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, yang dia harapkan Allāh mengetahui siapa dirinya.

Semakin dia ikhlash, semakin tidak ada orang yang mengetahui amalannya, Allāh akan semakin mengetahui dia, Allāh akan semakin mengenalnya, Allāh akan semakin mencintainya.

Oleh karenanya dia tidak peduli dengan komentar orang-orang yang dia bantu, dia tidak perlu dengan komentar orang lain.

Dan syi’arnya sebagaimana orang-orang yang bertakwa yang Allāh sebutkan dalam Al Qur’an:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ الله لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Kami memberi makan kepada kalian karena Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, muamalah kami dengan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, bukan dengan kalian. Kami tidak butuh dari kalian terima kasih dan kami tidak butuh dari kalian balasan.” (QS: Al-Insaan: 9)

Inilah orang yang paling ikhlash, orang yang paling bahagia.

Adapun orang yang tidak ikhlash, dia senantiasa sibuk mendengar komentar orang lain tentang bagaimana amalan dia. Apakah dia dipuji, apakah dia dicela.

Tapi orang ikhlash, dia tidak peduli dengan perkataan orang lain, yang penting dia baik di hadapan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Dia tahu bahwasanya pujian manusia tidak akan meninggikan derajatnya dan dia tahu bahwa celaan manusia pun tidak akan merendahkan derajatnya, yang penting dia baik di hadapan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Benar-benar konsentrasi dia, bawasannya dia bermuamalah dengan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Karenanya, para pemirsa yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, diantara 7 golongan yang akan Allāh naungi pada dihari kiamat kelak, ada dua orang yang ikhlas yang Allāh menyebutkan atau Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebutkan tentang ciri khusus mereka itu ikhlas.

1⃣ Yang pertama, kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِ يَمِينِهِ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“Seseorang yang dia berinfaq dengan tangan kanannya kemudian dia sembunyikan sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan olah tangan kanannya”.

Dia bahagia tatkala dia tahu bahwasanya hanya Allāh yang mengetahui amalan dia. Dia tidak perdulikan komentar orang lain, bahkan dia sengaja menyembunyikan amalannya, agar yang mengetahui hanyalah Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. Dia tidak butuh pujian orang lain.

2⃣ Yang kedua, kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diantaranya.

رَجُلٌ ذَكَرَ الله خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Seseorang yang tatkala dia mengingat Allāh dalam bersendirian, maka kemudian matanya mengalirkan air mata”

Orang ini, dia bersendirian dan dia begitu merasakan kelezatan tatkala mengingat Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, tatkala mengagungkan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Dia seakan-akan sedang berbicara langsung dengan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, sehingga diapun menangis meskipun tidak ada yang melihat dia, mengeluarkan air mata kebahagiaan.

Kenapa?

Allāh mengetahui tangisan dia, Allāh mengetahui dia mengagungkan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

👥 Bahkan diantara tafsiran para ulama: “Demikian pula seseorang yang tatkala dihadapan orang banyak, namun saking ikhlasnya, dia bisa mengkondisikan dirinya seakan-akan dia sedang sendirian.

Kenapa? Karena dia tidak mempedulikan komentar orang lain.

Sehingga dia tetap menangis meskipun dihadapan banyak orang. Dia yakin sedang bermuamalah dengan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. Sehingga meskipun dihadapan banyak orang, dia tetap menangis karena mengagungkan keagungan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Para pamirsa yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, anda akan bahagia jika anda mengikhlashkan amalan ibadah anda hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Adapun jika anda kemudian sibuk dengan komentar orang lain, sibuk dengan pujian orang lain atau sibuk dengan cercaan orang lain terhadap anda, maka anda tidak akan pernah bahagia.

Karena tidak mungkin ada seorangpun yang akan dipuji oleh semua orang, tidak mungkin, mustahil.

Betapapun baiknya anda, pasti ada yang memuji dan pasti ada yang mencela.

Kalau Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, Rabbul ‘ālamīn, Pencipta alam semesta ini tidak selamat dari celaan ciptaan-Nya, ciptaan makhluknya, seperti orang-orang yahudi mengatakan bahwasanya,

يَدُ الله مَغْلُولَةٌ

“Tangan Allāh terbelenggu,”

Mereka mengatakan:

إِنَّ الله فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ

“Sesungguhnya Allāh miskin dan kamilah yang kaya.”

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā tidak selamat dari cercaan makhluknya.
Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang memiliki akhlak super mulia pun tidak selamat dari cercaan kaumnya.

Bagaimana dengan kita?
Bagaimana dengan anda?

Tentunya mengharapkan keridhaan seluruh manusia adalah sesuatu yang mustahil, sebagaimana perkataan Imam Syāfi’iy rahimahullāh:

رضا الناس غاية لا تدرك

“Bahwasanya mencari keridhaan manusia adalah suatu hal yang mustahil (tujuan yang mustahil) untuk diraih”.

Karenanya, ikatkan hati anda hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Yakinlah bahwasanya anda sedang bermuamalah dengan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, maka anda akan bahagia karena Allāh yang akan membahagiakan anda dan anda tidak akan memperdulikan komentar manusia.

Wallāhu Ta’ālā A’lam bish-shawāb.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُه

✒Tim Transkrip Materi BiAS
__________________________

BiAS (1): Keutamaan Silaturrahim

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 18 Syawwal 1436 H / 3 Agustus 2015 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Al-Birru (Kebaikan) Wa Ash-Shilah (Silaturahim)
🔊 Hadits ke-1 | Keutamaan Silaturahim (bagian 3)
____________________

KEUTAMAAN SILATURAHIM

Bismillahirrahmanirrahim,
Washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah,

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta’ala, kita memasuki bagian ke 3 dari pembahasan keutamaan silaturahim.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (أخرجه البخاري)

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu berkata: Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Barangsiapa senang untuk dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antar kerabat).”
(HR. Bukhari)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hadits ini merupakan hadits yang agung yang memotifasi kita untuk menyambung silaturahim.

Ada sebagian amal sholeh yang Allāh tidak hanya memberikan ganjaran di akhirat tetapi juga duniawi, contohnya adalah menyambung silarurahim.

Ganjaran di dunia yang Allāh siapkan bagi orang yang menyambung silaturhim dalam hadits ini yaitu dilapangkan rizikinya dan dipanjangkan umurnya.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya dia menyambung silaturahim.”

Ini adalah motifasi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu dengan mengiming-imingi ganjaran duniawi.

Oleh karenanya pendapat yang rajih di antara pendapat para ulama, bahwasanya barang siapa beramal sholeh ikhlas karena Allāh Subhanahu wa Ta’ala, tidak mengharap pujian manusia, tidak riya’ kemudian dalam niatnya disertai dengan ingin mendapatkan ganjaran duniawi yang diizinkan oleh syari’at, maka maka hal itu tidak mengapa.

Karena Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang mengiming-imingi dengan mengatakan, “Barang siapa yang mau,” yang artinya: barang siapa yang berminat dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya,maka hendaknya menyambung silaturahim.

Ikwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta’ala,

Makna dari dilapangkan rizki dan dipanjangkan umur secara umum ada 2 pendapat di kalangan para ulama.

Pendapat pertama:

Menyatakan makna majasi, kiasan, karena rizki sudah tercatat dan juga umur tidak mungkin di ubah-ubah lagi.

Oleh karenanya maksud dilapangkan rizki adalah rizkinya diberkahi Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Meskipun rizkinya tidak berubah namun Allāh kasih keberkahan dengan banyaknya manfaat, membawa faidah, digunakan untuk beramal sholih, untuk hal-hal yang di cintai oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Demkian juga dengan maksud dari dipanjangakan umur, artinya umurnya tidak berubah, sessuai dengan yang ditakdirkan.

Akan tetapi Allāh berkahi umurnya, sehingga umurnya bisa dia gunakan untuk banyak kebaikkan, banyak beribadah atau dihindarkan dari sakit yang menggangu keberkahan umurnya sehingga waktunya benar-benar bermanfaat, seakan-akan umurnya panjang.

Karena pernah kita dapati seorang memiliki umur yang panjang namun tidak bermanfaat atau yang bermanfaat hanya sedikit dari umurnya atau sebagian umurnya hilang sia-sia.

Pendapat yang kedua:

Dibawakan  kepada makna yang hakiki, yaitu benar-benar dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rizkinya.

Kita tahu bahwasanya Allāh Subhanahu wa Ta’ala bisa merubah takdir yang berada di tangan para malaikat sebagaimana firman Allāh Subhanahu wa Ta’ala:
يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ

“Allāh menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”
(QS: Ar-Ra’d Ayat: 39)

Jadi, malaikat mungkin diperintahkan oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala untuk mencatat umur hamba, misalnya umurnya 60 tahun, kemudian karena hamba ini bersilaturahim maka Allāh Subhanahu wa Ta’ala menyuruh mencatat umurnya menjadi 70 tahun, yang perubaham ini, yaitu  dari 60 menjadi 70, semua sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh.

Tidak ada perubahan di Lauhul Mahfuzh.

Allāh mengatakan, “Dan di sisi Allāh ada Ummul Kitab,” dan di Ummul Kitab tidak berubah,

Seakan -akan tertulis di Lauhul Mahfuzh dicatat oleh malaikat awalnya 60 th kemudian karena dia beramal sholih maka Allāh perintahkan menjadi 70 th.

Demikian juag dengan rizki, yang tadinya dicatat tertentu oleh malaikat dan karena dia bersilaturahim maka ditambah rizkinya oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala, dan semuanya telah tercatat  Lauhul Mahfuzh.

Dan Wallahu A’lam bi Showab, saya lebih condong dengan pendapat yang kedua.

Karena kenyataan yang ada silatiurahim benar-benar merupakan sebab dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki.

Betapa banyak orang yang menyambung silaturahim kemnudian rizkinya ditambah-tamba oleh Allāh  Subhanahu wa Ta’ala, berapa banyak orang yang menyambung silaturahim umurnya ditambah, misalnya dijauhkan dari sakit.

Mungkin harusnya dia celaka tapi dihindarkan dari kecelakaan oleh Allāh  Subhanahu wa Ta’ala sehingga bertambah umurnya.

Semoga Allāh  Subhanahu wa Ta’ala memberkahi harta kita dan umur kita dan semoga Allāh memudahkan kita untuk bersilaturahmi.

Ditranskrip oleh:
Tim Transkrip BiAS
➖➖➖➖➖➖➖➖