#anak

Tantangan Mendidik Anak di Era Digital – Seminar Parenting Bunda Elly Risman (3)

Alhamdulillah finally saya nulis juga post terakhir saya, menyambung post berseri saya pada Tantangan Mendidik Anak di Era Digital (1) dan Tantangan Mendidik Anak di Era Digital (2) yang telah lalu. Mohon maaafff beribu maaf tertunda lama sekali 😀

Kalau di 2 sesi sebelumnya, Bunda Elly telah memaparkan tentang pengasuhan orangtua dan bahaya serta tantangan yang dihadapi terkait perkembangan era digital, pada sesi terakhir, Bunda Elly memaparkan tentang kiat-kiat apa yg dapat dilakukan oleh para orangtua untuk melindungi, mengantisipasi, serta mengatasi anak-anak terhadap paparan pornografi.

Berhubung seminarnya sudah berlalu lama, saya sudah agak terlupa gambaran persisnya. Jadi mohon maaf, saya akan membagi secara ringkas sesuai dengan catatan saya saja ya… 😀

Ada beberapa pertanyaan apabila anak telah terpapar pornografi:
– Adakah pertanyaan di kepalanya?
– Apakah mereka mau bertanya kepada kedua orangtuanya?
– Kalau pun mereka mau bercerita/bertanya, apakah sang ortu mau & bersedia menjawabnya?

Ayah Bunda sayang, anak itu bukanlah milik kita, melainkan amanah yang dipercayakan Allah pada kita. Bunda Elly mengatakan, mau tak mau, orangtua harus memaksakan/memberanikan diri berdialog dengan anak untuk mengetahui apakah putra/putri tercintanya telah terpapar pornografi. Ayah dan Bunda harus duduk bersama, tak boleh hanya salah satunya saja. Mengapa? Sebab tak ada yang lebih bertanggung jawab pada diri anak selain orangtuanya. Sebab, terapis terbaik bagi anak adalah kedua orangtua tercintanya.

Lantas pertanyaan berikutnya, bagaimana bila Sang Ayah merasa bahwa hal tersebut tak terlalu urgent untuk dilakukan? Berarti para Bunda punya pe er tambahan. Bunda harus bicara dulu dengan suami tercinta mengenai pentingnya hal tersebut. Nah, ternyata nih ibu ibu.. bicara dengan para bapak bapak itu juga ada tipsnya:
1. Pilih waktu. Bunda Elly bilang, waktu yg paling tepat untuk bicara dengan suami tersayang adalah pasca berhubungan suami istri. Mengapa? Sebab otak suami sedang dalam kondisi rileks. 😀
2. Sampaikan isu kritisnya. Misal: “pornografi bahaya, bisa rusak otak anak secara permanen.”
3. Rumuskan dalam 15 kata.
Kaum pria berbeda dengan para ibu ibu. Mereka tak bisa mendengarkan kalimat yang berbelit-belit. Apalagi untuk kalimat-kalimat pembuka. Jadi untuk menarik perhatian dan fokusnya, sampaikan isu kritis (intinya) dalam maksimal 15 kata saja. Bila sang suami telah terlihat benar-benar fokus & tertarik dengan isu yg disampaikan, baru silakan abaikan aturan maksimal 15 kata tersebut. hehehe

Lalu bagaimana mengenali anak yang telah terpapar pornografi? Berikut adalah ciri-ciri anak yang telah kecanduan pornografi:
1. Mudah haus & tenggorokan kering
2. Sering minum
3. Sering buang air kecil
4. Sering berkhayal
5. Bila Anda tegur & batasi bermain gadget, dia marah, melawan, berkata kasar, bahkan keji
6. Mulai impulsif, berbohong, jorok, moody.
7. Malu tidak pada tempatnya
8. Sulit berkkonsentrasi
9. Jika bicara, menghindari kontak mata
10. Menyalahkan orang
11. Secara emosional menutup diri
12. Sering bermain PS & internet dalam waktu yg lama
13. Prestasi akademis menurun
14. Main dengan teman/kelompok yg ‘itu-itu’ saja
15. Berperilaku aneh, seperti kancing baju sampai ke atas, rambut gondrong, dll
16. Hilang empati, yang diminta harus diperoleh.
Kata Bunda Elly, 5 saja ciri-ciri di atas ada pada anak kita, berarti ia telah kecanduan pornografi.

Selanjutnya, apabila suami tercinta sudah sepemahaman, maka silakan Ayah dan Bunda duduk bersama dan berdialog dengan sang anak. Pertanyaan berikutnya, bagaimana memulainya? Berikut saya kutipkan contoh dialognya. Ayah Bunda bisa menyesuaikan bahasanya sesuai dengan bahasa sendiri/kondisi anak agar dialog dapat terjalin senyaman mungkin.

O: orangtua
A: anak

O: Nak, ada 3 hal yang diinginkan oleh pebisnis pornografi. 1). kamu punya perpustakaan porno di otakmu; 2). otakmu rusak; 3). kamu jadi pelanggan mereka seumur hidup. Apa sayang? (minta anak mengulanginya)
A: (anak menjawab/mengulangi)
O: Bunda tanya, 5+5= … (anak menjawab), 10+10= … (anak menjawab), 50-25= … (anak menjawab)
O: Ya, benar..
O: Kenapa kamu bisa jawab cepat nak? Karena kamu sudah diajarin dari kecil, jadi sudah biasa. Itu namanya, di otakmu sudah ada perpustakaan tambah dan kurang di kepalamu. Di kepala kita, ada banyak perpustakaan. Nah, di kepalamu sudah ada perpustakaan porno belum? Kan kamu sudah biasa nonton tv, buka internet, dll.

Jika sudah, silakan lanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kapan pertama kali kamu lihat porno?
2. Gimana caranya?
3. Apa yang kamu rasakan?
4. Apa yang kamu lakukan setelah lihat itu?
5. Berapa lama kemudian kamu melihatnya lagi?
6. Kapan terakhir kali kamu lihat itu?
7. Sekarang apa yang kamu rasakan?
8. Apa kamu merasa perlu bantuan Ayah/Ibu?

Tips menjadi terapis bagi anak:
1. Tenang!
2. Ingatlah bahwa amanah adalah amanah Allah (ingat Q.S. 5:48 & 6:165). Anak bisa jadi permata hati, ujian, dan juga musuh.
3. Takutlah kepada Allah, jangan sampai mengembalikan sang anak dalam keadaan babak belur (rusak mental & otaknya)
4. Hindari marah & panik.
5. Turunkan frekuensi, sesuaikan dengan kondisi anak.
6. Terima: maafkan, minta ampunkan kepada Allah (Q.S. 64:14), maafkan diri sendiri
7. Bermusyawarah (Q.S. 3:159)
8. Perbaiki pola pengasuhan

Bunda Elly menggambarkan cara terapi dengan analogi kantong air. Kondisi dibagi menjadi 2: kantong air yang belum bocor (belum kebocoran pornografi) & kantong air yang sudah bocor.

Kantong air belum bocor:
1. Pelihara kantong anak dari faktor buruk
2. Kuatkan pondasi
3. Isi ‘air baik’ dengan dasar ilmu agama
4. Pantau terus & pelihara

Kantong air sudah bocor:
1. Turunkan ‘air buruk’:
– taubat, memohon ampun pada Allah
– meminta maaf pada anak
2. Tambal yang bolong
3. Gantikan ‘air buruk’ dengan ‘air baik’.
Ayah & Ibu harus kompak dalam pengasuhan anak.

Lantas bagaimana cara memperbaiki pola pengasuhan? Rumuskanlah tujuan pengasuhan:
1. Menjadikan anak sebagai hamba Allah yang bertaqwa (ibadah baik & berakhlaq karimah)
2. Siapkan anak menjadi calon suami/calon istri yang baik
3. Siapkan anak menjadi calon ayah/calon ibu
4. Carikan sekolah untuk dididik menjadi profesional
5. Khusus untuk anak laki-laki: jadikan anak laki-laki sebagai pendidik
6. Khusus untuk anak laki-laki: jadikan anak laki-laki sebagai pengayom
7. Untuk anak laki-laki & perempuan: sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain

8 Hal yang membantu anak:
1. Jangan fokus pada aspek akademis semata
2. Aktif menggunakan teknologi media
3. Komunikasi dan disiplin berbeda
4. Perkuat Allah dalam diri anak. Bicarakan tentang memelihara kesucian sampai menikah
5. Kemampuan berpikir kritis
6. Konsep & harga diri yang baik
7. Mandiri & bertanggung jawab
8. Do’a

Langkah-langkah menjadi terapis bagi anak yang telah terpapar pornografi:
1. Syukur – tempatkan masalahnya
2. Sabar – bersabarlah dalam menghadapi kerusakan otak
3. Shalat – mendekat & memohon pertolongan-Nya
4. Sedekah
5. Baca Al Quran
6. Baik dengan diri sendiri
7. Bantu anak dulu

Bagaimana cara menghadapi anak? – Syarat utamanya adalah: AYAH WAJIB MEMIMPIN DIALOG.
Gunakan pula kekuatan sentuhan kala berdialog dengan anak.
– Cari tahu penyebab anak mulai: games, porno, pacaran
– Selesaikan hal-hal yang menyangkut: emosi & harga diri anak, sehingga kecanduan akan menurun.
– Gunakan jangkar, seperti: “Ilham sayang..”, “Nina permataku..”, “Hafidz buah hatiku..” (bersuaralah dengan hati)
– Harus disampaikan dengan mantap & continue dibicarakan

Cara menghadapi anak:
1. Jelaskan target penyedia pornografi
2. Tanyakan bagaimana pendapatnya – pahamkan bagaimana hukum agama & konsekuensinya
3. Susun langkah yang akan dilakukan bersama.
– alternatif kegiatan untuk anak. misal: olahraga, kreatifitas, dll
– buat jadwal. misal: badminton, dll
4. Anak diminta untuk membuat daftar/list: siapa saja yang pernah ‘dikerjain’. ex: digoda, dicium, dll – anak harus meminta maaf.

Jadiii Ayah Bunda tercinta, kala seminar kemarin, Bunda Elly juga menyebutkan tentang program “Pulangkan Ayah ke Rumah!”. Maksudnya adalah, peran Ayah juga diperlukan dalam pengasuhan anak. Kurangnya peran Ayah akan menimbulkan dampak tertentu bagi putra putri tercinta. Bagi anak laki-laki, dapat menyebabkan anak menjadi nakal, agresif, terlibat narkoba, atau bahkan seks bebas. Sedangkan bagi anak perempuan, dapat menyebabkan depresi atau terlibat seks bebas, atau bahkan hal-hal lainnya.

Katanya,
“Ayah sayang, matikan HP sejenak, banyak-banyaklah ngobrol dengan anak. Pekerjaan ada batasnya, apalagi jabatan. Luangkan waktu berhargamu untuk putra putri tercinta.”
*please kindly read: Vitamin A(yah) untuk Anak Kita

Oya, Bunda Elly juga menyebutkan aplikasi/situs pemblokir mudah & gratis yang dapat Ayah Bunda gunakan untuk memproteksi anak:
1. kakatu (aplikasi android)
2. http://www.k9webprotection.com
3. http://www.esrb.org
4. untuk di windows xp:
– pilih control panel di start menu
– klik network connections yg ada di control panel
– pilih koneksi yg ada dr jendela work connection
– klik tombol properties
– pilih internet protocol (TCP/IP) & klik properties
– klik radio button pada use the following DNS server addresses & ketiklah alamat DNS Nawala pd kolom Preferred DNS server & Alternate DNS server (alamat DNS Nawala 180.131.144.144 dan 180.131.145.145)
– klik ok

Demikian sharing saya, Ayah Bunda & calon Ayah Bunda.. Semoga bermanfaat 🙂

Salam,
Galuh Nindya

Vitamin A(yah) untuk Anak Kita

Tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak kita saat ini membutuhkan vitamin A (Ayah) yang memiliki peranan sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Ayah…
Engkaulah nahkoda, penentu Garis Besar Haluan Keluarga. Engkau yang menentukan ke mana keluarga kita akan kau bawa
Engkau bukan hanya pencari rizki yang penuh berkat, yang menyediakan makanan lezat dan pakaian yang hangat, serta rumah dan isinya yang tak mudah berkarat. Bagi kami, engkau adalah pembimbing anak dan istri yang hebat.

Ayah…
Engkau adalah pembuat kebijakan dan peraturan. Engkau pula yang menentukan standar keberhasilan.

Ayah…
Engkau senantiasa melakukan pemantauan dan perawatan terhadap kami, dan harta benda yang engkau titipkan.

Ayah…
Luangkan waktumu lebih banyak lagi ya..
Obrolan sederhana yang engkau bangun dengan anak kita, membuat ia menjadi anak yang:
– Tumbuh menjadi orang dewasa yang suka menghibur
– Punya harga diri tinggi
– Prestasi akademis di atas rata-rata, dan
– Lebih pandai bergaul

Ayah lain yang kurang ngobrol dan bercengkerama dengan anak, ternyata menyebabkan anak perempuannya:
– Cenderung mudah jatuh cinta dan mencari penerimaan dari laki-laki lain
– 7-8 kali lebih mungkin memiliki anak di luar pernikahan
– Cenderung suka lelaki yang jauh lebih tua, dan
– Cenderung lebih mudah bercerai
dan ternyata, ini berlaku pada anak perempuan dari latar belakang sosial ekonomi manapun.

Sedangkan anak laki-laki yang jarang diajak ngobrol ayahnya,
– Lebih beresiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal
– Cenderung lebih cepat puber di usia yang lebih muda
– Cenderung bergabung dengan gang, dan
– Cenderung menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasa

Ciri anak yang kekurangan vitamin A adalah lebih rentan terhadap peer pressure/tekanan lingkungan sebayanya.

Ayah…
Ingat yuk peran kita sebagai orangtua;
Anak itu AMANAH;
Kita mendapatkan tugas dari Allah untuk mengasuh dan membesarkan anak dengan baik dan benar.
Sebab itu, butuh perjuangan (pikir, rasa, jiwa, tenaga, waktu, dan biaya)

Ayah…
Yuk pimpin keluarga dengan membuat Visi Pengasuhan bersama Ibu.
Visi membuat ayah dan ibu lebih mudah mengayuh bahtera keluarga bersama-sama.

Keluarga Nabi Ibrahim, a.s. mempunyai misi (Q.S. Ibrahim: 35-37):
– Penyelamatan aqidah
– Pembiasaan ibadah
– Pembentukan akhlaqul karimah
– Pengajaran lifeskill (entrepeneur)

Sedangkan Visi Keluarga Imran (Q.S. Ali Imran: 35), yakni menciptakan hamba Allah yang taat.

Ayah…
Mari terus perbaiki pola pengasuhan selama ini.
Anak kita perlu mendapat validasi dari kita agar ia tidak perlu mencari dari orang lain.
Ia membutuhkan 3P:
– Penerimaan
– Penghargaan
– Pujian

Ayah…
Mari kita bedakan pola pengasuhan anak laki-laki dan anak perempuan kita, sebab:
– Otak mereka berbeda
– Tugas dan tanggung jawab mereka kelak saat dewasa juga akan berbeda
– Sehingga, tujuan pengasuhannya pun berbeda. Anak laki-laki kita kelak akan mengemban tanggung jawab yang lebih besar daripada anak perempuan kita. Selain menjadi hamba Allah yang bertaqwa dan berperan di masyarakat, anak laki-laki kita kelak akan menjadi pendidikan dan pengayom keluarga.

Ayah…
Penting sekali vitamin A bagi anak;
Bukan hanya meluangkan ‘waktu lebih’, tapi kuantitas dan kualitas berjalan seimbang.
Tidak hanya terlibat secara fisik, tapi melakukan authoritative parenting (kasih sayang tinggi – tuntutan tinggi, yakni, orangtua memberikan dorongan, dukungan, perhatian, dan menawarkan perhatian tanpa kekerasan).

Ayah…
Biasakan tanya perasaan anak kita setiap hari ya..
Itu berarti engkau sedang membangun kekuatan emosi dan kedekatan batin dengan mereka.
Ingat, PERASAAN ya Yah..

Biarkan dirimu menjadi tempat curhat anak-anakmu,
Tempat mereka meluapkan perasaannya.
Kalian bisa ngobrol tentang apaaaaa saja.
Tentang hal-hal pribadi, tentang hal-hal yang menyenangkan, tentang kesulitan yang dialami, tentang hal yang dianggap tabu dan menjadi tantangan anak jaman sekarang.

Ayah…
Berikan pondasi bagi anak-anakmu,
agar kelak mereka kuat dan mampu berdiri sendiri dengan arif dan disayangi banyak orang.

Ayah…
Peranmu tak tergantikan untuk membantu Ibu membesarkan anak yang sehat dan bahagia,
yang nantinya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan kestabilan negara.

Pesan Rasul tercinta, manusia yang baik adalah mereka yang paling baik pada KELUARGA-nya.

Let’s make everyday a Father’s day!

Oleh: Elly Risman, Psi. (Direktur & Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati)

——————————————–

Terkait tulisan Bunda Elly Risman ini, saya jadi teringat mengenai satu cuplikan film yang cukup mengena mengenai betapa berharganya waktu seorang Ayah bagi putranya:

I didn’t buy Pokemon cards. I just want to buy 1 hour of ur time to attend my concert. I wanted to pay w/ my savings, but it takes a year to save $500. By then my performance would be over. I sold my Pokemon cards, but I couldn’t raise enough. Stealing was my last resort. I’m sorry..

Betapa sang anak sampai rela mencuri, bingung usaha nyari duit sebanyak gaji ayahnya, untuk beli waktunya meski hanya 1 jam, agar ayahnya bisa hadir di konsernya.

Waktu, Ayah.. yang diperlukan putra/putrimu adalah waktu berkualitasmu.. :’)

Kawan, yuk, sebarkan tulisan ini kepada para Ayah dan calon Ayah lainnya. Semoga makin banyak anak-anak yang tumbuh bahagia sebab peran Ayahnya pula, selain Ibunya.

Salam,
Galuh Nindya

Percayalah… Kelak Engkau Akan Merindukan Kembali

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembałi
Saat buah hatimu terus membuntuti
Dan tak ingin engkau pergi
Sementara tumpukan piring kotor menanti untuk dicuci

Percayalah… kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika buah hatimu ditahan di tangan kiri
Karena menangis tak mau ditinggal sendiri
Sementara tangan kananmu memegang kuali

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika kau sibuk penuhi kebutuhan asi
Berbaring memeluk diatas dipan yang tak pernah rapi
Sementara buah hati lainnya berteriak dari kamar mandi
Meminta bantuanmu untuk bersuci

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika kau tak bisa membaca dengan penuh konsentrasi
Karena tangan kecil menarik memintamu menemani
bermain masak-masakan atau kereta api

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Pakaian kotor yang menggunung menantimu membilas kembali
yang diwarnai beragam noda hasil kreasi
Sementara kesibukan menyusui
Membuatmu sulit sekedar untuk nyalakan mesin cuci

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika meja makan selalu dihiasi
Tumpahan susu dan remahan roti
Atau nasi yang berserak setiap hari
Sementara semut terlanjur menghampiri
Sebelum sempat kau bersihkan kembali

Percayalah….. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika menyusul si kecil yang kabur berlari
Menyusuri jalan keluar dari garasi
Sementara masakanmu menghitam dibakar api

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Alas kasur yang khas berbau air seni
Buka tutup popok yang diganti berkali-kali
Sementara hujan terus menerus membasahi

Kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika satu persatu merantau pergi
Jalani masa depan membentuk jati diri
Dan ketika kelak mereka menjadi suami atau istri

Karena kelak engkau akan merindukan kembali
Jangan hiasi masa ini dengan amarahmu yang akan terekam dalam memori
Karena kelak engkau akan merindukan kembali
Jangan lewati masa ini dengan luapan emosi
Yang kelak hanya dapat kau sesali
Karena kelak engkau akan merindukan kembali
Jangan biarkan sosok lain menempati posisi yang lebih berarti
Karena dimasa ini engkau lewati dengan kesibukan diri sendiri

Percayalah…. masa-masa seperti ini akan berganti sebentar lagi
Dengan kerepotan yang lebih banyak pada urusan pikiran dan hati

By: Kiki B

Salam,
Galuh Nindya

Tantangan Mendidik Anak di Era Digital – Seminar Parenting by Bunda Elly Risman (1)

Sabtu tanggal 21 Februari 2015 yang lalu, alhamdulillah akhirnya saya berkesempatan untuk menghadiri seminar parenting dengan pembicara istimewa, Ibu Elly Risman, Psikolog yang diadakan oleh Sekolah Kreatif SDN Muhammadiyah 16 Surabaya bekerjasama dengan yayasan milik Ibu Elly, Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH). Sebenarnya, gambaran isi seminarnya saya sudah tau karena pernah baca ringkasannya di beberapa blog orang. Tetapi, karena pembicaranya adalah Ibu Elly Risman sendiri, rasanya pasti akan berbeda sekali bila kita bisa ikut hadir dan mendengarkan langsung. Sayang sekali kalau dilewatkan.

Sebelum saya ceritakan isi materi seminarnya, alangkah baiknya saya beri gambaran sekilas terlebih dahulu mengenai profil Ibu Elly Risman ini, supaya Anda semua yang membaca percaya, bahwa Ibu Elly Risman ini bukanlah narasumber main-main untuk memberikan materi mengenai parenting. Ibu Elly Risman ini adalah seorang psikolog dg spesialisasi pengasuhan anak sekaligus menjabat sebagai direktur pelaksana di Yayasan Kita dan Buah Hati. Beliau belajar psikologi di Universitas Indonesia, dan pernah pula 10 tahun lamanya tinggal di Amerika untuk menemani suaminya yang sedang menempuh PhD. Sembari tinggal di Amerika, beliau juga mendalami ilmu parenting di Florida State University Talahase. Ibu Elly ini, ternyata kelahiran 1951. Sudah termasuk cukup berumur menurut saya, tapi, semangat dan tenaganya luarrrr biasa! Salute! Beliau terlihat sangat penyayang dan keibuan, namun tetap tak kehilangan kesan tegas. Keren pokoknya! 🙂

Seminar direncanakan akan berlangsung selama kurang lebih 3 jam, namun kenyataannya berlangsung lebih lama lagi. Dimulai pada pukul 09.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 13.30 WIB. Ibu Elly sampai minta maaf secara pribadi karena menyebabkan shalat dhuhur kami tertunda. Oleh karena betapa panjangnya paparan materi yang disampaikan dan menurut saya isinya padat dan penting semua, maka tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa posts, supaya materinya dapat terserap dengan baik dan Anda semua tidak jenuh membacanya.

Jadi.. tak perlu berlama-lama lagi. Kita mulai saja ya… ^_^

Mengawali seminarnya, Ibu Elly langsung membuka dengan sebuah pernyataan,

“Bencana yang paling besar saat ini adalah kita tidak sadar bahwa kita sedang dalam bencana. Bencana itu ada di telapak tangan kita dan anak-anak kita, yaitu gadget!

Audience sepi seketika.

Berikutnya, Ibu Elly berpesan, bahwa kami, audience, sepulang mengikuti seminar ini, diminta untuk menyampaikannya minimal kepada 3 orang terdekat di sekitar kita. Mengapa? Sebab, lingkungan anak-anak tak hanya terdiri dari kita saja. Bisa jadi, kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk mendidiknya, namun karena lingkungan lainnya belum memahami benar, maka bisa saja ia terkontaminasi dengan mereka yang masih kurang peduli dengan masalah ini. Sayang kaaan? Nah, agar bisa lebih optimal, saya bagikan saja via blog ini. Semoga yang mengetahui informasinya dapat lebih banyak dari sekedar 3 orang dan lebih bermanfaat. Aamiin..

Sesi Pertama: Pengasuhan Orangtua

Di awal sesi pertama Ibu Elly memberikan pertanyaan, “Siapkah kita untuk menjadi orang tua?” Dan jawabannya, hampir sebagian besar para orangtua tidak menguasai benar bagaimana caranya menjadi orangtua. Mereka tidak memahami/memiliki cukup pengetahuan mengenai tahapan perkembangan anak, mereka juga tidak mengetahui bagaimana cara otak bekerja. Padahal, hal tersebut tentu akan berpengaruh terhadap kepribadian dan masa depan anak.

Tahukah Anda poin terpenting dari pengasuhan orangtua? Ya! Yaitu CARA ORANGTUA BERBICARA/BERKOMUNIKASI dengan anaknya!

Berikutnya, beliau memutarkan cuplikan video mengenai bagaimana tak terkontrolnya ibu-ibu itu bila menumpahkan ‘omelan’-nya (saya rekomendasikan Anda nonton filmnya secara penuh, judulnya “I’m not Stupid Too 2”, dijamin tertohok, mengena, penuh derai air mata. manfaat banget untuk gambaran parenting & keluarga!). Betapa para ibu-ibu itu bisa dengan ringan dan tanpa lelahnya mengomel tak henti, hingga sang anak jengah dan tak satupun kata-katanya diresapi mereka. Audience yang sebagian besar ibu-ibu spontan tertawa. Merasa memang begitu mungkin ya! Hahaha..

Kesalahan terbesar dan tersering yang dilakukan oleh para orangtua adalah bicara dengan tidak sengaja pada anak. Tidak sengaja? Ya. Maksudnya, seringkali para orangtua tidak sadar penuh kala berbicara dengan anak, tidak memperkirakan, memperhitungkan, merasakan terlebih dahulu kata-kata apa saja yang mereka sampaikan pada putra putrinya. Spontan saja mengalir keluar. Anak seringkali dihujani dengan rentetan ceramah-ceramah tanpa sela. Terlebih bila di pagi hari, kala bapak ibu, ayah bunda sedang hectic mengejar jam masuk kantor atau jam masuk sekolah anak. Nah, cara komunikasi yang demikian itu, ternyata sangat berbahaya bagi perkembangan anak ke depan. Efeknya:
1. Melemahkan konsep diri anak
2. Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama
3. Merasa tidak berharga atau tidak percaya diri
4. Tidak terbiasa berpikir, memilih, dan mengambil keputusan bagi diri sendiri

Selain 4 efek secara garis besar di atas, bicara tidak sengaja pada anak juga akan membuat anak menjadi:
– Bertanya-tanya/menyesali diri, “Mengapa aku dilahirkan?”
– Lelah jiwa (BeTe)
– De Motivated alias malas
– Merasa terperangkap
– Bingung
– Kecewa
– Dendam
– Bunuh diri

Na’udzubillaahimindzaalik. Serem ya.. 😦

Beliau juga menyampaikan, betapa banyak dari kita, sebagai orangtua, yang tak mengenal diri sendiri? Jarang melihat ke dalam (look in) dan terlalu sering melihat/menilai ke luar (look out). Seringkali terlalu sibuk sehingga jarang mengenali diri sendiri, terlebih lagi berusaha mengenali orang lain, apalagi anak-anak dan pasangannya.

Berikutnya, masih mengenai komunikasi, beliau menyebutkan beberapa kesalahan yang seringkali tanpa sadar kita lakukan dalam berkomunikasi, yaitu:
– Bicara tergesa-gesa
– Tidak mengenal diri sendiri
– Lupa bahwa tiap individu itu unik, sehingga memiliki kebutuhan dan kemauan masing-masing yang berbeda
– Tidak sempat membaca bahasa tubuh
– Tidak mendengar perasaan
– Kurang mendengar aktif

Beliau mencontohkan dengan kasus. Misal saat anak berlari-lari, orangtua mengingatkan berkali-kali, “Jangan lari-lari nak, nanti jatuh!” dan sang anak tetap saja berlarian. Tak lama kemudian, ia benar terjatuh. Apa yang biasanya dilakukan orangtua? Yak, benarrr! Sang orangtua selanjutnya berkata, “Tuh, kaaaaaan.. apa mama bilang? Udah, gapapa cuman jatuh gitu aja. Besok PASTI sembuh.” Padahal, si anak menangis, ia memegangi lututnya, bahasa tubuh dan ekspresinya menunjukkan kesakitan sembari terus menerus sesenggukan berkata, “Sakiiit ma…“.

Sudah berapa kesalahan yang dilakukan Sang Mama? Ia menancapkan dalam memori anaknya berulang-ulang, bahwa ia akan jatuh. Berikutnya, ia menyalahkan anaknya: “tuh kaaan…” dan tak jarang diiringi dengan ceramah panjang. Tak hanya itu saja, Sang Mama juga tak mendengar perasaan anaknya, sekaligus tak membaca bahasa tubuhnya. Si anak menangis, memegangi lututnya, mimik wajahnya sedih, berulang kali bilang “sakiiit..” tapi apa yang mama bilang? “Udah gapapa.. cuman jatuh gitu aja.” Lalu, parahnya lagi, Sang Mama sebenarnya tau bahwa dengan luka yang demikian, tak mungkin akan sembuh esok hari, tapi ia tetap bilang, “PASTI besok sudah sembuh.” Ia beri harapan palsu pada anaknya. Saat itu, sang anak percaya apa kata mamanya, bisa jadi ia tenang, pasti besok sembuh. Sampai keesokan harinya, saat yang ditunggu-tunggunya, ia lihat & rasakan lukanya belum sembuh jua. Dari situlah ia bisa jadi belajar, bahwa mamanya berbohong. Mamanya membohonginya…

Lantas, beliau menyebutkan lebih rinci dalam slide berikutnya, 12 Gaya Populer Kekeliruan dalam Komunikasi:
1. Memerintah            7. Menasihati
2. Menyalahkan          8. Membohongi
3. Meremehkan          9. Menghibur
4. Membandingkan   10. Mengkritik
5. Mencap/melabel   11. Menyindir
6. Mengancam         12. Menganalisa

Bayangkan betapa seringnya orangtua tanpa sadar melakukan 12 gaya populer tersebut. Ibu Elly bertanya, sudah berapa banyak stempel yang dicapkan orangtua di wajah anak-anaknya? Sudah sejak usia berapa kita mengancam anak-anak kita? Misalkan pada salah satu lagu anak yang cukup populer: “nina bobo’.. oh nina bobo’.. kalau tidak bobo’ digigit nyamuk..” nah lho! anak diancam, kalo nggak kunjung bobo’ nanti digigit nyamuk..

Jadi, sudah seberapa banyak? Sudah seberapa sering? Sudah berapa lama? 😦

to be continued –

Salam,
Galuh Nindya