BiAS (1): Keutamaan Silaturrahim

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 18 Syawwal 1436 H / 3 Agustus 2015 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Al-Birru (Kebaikan) Wa Ash-Shilah (Silaturahim)
🔊 Hadits ke-1 | Keutamaan Silaturahim (bagian 3)
____________________

KEUTAMAAN SILATURAHIM

Bismillahirrahmanirrahim,
Washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah,

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta’ala, kita memasuki bagian ke 3 dari pembahasan keutamaan silaturahim.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (أخرجه البخاري)

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu berkata: Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Barangsiapa senang untuk dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antar kerabat).”
(HR. Bukhari)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hadits ini merupakan hadits yang agung yang memotifasi kita untuk menyambung silaturahim.

Ada sebagian amal sholeh yang Allāh tidak hanya memberikan ganjaran di akhirat tetapi juga duniawi, contohnya adalah menyambung silarurahim.

Ganjaran di dunia yang Allāh siapkan bagi orang yang menyambung silaturhim dalam hadits ini yaitu dilapangkan rizikinya dan dipanjangkan umurnya.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya dia menyambung silaturahim.”

Ini adalah motifasi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu dengan mengiming-imingi ganjaran duniawi.

Oleh karenanya pendapat yang rajih di antara pendapat para ulama, bahwasanya barang siapa beramal sholeh ikhlas karena Allāh Subhanahu wa Ta’ala, tidak mengharap pujian manusia, tidak riya’ kemudian dalam niatnya disertai dengan ingin mendapatkan ganjaran duniawi yang diizinkan oleh syari’at, maka maka hal itu tidak mengapa.

Karena Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang mengiming-imingi dengan mengatakan, “Barang siapa yang mau,” yang artinya: barang siapa yang berminat dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya,maka hendaknya menyambung silaturahim.

Ikwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta’ala,

Makna dari dilapangkan rizki dan dipanjangkan umur secara umum ada 2 pendapat di kalangan para ulama.

Pendapat pertama:

Menyatakan makna majasi, kiasan, karena rizki sudah tercatat dan juga umur tidak mungkin di ubah-ubah lagi.

Oleh karenanya maksud dilapangkan rizki adalah rizkinya diberkahi Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Meskipun rizkinya tidak berubah namun Allāh kasih keberkahan dengan banyaknya manfaat, membawa faidah, digunakan untuk beramal sholih, untuk hal-hal yang di cintai oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Demkian juga dengan maksud dari dipanjangakan umur, artinya umurnya tidak berubah, sessuai dengan yang ditakdirkan.

Akan tetapi Allāh berkahi umurnya, sehingga umurnya bisa dia gunakan untuk banyak kebaikkan, banyak beribadah atau dihindarkan dari sakit yang menggangu keberkahan umurnya sehingga waktunya benar-benar bermanfaat, seakan-akan umurnya panjang.

Karena pernah kita dapati seorang memiliki umur yang panjang namun tidak bermanfaat atau yang bermanfaat hanya sedikit dari umurnya atau sebagian umurnya hilang sia-sia.

Pendapat yang kedua:

Dibawakan  kepada makna yang hakiki, yaitu benar-benar dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rizkinya.

Kita tahu bahwasanya Allāh Subhanahu wa Ta’ala bisa merubah takdir yang berada di tangan para malaikat sebagaimana firman Allāh Subhanahu wa Ta’ala:
يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ

“Allāh menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”
(QS: Ar-Ra’d Ayat: 39)

Jadi, malaikat mungkin diperintahkan oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala untuk mencatat umur hamba, misalnya umurnya 60 tahun, kemudian karena hamba ini bersilaturahim maka Allāh Subhanahu wa Ta’ala menyuruh mencatat umurnya menjadi 70 tahun, yang perubaham ini, yaitu  dari 60 menjadi 70, semua sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh.

Tidak ada perubahan di Lauhul Mahfuzh.

Allāh mengatakan, “Dan di sisi Allāh ada Ummul Kitab,” dan di Ummul Kitab tidak berubah,

Seakan -akan tertulis di Lauhul Mahfuzh dicatat oleh malaikat awalnya 60 th kemudian karena dia beramal sholih maka Allāh perintahkan menjadi 70 th.

Demikian juag dengan rizki, yang tadinya dicatat tertentu oleh malaikat dan karena dia bersilaturahim maka ditambah rizkinya oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala, dan semuanya telah tercatat  Lauhul Mahfuzh.

Dan Wallahu A’lam bi Showab, saya lebih condong dengan pendapat yang kedua.

Karena kenyataan yang ada silatiurahim benar-benar merupakan sebab dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki.

Betapa banyak orang yang menyambung silaturahim kemnudian rizkinya ditambah-tamba oleh Allāh  Subhanahu wa Ta’ala, berapa banyak orang yang menyambung silaturahim umurnya ditambah, misalnya dijauhkan dari sakit.

Mungkin harusnya dia celaka tapi dihindarkan dari kecelakaan oleh Allāh  Subhanahu wa Ta’ala sehingga bertambah umurnya.

Semoga Allāh  Subhanahu wa Ta’ala memberkahi harta kita dan umur kita dan semoga Allāh memudahkan kita untuk bersilaturahmi.

Ditranskrip oleh:
Tim Transkrip BiAS
➖➖➖➖➖➖➖➖

Nasihat Perkawinan

“Nasehat Perkawinan untuk Putriku”

*disalin dari: https://blueaurora.wordpress.com/2015/07/29/tulisan-terakhir-sebuah-epilog/

Abu Khaulah Zainal Abidin

(Seandainya ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa panjangkan umurku dan memberikan kesempatan kepadaku menyaksikan pernikahan putriku tercinta, kira-kira seperti inilah yang ingin aku sampaikan):

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله , نحمده ونستعينه , ونستغفره , ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , ومن سيئات أعمالنا , من يهده الله فلا مضل له , ومن يضلل فلا هادي له , وأشهد أن لاإله إلا الله وحده لاشريك له , وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم .

{ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون }

{ يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تسألون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا }

{ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا , يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم , ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما }

Anak-anakku..,

Hari ini akan menjadi satu di antara hari-hari yang paling bersejarah di dalam kehidupan kalian berdua. Sebentar lagi kalian akan menjadi sepasang suami-isteri, yang darinya kelak akan lahir anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan kalian akan menjadi seorang bapak dan seorang ibu, untuk kemudian menjadi seorang kakek dan seorang nenek, ……insya الله.

Rentang perjalanan hidup manusia yang begitu panjang … sesungguhnya singkat saja. Begitu pula…liku-liku dan pernik-pernik kerumitan hidup sesungguhnya jugalah sederhana. Kita semua.. diciptakan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tidak lain untuk beribadah kepada NYA. Maka, jika kita semua berharap kelak dapat berjumpa dengan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa …dalam keadaan IA ridlo kepada kita, hendaklah kita jadikan segala tindakan kita semata-mata di dalam rangka mencari keridlo’an-NYA dan menyelaraskan diri kepada Sunnah Nabi-NYA Yang Mulia –Shallallahu alaihi wa sallam

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.

(Maka barangsiapa merindukan akan perjumpaannya dengan robb-nya, hendaknya ia beramal dengan amalan yang sholeh, serta tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun di dalam peribadatan kepada robb-nya.)

Begitu pula pernikahan ini, ijab-qabulnya, adanya wali dan dua orang saksi, termasuk hadirnya kita semua memenuhi undangan ini…adalah ibadah, yang tidak luput dari keharusan untuk sesuai dengan syari’at ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa.

Oleh karena itu…, kepada calon suami anakku

Saya ingatkan, bahwa wanita itu dinikahi karena empat alasan, sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam:

عن أبي هريره رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

Wanita dinikahi karena empat alasan. Hartanya, keturunannya, kecantikannya,atau agamanya. Pilihlah karena agamanya, niscaya selamatlah engkau.” (HR:Muslim)

Maka ambilah nanti putriku sebagai isteri sekaligus sebagai amanah yang kelak kamu dituntut bertanggung jawab atasnya. Dengannya dan bersamanya lah kamu beribadah kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, di dalam suka…di dalam duka. Gaulilah ia secara baik, sesuai dengan yang diharuskan menurut syari’at ALLAH. Terimalah ia sepenuh hati, kelebihan dan kekurangannya, karena ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah memerintahkan demikian:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

(Dan gaulilah isteri-isterimu dengan cara yang ma’ruf. Maka seandainya kalian membenci mereka, karena boleh jadi ada sesuatu yang kalian tidak sukai dari mereka, sedangkan ALLAH menjadikan padanya banyak kebaikan.) (An-Nisaa’:19)

Dan ingatlah pula wasiat Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-:

إستوصوا بالنساء خيرا فإنهن عوان عندكم

(Pergaulilah isteri-isteri dengan baik. Karena sesungguhnya mereka itu mitra hidup kalian)

Dan perlakuanmu terhadap isterimu ini menjadi cermin kadar keimananmu, sebagaimana Sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-;

أكمل المؤمن إيمانا أحسنهم خلقا و خياركم خياركم لنساءهم (الترمذي عن ابي هريرة)

(Mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya)

Dan kamu sebagai laki-laki adalah pemimpin di dalam rumah tangga.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

(Lelaki itu pemimpin bagi wanita disebabkan ALLAH telah melebihkan yang satu dari yang lainnya dan disebabkan para lelaki yang memberi nafkah dengan hartanya.) (An-Nisaa’: 34)

Maka agar kamu dapat memimpin rumah tanggamu, penuhilah syarat-syaratnya, berupa kemampuan untuk menafkahi, mengajari, dan mengayomi. Raihlah kewibawaan agar isterimu patuh di bawah pimpinanmu. Jadilah suami yang bertanggungjawab, arif dan lemah lembut , sehingga isterimu merasa hangat dan tentram di sisimu. Berusahalah sekuat tenaga menjadi teladan yang baik baginya, sehingga ia bangga bersuamikan kamu. Ya, inilah sa’atnya untuk membuktikan bahwa kamu laki-laki sejati, laki-laki yang bukan hanya lahirnya.

Kepada putriku

Saya ingatkan kepadamu akan sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– :

عن أبي هريرة؛ قال:- قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

إذا أتاكم من ترضون خلقه ودينه فزوجوه. إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد عريض

Jika datang kepadamu (-wahai para orang tua anak gadis-) seorang pemuda yang kau sukai akhlaq dan agamanya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan menyebarnya kerusakan di muka bumi.” (HR: Ibnu Majah)

Dan semoga -tentunya- calon suamimu datang dan diterima karena agama dan akhlaqnya, bukan karena yang lain. Maka hendaknya kau luruskan pula niatmu. Sambutlah dia sebagai suami sekaligus pemimpinmu. Jadikanlah perkawinanmu ini sebagai wasilah ibadahmu kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Camkanlah sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-:

لو كنت أمرا أحد ان يسجد لأحد لأمرت المرءة ان تسجد لزوجها (الترم1ي عن ابي هريرة)

(Seandainya aku boleh memerintahkan manusia untuk sujud kepada sesamanya, sungguh sudah aku perintahkan sang isteri sujud kepada suaminya.)

Karenanya sekali lagi saya nasihatkan , wahai putriku…

Terima dan sambutlah suamimu ini dengan sepenuh cinta dan ketaatan.

Layani ia dengan kehangatanmu…

Manjakan ia dengan kelincahan dan kecerdasanmu…

Bantulah ia dengan kesabaran dan doamu…

Hiburlah ia dengan nasihat-nasihatmu…

Bangkitkan ia dengan keceriaan dan kelembutanmu…

Tutuplah kekurangannya dengan mulianya akhlaqmu…

Manakala telah kamu lakukan itu semua, tak ada gelar yang lebih tepat disandangkan padamu selain Al Mar’atush-Shalihah, yaitu sebaik-baik perhiasan dunia. Sebagaimana Sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-:

الدنيا متاع وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة ( مسلم)

(Dunia tak lain adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.)

Inilah satu kebahagiaan hakiki -bukan khayali- yang diidam-idamkan oleh setiap wanita beriman. Maka bersyukurlah, sekali lagi bersyukurlah kamu untuk semua itu, karena tidak semua wanita memperoleh kesempatan sedemikian berharga. Kesempatan menjadi seorang isteri, menjadi seorang ibu. Terlebih lagi, adanya kesempatan, diundang masuk ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki. Yang demikian ini mungkin bagimu selagi kamu melaksanakan sholat wajib lima waktu -cukup yang lima waktu-, puasa -juga cukup yang wajib- di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan -termasuk menutup aurat- , dan ta’at kepada suami. Cukup, cukup itu. Sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-:

إذا صلت المرأة خمسها وصامت شهرها وحفظت فرجها وأطاعت زوجها

قيل لها: ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت (أحمد عن عبدالرحمن بن عوف)

(Jika seorang isteri telah sholat yang lima, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan ta’at kepada suaminya. Dikatakan kapadanya: Silahkan masuk ke dalam Surga dari pintu mana saja yang engkau mau.)

Anak-anakku…,

Melalui rangkaian ayat-ayat suci Al Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi Yang Mulia, kami semua yang hadir di sini mengantarkan kalian berdua memasuki gerbang kehidupan yang baru, bersiap-siap meninggalkan ruang tunggu, dan mengakhiri masa penantian kalian yang lama. Kami semua hanya dapat mengantar kalian hingga di dermaga. Untuk selanjutnya, bahtera rumah-tangga kalian akan mengarungi samudra kehidupan, yang tentunya tak sepi dari ombak, bahkan mungkin badai.

Karena itu, jangan tinggalkan jalan ketaqwaan. Karena hanya dengan ketaqwaan saja ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa akan mudahkan segala urusan kalian, mengeluarkan kalian dari kesulitan-kesulitan, bahkan mengaruniai kalian rizki.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

(Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan berikan bagi nya jalan keluar dan mengaruniai rizki dari sisi yang tak terduga.)

(Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan mudahkan urusannya.)

Bersyukurlah kalian berdua akan ni’mat ini semua. ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah mengarunia kalian separuh dari agama ini, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah mengarunia kalian kesempatan untuk menjalankan syari’at-NYA yang mulia, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa juga telah mengaruniai kalian kesempatan untuk mencintai dan dicintai dengan jalan yang suci dan terhormat.

Ketahuilah, bahwa pernikahan ini menyebabkan kalian harus lebih berbagi. Orang tua kalian bertambah, saudara kalian bertambah, bahkan sahabat-sahabat kalian pun bertambah, yang kesemua itu tentu memperpanjang tali silaturahmi, memperlebar tempat berpijak, memperluas pandangan, dan memperjauh daya pendengaran. Bukan saja semakin banyak yang perlu kalian atur dan perhatikan, sebaliknya semakin banyak pula yang akan ikut mengatur dan memperhatikan kalian. Maka, barang siapa yang tidak kokoh sebagai pribadi dia akan semakin gamang menghadapi kehidupannya yang baru.

Ketahuilah, bahwa anak-anak yang sholeh dan sholehah yang kalian idam-idamkan itu sulit lahir dan tumbuh kecuali di dalam rumah tangga yang sakinah penuh cinta dan kasih sayang. Dan tentunya tak akan tercipta rumah-tangga yang sakinah, kecuali dibangun oleh suami yang sholeh dan isteri yang sholehah.

Akan tetapi, wahai anak-anakku, jangan takut menatap masa depan dan memikul tanggung jawab ini semua. Jangan bersedih dan berkecil hati jika kalian menganggap bekal yang kalian miliki sekarang ini masih sangat kurang. ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

(Artinya: “Dan janganlah berkecil hati juga jangan bersedih. Padahal kalian adalah orang-orang yang mulia seandainya sungguh-sungguh beriman.”) (Ali Imran: 139)

Ya, selama masih ada iman di dalam dada segalanya akan menjadi mudah bagi kalian. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling tolong-menolong di dalam kebajikan dan taqwa. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling menutupi kelemahan dan kekurangan masing-masing. Bersungguh-sungguhlah untuk itu, untuk meraih segala kebaikan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sediakan melalui pernikahan ini. Jangan lupa untuk senantiasa memohon pertolongan kepada ALLAH. kemudian jangan merasa tak mampu atau pesimis. Jangan, jangan kalian awali kehidupan rumah tangga ini dengan perasaan lemah !

احرص على ما ينفعك. واستعن بالله ولا تعجز

(Bersungguh-sungguhlah kepada yang bermanfa’at bagimu, mohonlah pertolongan kepada ALLAH, dan jangan merasa lemah!) (HR: Ibnu Majah)

Terakhir, ingatlah bahwa nikah merupakan Sunnah Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-, sebagaimana sabdanya:

النكاح من سنتي فمن رغب عن سنتي فليس مني

(Nikah itu merupakan bagian dari Sunnahku. Maka barang siapa berpaling dari Sunnahku, ia bukanlah bagian dari umatku.)

Maka janganlah justru melalui pernikahan ini atau setelah aqad ini kalian justru meninggalkan Sunnah untuk kemudian bergelimang di dalam berbagai bid’ah dan kema’shiyatan.

Kepada besanku…

Terimalah masing-masing mereka sebagai tambahan anak bagi kita. Ma’lumilah kekurangan-kekurangannya, karena mereka memang masih muda. Bimbinglah mereka, karena inilah saatnya mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya.

Wajar, sebagaimana seorang anak bayi yang sedang belajar berdiri dan berjalan, tentu pernah mengalami jatuh untuk kemudian bangkit dan mencoba kembali. Maka bantulah mereka sampai benar-benar kokoh untuk berdiri dan berjalan sendiri.

Bantu dan bimbing mereka, tetapi jangan mengatur. Biarkan.., Karena sepenuhnya diri mereka dan keturunan yang kelak lahir dari perkawinan mereka adalah tanggung-jawab mereka sendiri di hadapan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Hargailah harapan dan cita-cita yang mereka bangun di atas ilmu yang telah sampai pada mereka.

Keterlibatan kita yang terlalu jauh dan tidak pada tempatnya di dalam persoalan rumah tangga mereka bukannya akan membantu. Bahkan sebaliknya, membuat mereka tak akan pernah kokoh. Sementara mereka dituntut untuk menjadi sebenar-benar bapak dan sebenar-benar ibu di hadapan…dan bagi anak-anak mereka sendiri.

Ketahuilah, bahwa bukan mereka saja yang sedang memasuki kehidupannya yang baru, sebagai suami isteri. Kita pun, para orang tua, sedang memasuki kehidupan kita yang baru, yakni kehidupan calon seorang kakek atau nenek – insya الله. Maka hendaknya umur dan pengalaman ini membuat kita,…para orangtua, menjadi lebih arif dan sabar, bukannya semakin pandir dan dikuasai perasaan. Pengalaman hidup kita memang bisa jadi pelajaran, tetapi belum tentu harus jadi acuan bagi mereka.

Jika kelak -dari pernikahan ini- lahir cucu-cucu bagi kita. Sayangilah mereka tanpa harus melecehkan dan menjatuhkan wibawa orangtuanya. Berapa banyak cerita di mana kakek atau nenek merebut superioritas ayah dan ibu. Sehingga anak-anak lebih ta’at kepada kakek atau neneknya ketimbang kepada kedua orangtuanya. Sungguh, akankah kelak cucu-cucu kita menjadi anak-anak yang ta’at kepada orangtuanya atau tidak, sedikit banyak dipengaruhi oleh cara kita memanjakan mereka.

Kepada semua, baik yang pernah mengalami peristiwa semacam ini, maupun yang sedang menanti-nanti gilirannya, marilah kita do’akan mereka dengan do’a yang telah diajarkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-:

بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير

فأعتبروا يا أولي الأبصار

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لاإله إلاأنت أستغفرك وأتوب إليك

Salam
Galuh Nindya

Welingipun Pini Sepuh

Rejeki iku ora bisa ditiru
Senajan pada lakumu
Senajan pada dodolanmu
Senajan pada pegaweanmu

Kasil sing ditampa bakal beda-beda
Isa beda neng akehe bandha,
Isa uga ana neng rasa lan ayeme ati
Ya iku sing jenenge bahagia

Kabeh iku saka tresnane Gusti Kang Maha Kuwasa
Sapa temen bakal tinemu,
Sapa wani rekasa bakal gayuh mulya
Dudu akehe, nanging berkahe kang dadekake cukup lan nyukupi

Wis ginaris neng takdire menungsa,
Yen apa sing urip kuwi wis disangoni saka Sing Kuwasa
Dalan urip lan pangane wis cemepak cedhak,
Kaya angin sing disedhot saben dhinane
Nanging kadang menungsa sulap mata lan peteng atine
Sing adoh saka awake katon padhang cemlorot ngawe-awe,
Nanging sing cedhak neng ngarepe lan dadi tanggung jawabe disia-sia kaya ora duwe guna

Rejeki iku wis cemepak saka Gusti
Ora bakal kurang anane kanggo nyukupi butuhe manungsa saka lair tekane pati
Nanging yen kanggo nuruti karep manungsa sing ora ana watese,
Rasane kabeh cupet, neng pikiran ruwet, lan atine marai bundhet

Welinge wong tuwa, apa sing ana dilakoni lan apa sing durung ana aja diarep-arep
Semelehke atimu, yen wis dadi duwekmu bakal tinemu
Yen ora jatahmu apa meneh nek ngrebut saka wong liya nganggo cara sing ala,
Ya dienteni wae, iku bakal gawe uripmu lara, rekasa, lan angkara murka sajroning kulawarga
Kabeh iku bakal sirna balik dadi sakmestine

Yen umpamane ayem iku mung bisa dituku karo akehe bandha,
Dahna rekasane dadi wong sing ora duwe
Untunge ayem isa diduweni sapa wae sing gelem ngleremke atine bab kadonyan,
Seneng tetulung marang liyan, lan masrahke uripe marang Gusti Allah SWT

Kerja iku pancen rekasa nanging luwih rekasa meneh yen ora kerja
Lakonana lan syukuri apa sing wis ana

——————-
PESAN TETUA

Rizki itu tidak bisa ditiru
Meski usahamu sama
Meski yg engkau jual sama
Meski pekerjaannu sama

Hasil yg diterima akan berbeda-beda
Bisa berbeda pada banyaknya harta
Bisa juga pada rasa & tenangnya hati
Itulah yg dinamakan bahagia

Semua itu berasal dari cintanya Yang Maha Kuasa
Siapa yg bersungguh-sungguh, akan bertemu
Siapa berani bersusah payah, akan menggapai kemuliaan
Bukan banyaknya, tetapi berkahnya yg menjadikan cukup dan mencukupi

Sudah tergaris pada takdir manusia
Bahwa apa pun yg hidup sudah diberi bekal oleh Yang Kuasa
Jalan hidup dan makannya sudah tersiap & dekat
Seperti udara yang dihirup setiap harinya
Tapi terkadang manusia silau & gelap hatinya
Yg jauh dari dirinya malah terlihat terang melambai-lambai
Tetapi yg dekat di hadapannya & jadi tanggung jawabnya, disia-siakan seperti tak berguna

Rizki itu sudah tersedia dari Allah
Tak akan kurang adanya untuk mencukupi kebutuhan manusia dari lahir hingga mati
Tetapi bila untuk menuruti keinginan manusia yg tak ada batasnya,
Rasanya semua sempit, pikiran rumit, & hatinya menjadi buntu

Pesan orang tua, apa yg ada dijalani dan apa yg belum ada jangan diharap-harapkan
Semelehkan hatimu (pasrahkan/ikhlas terima saja), apabila menjadi uangmu akan bertemu
Bila bukan untukmu, apalagi merebut dari orang lain dengan cara yg buruk,
Tunggulah saja, hal itu akan membuat hidupmu sakit, susah, dan bencana kepada keluarga
Semua itu akan hilang kembali menjadi semestinya

Apabila seumpama tenang itu hanya bisa dibeli dengan banyaknya harta,
Bagaimana susahnya orang yang tak punya
Untungnya, tenang bisa dimiliki siapa saja yg bisa mendamaikan hatinya terhadap keduniawian
Senang membantu terhadap orang lain, serta memasrahkan hidupnya kepada Allah SWT

Kerja itu memang susah, tetapi lebih susah lagi bila tidak bekerja
Jalani & syukuri saja apa yg telah ada.

– Anonim –

*note:
Pesan didapat dari grup di whatsapp tanpa menyertakan sumber. Dicari di google belum juga nemu sumbernya.
Mohon dimaafkan juga kalau terjemahannya mungkin dirasa agak miring-miring sedikit. Maklum, saya terjemahkan sendiri. Menerima ralat kalau ada yg dirasa lebih tepat terjemahannya. 😀

Salam,
Galuh Nindya

Jarak

image

Jarak,
Membantu kita, untuk lebih mudah lagi menjaga diri, sebelum waktunya benar-benar tiba.
Jarak,
Memberi kita jeda, agar diri bisa lebih banyak lagi mengalunkan doa-doa.
Jarak,
Akan membuatmu lebih mengerti, apakah ini akan tetap berlangsung lama, atau hanya bertamu sebentar saja.
Percaya, jarak akan tetap membantumu, dengan caranya.
Sabar, dan percayakan saja pada-Nya.

Salam,
Galuh Nindya

Persahabatan dan Seleksi Alam

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

image

Seseorang dulu pernah bilang, jika perkataan yang benar membuat kita kehilangan teman, maka teruskanlah.. Teruslah melangkah.. Karena kebenaran hakikatnya adalah saringan.

Ketika kita berbuat atau berkata benar lantas dijauhi (semata karena kebenaran yang kita sampaikan, bukan karena caranya) maka hendaknya kita bersyukur.

View original post 355 more words