#asmarandana

Filosofi Asmarandana

Sore ini menerima sebuah undangan pernikahan. Ada yang sedikit berbeda dan menarik perhatian saya pada undangan kali ini. Kalau biasanya undangan hanya diiringi dengan kutipan dari ayat suci Al Quran/Al Kitab, atau kutipan puisi-puisi romansa, undangan kali ini ada kutipan dari syair macapat “Asmarandhana”. Sekali baca, saya jatuh cinta dengan liriknya. Sederhana, singkat, tetapi terasa mendalam dan mengena. Begini bunyinya:

“Gegaraning wong akrami
Dudu bandha dudu rupa
Amung ati pawitane
Luput pisan kena pisan
Yen gampang luwih gampang
Yen angel, angel kalangkung
Tan kena tinumbas arta”

Terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia:
“Modal utama orang membangun rumah tangga
Bukan harta bukan rupa
Hanya hati bekalnya
Gagal sekali, berhasil juga sekali
Jika mudah maka terasa sangat mudah
Jika susah maka terasa sangat susah
Tidak bisa dibeli dengan uang”

Kalau ditelaah lebih dalam lagi. Pesan dari tembang ini sungguh mendalam.
Bahwa sebenarnya bekal utama orang berumah tangga adalah hati. Hati yang dimaksudkan di sini bukanlah hanya sekedar rasa cinta, tetapi lebih dari itu. Bahwa sebelum memulai berumah tangga maka hati harus bersih, diiringi dengan niat yang tulus, visi yang jelas, dan tekad yang kuat. Jangan sampai seseorang memutuskan menikah hanya karena alasan harta ataupun rupa/fisik semata.

Aih, tiba-tiba saya jatuh cinta dengan syair ini! ^_^

Salam,
Galuh Nindya