Umum

Surat Cinta Buat Ibu Mentriku: Pejabat dan Kepatutan Perilaku

Setuju sekali dengan tulisan ibu ini. Sebenarnya, fokus masalahnya bukan pada pribadinya. Hanya saja, kebanyakan orang seringkali melihat sesuatu secara dikotomis: “mending ngerokok tapi kerja bagus daripada pake jilbab tapi korupsi”. Bagi saya, perbandingan yang demikian adalah tidak sesuai. Sebenarnya, yang menjadi ganjalan di hati adalah, apa yg dilakukan Ibu Susi sebagai menteri negara (public figure) yang merokok saat wawancara di hadapan para wartawan (& rakyat Indonesia setelah hasil shoot ditayangkan) adalah tidak pada tempatnya. Soal prestasi beliau, itu soal lain lagi.

berbagi cinta & makna

Ibu, saya tulis surat ini untukmu, sebagai ungkapan rasa hatiku, sebagai (sesama) ibu. Tentu saya sangat gembira, saat di hari Minggu sore tanggal 26 oktober lalu, beberapa ibu yang berkualitas dan tak diragukan dedikasinya, maju ke depan dipanggil satu-persatu. Menjadi mentri ini dan itu. Alhamdulillah, kiranya kiprah perempuan mulai lebih banyak mendapat penghargaan di negeri ini.

susi 2

Namun, saat hari makin senja Minggu itu, saya mulai dikagetkan dengan tulisan di salah satu media massa, tentang ibu. Aduh Ibu, tulisan yang bersifat laporan pandangan mata itu sungguh mengganggu saya. Bahwa selepas dipanggil pak presiden itu, ibu diwawancarai para wartawan sambil menghabiskan satu batang rokok. Meski berita itu dikemas dengan pembahasaan ‘unik’, atau ‘nyentrik’, tapi bagi saya, sama sekali tidak begitu bu. Maaf ya Bu, lalu saya mulai gugling, tentang sosok Ibu, yang namanya pun baru saya tahu sejak pengumuman kabinet kerja itu.

Menilik pengalaman hidup Ibu untuk tetap terus

View original post 828 more words

DNA : Pikiranmu Jadi Sumber Penyakit dan Kesembuhan

Nusantaraku

Selama ini kita masih sulit memahami bagaimana mekanisme pikiran positif dapat mempengaruhi kesuksesan, kesehatan, dan kebahagiaan kita. Lima abad lalu bahkan baru 5 dekade yang lalu, manusia  percaya bahwa kesakitan atau kesembuhan murni datang dari Sang  Pencipta sebagai cobaan. Sebelum dunia kesehatan dan medis menemukan fatogen-fatogen eksternal dan internal, bibit penyakit seperti Malaria, Kolera, Tifus dianggap sebagai kiriman setan atau cobaan dari Tuhan. Begitu juga, masyarakat kita saat inipun sempat mengabaikan aspek unsur kimiawi yang terrkandung dalam batu Ponari  yang dapat menyembuhkan + fakor sugesti/pikiran positif dan langsung menjudge bahwa itu syirik (ada setan) atau sebaliknya itu mukzizat dari Allah/Tuhan yang diperantarakan.

Jika boleh saya menilai, maka pola sikap dan pemikiran “short-cut” (asal bunyi tanpa observasi, data dan pengujian) seperti itu tidak jauh berbeda dengan pola pemikiran kita 5 abad yang lalu, hanya saja saat ini masyarakat telah memiliki knowledge yang lebih mengenai patologi. Namun, pemikiran yang sengaja…

View original post 1,962 more words

Menulislah. Berbagilah.

Siang ini, saya bertemu dengan seorang kawan, kakak angkatan kuliah saya lebih tepatnya. Setelah saling mengucap salam dan bertegur sapa, ada ucapan darinya yang tak saya sangka. Ia bilang, ia mengikuti tulisan-tulisan yang saya buat. Entah status facebook saya ataupun tulisan dalam blog saya. Selanjutnya, ia tiba-tiba berterima kasih kepada saya atas tulisan-tulisan yang telah saya buat, karena telah menginspirasinya. Ia juga mendorong saya untuk terus lanjut menulis dan menginspirasi, serta meminta saya untuk menyusun tulisan-tulisan yang telah saya buat menjadi sebuah buku. Masya Allah.. terima kasih banyak mbak..

Jujur, tak pernah terbayang dalam benak saya akan ada orang yang merasakan manfaat dari tulisan yang saya buat. Tulisan-tulisan yang telah saya buat itu, saya tulis dengan seadanya. Tak ada yang terlalu dirangkai sedemikian rupa apalagi dipaksakan. Saya cuma ingin menulis. Saya cuma mau berbagi, dan terkadang ingin menumpahkan uneg-uneg, ide, ataupun sudut pandang saya, daripada hanya dipendam dalam hati. Saya hanya ingin, ke manapun kelak saya pergi, apa yang menjadi pemikiran saya akan tetap abadi dan tak lekang oleh terbatasnya memori dan usia. Nah, karena keinginan saya untuk jadi dosen belum jua terkabul, dan karena menjadi fasilitator dalam sebuah acara training juga belum bisa saya lakukan, maka media yang memungkinkan bagi saya untuk berbagi ilmu, pemikiran, dan inspirasi ya dengan tulisan (selain dengan cara ngobrol-ngobrol informal tentunya).

Secuil kejadian siang ini, membuat saya bersyukur dan semakin memotivasi saya untuk terus menulis, terutama menulis hal-hal yang bermanfaat. Meski saya menyadari, bahwa hingga saat ini tulisan-tulisan saya masih belum 100% terhindar dari yang buruk-buruk atau unsur curhat. Hehe.. (*mohon dengan sangat untuk dimaafkan :D). Ucapan singkat dari seorang kawan tadi, membuat saya semakin menyadari bahwa untuk berbagi inspirasi, tak perlulah menunggu harus jadi guru/dosen/fasilitator/trainer terlebih dahulu. Ternyata kita bisa berbagi dengan cara apapun. Lewat tulisan juga, misalnya. Semoga kita selalu dimudahkan untuk berbagi dan bermanfaat bagi lingkungan/insan lainnya. Semoga segala yang kita lakukan bukanlah hal yang sia-sia. Aamiin yra

Salam,
Galuh Nindya

Tahukah Kita?

Tahukah kita? Seandainya setiap orang paham bahwa mencintai bukan hanya soal waktu, soal keberanian, atau soal kesempatan. Namun, soal keimanan dan ketaqwaan. Bila setiap orang sadar bahwa tidak semua perasaan itu harus dituruti. Tidak harus dikatakan. Tidak harus ditindak lanjuti. Kan sudah aku bilang, urusan ini bukan sekedar urusan waktu dan keberanian, tapi urusan keimanan dan ketaqwaan.

Tahukah kita? Terlalu banyak orang kehilangan sabar. Tidak mampu memahami keadaan. Terlalu terburu-buru mengungkapkan sesuatu. Tidak berpikir dua kali untuk bertanya-tanya, “Apakah kiranya Tuhan ridho dengan tindakannya?”

Tahukah kita? Pada akhirnya orang yang bisa membersamai kita bukanlah dia yang lebih cepat atau lebih lambat. Tetapi dia yang bisa mengiringi langkah kita. Langkah yang sama jauhnya, sama pendeknya.

– Kurniawan Gunadi

*tulisan asli dapat dilihat di sini: http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/83920493210/tulisan-mencari-tahu#notes