Renungan & Inspirasi

Welingipun Pini Sepuh

Rejeki iku ora bisa ditiru
Senajan pada lakumu
Senajan pada dodolanmu
Senajan pada pegaweanmu

Kasil sing ditampa bakal beda-beda
Isa beda neng akehe bandha,
Isa uga ana neng rasa lan ayeme ati
Ya iku sing jenenge bahagia

Kabeh iku saka tresnane Gusti Kang Maha Kuwasa
Sapa temen bakal tinemu,
Sapa wani rekasa bakal gayuh mulya
Dudu akehe, nanging berkahe kang dadekake cukup lan nyukupi

Wis ginaris neng takdire menungsa,
Yen apa sing urip kuwi wis disangoni saka Sing Kuwasa
Dalan urip lan pangane wis cemepak cedhak,
Kaya angin sing disedhot saben dhinane
Nanging kadang menungsa sulap mata lan peteng atine
Sing adoh saka awake katon padhang cemlorot ngawe-awe,
Nanging sing cedhak neng ngarepe lan dadi tanggung jawabe disia-sia kaya ora duwe guna

Rejeki iku wis cemepak saka Gusti
Ora bakal kurang anane kanggo nyukupi butuhe manungsa saka lair tekane pati
Nanging yen kanggo nuruti karep manungsa sing ora ana watese,
Rasane kabeh cupet, neng pikiran ruwet, lan atine marai bundhet

Welinge wong tuwa, apa sing ana dilakoni lan apa sing durung ana aja diarep-arep
Semelehke atimu, yen wis dadi duwekmu bakal tinemu
Yen ora jatahmu apa meneh nek ngrebut saka wong liya nganggo cara sing ala,
Ya dienteni wae, iku bakal gawe uripmu lara, rekasa, lan angkara murka sajroning kulawarga
Kabeh iku bakal sirna balik dadi sakmestine

Yen umpamane ayem iku mung bisa dituku karo akehe bandha,
Dahna rekasane dadi wong sing ora duwe
Untunge ayem isa diduweni sapa wae sing gelem ngleremke atine bab kadonyan,
Seneng tetulung marang liyan, lan masrahke uripe marang Gusti Allah SWT

Kerja iku pancen rekasa nanging luwih rekasa meneh yen ora kerja
Lakonana lan syukuri apa sing wis ana

——————-
PESAN TETUA

Rizki itu tidak bisa ditiru
Meski usahamu sama
Meski yg engkau jual sama
Meski pekerjaannu sama

Hasil yg diterima akan berbeda-beda
Bisa berbeda pada banyaknya harta
Bisa juga pada rasa & tenangnya hati
Itulah yg dinamakan bahagia

Semua itu berasal dari cintanya Yang Maha Kuasa
Siapa yg bersungguh-sungguh, akan bertemu
Siapa berani bersusah payah, akan menggapai kemuliaan
Bukan banyaknya, tetapi berkahnya yg menjadikan cukup dan mencukupi

Sudah tergaris pada takdir manusia
Bahwa apa pun yg hidup sudah diberi bekal oleh Yang Kuasa
Jalan hidup dan makannya sudah tersiap & dekat
Seperti udara yang dihirup setiap harinya
Tapi terkadang manusia silau & gelap hatinya
Yg jauh dari dirinya malah terlihat terang melambai-lambai
Tetapi yg dekat di hadapannya & jadi tanggung jawabnya, disia-siakan seperti tak berguna

Rizki itu sudah tersedia dari Allah
Tak akan kurang adanya untuk mencukupi kebutuhan manusia dari lahir hingga mati
Tetapi bila untuk menuruti keinginan manusia yg tak ada batasnya,
Rasanya semua sempit, pikiran rumit, & hatinya menjadi buntu

Pesan orang tua, apa yg ada dijalani dan apa yg belum ada jangan diharap-harapkan
Semelehkan hatimu (pasrahkan/ikhlas terima saja), apabila menjadi uangmu akan bertemu
Bila bukan untukmu, apalagi merebut dari orang lain dengan cara yg buruk,
Tunggulah saja, hal itu akan membuat hidupmu sakit, susah, dan bencana kepada keluarga
Semua itu akan hilang kembali menjadi semestinya

Apabila seumpama tenang itu hanya bisa dibeli dengan banyaknya harta,
Bagaimana susahnya orang yang tak punya
Untungnya, tenang bisa dimiliki siapa saja yg bisa mendamaikan hatinya terhadap keduniawian
Senang membantu terhadap orang lain, serta memasrahkan hidupnya kepada Allah SWT

Kerja itu memang susah, tetapi lebih susah lagi bila tidak bekerja
Jalani & syukuri saja apa yg telah ada.

– Anonim –

*note:
Pesan didapat dari grup di whatsapp tanpa menyertakan sumber. Dicari di google belum juga nemu sumbernya.
Mohon dimaafkan juga kalau terjemahannya mungkin dirasa agak miring-miring sedikit. Maklum, saya terjemahkan sendiri. Menerima ralat kalau ada yg dirasa lebih tepat terjemahannya. 😀

Salam,
Galuh Nindya

Jeda

Sejatinya, yang tengah kita butuhkan adalah jeda
Istirahat sejenak di antara hiruk pikuknya hari
Di antara riuh rendahnya lalu lalang pikiran yang melalui
Berhenti sejenak untuk melakukan pengejaran-pengejaran.

Jeda, untuk kembali ‘hadir’ di saat ini,
Kembali menyadari segala anugerah yang telah diberi.
Henti sejenak, guna menghimpun energi kembali,
untuk hasil yang lebih tak dinyana diri.

Kawan, bukankah gergaji bila digunakan terus menerus juga akan tumpul?
Bukankah sesekali ia juga perlu diistirahatkan dan diasah kembali?

Dan ternyata, Allah sudah atur semuanya sesuai dengan kebutuhan diri.
Bukankah sebenarnya shalat adalah kesempatan jeda, yang telah diberi Allah untuk charge energi diri?
Bukankah shalat membantu kita untuk kembali menurunkan ritme kepala dan kerasnya hati?
Bukankah dg shalat, kita bisa kembali ‘hadir’ di saat ini,
Menyadari penuh segala doa-doa yang dilafalkan pada Ilahi,
Pikiran tak lagi berlompatan antara luka-luka masa lalu dengan kecemasan-kecemasan yang belum tentu terjadi?
Ternyata, Allah sudah beri kesempatan kita untuk jeda, minimal sebanyak 5x dalam sehari,
di antara riuh rendahnya hari.

Sayangnya, seringkali kita terlupa,
Tabrak sana sini, berlari tiada henti,
Abai terhadap lelah diri.
Terlupa, bahwa sejatinya, jeda adalah rahasia keseimbangan dalam hidup ini.

Salam,
Galuh Nindya

Perkara Sakit Hati

Aku naifkah Bund? Pinginnya, orang tuh nggak nyakitin aku. Soalnya aku nggak pernah ada niat nyakitin orang“, tanya seorang kawan. Saya tak menjawab apakah ia naif atau tidak. Sebab, fokusnya bukan di situ. Saya melihat ada yang tidak konsisten dari ucapannya. Premis pertama, ia bilang bahwa ia tak ingin menyakiti orang, maka objeknya adalah perasaan orang lain yang bisa jadi merasa tersakiti olehnya. Namun, di premis kedua, ia katakan bahwa ia tak pernah ada niat untuk menyakiti orang lain. Ia membandingkan apa yg bisa jadi dirasakan oleh orang lain sebagai akibat dari tindakannya, dengan niat yang ia miliki kala melakukan suatu tindakan.

Saya jelaskan padanya, tentu kita tak bisa juga demikian. Sebab, bisa jadi juga, kala kita merasa tersakiti oleh perilaku/sikap/tindakan orang lain, yang bersangkutan sendiri tidak pernah berniat untuk menyakiti kita. Sama. Lagipula, bukankah kita tak bisa mengontrol orang lain? Yang bisa kita lakukan adalah hanya berusaha mengontrol diri sendiri, pun mengatur persepsi yang ada dalam diri.

“Keliatannya kalo ngomong gampang ya? Tapi ancen uaanggeeelll (memang sangat sulit) kok praktiknya. Hehe. Tapi kan yang penting kita mau usaha.”, tambah saya.

“Hehe. Iya. Manusiawi ya Bund?”

“Iya. Ya tapi daripada kita capek sendiri? Kita kan nggak bisa juga kontrol mereka. Sakit nggak sakit, kecewa nggak kecewa, bahagia nggak bahagia, semua cuma bergantung dari ‘kacamata’ yang kita pake aja sebenernya.”, imbuh saya.

“Aku ini sensitif kah Bund? Atau wajar aja kalo aku kesel (kesal)?”, tanyanya berikutnya.

“Ya wajar aja. Cuma kan berikutnya kita bisa pilih, mau terus kesel, merasa direndahkan, disepelekan, dan lain-lain, atau lihat dari sisi lainnya lagi.”

———————————————————————————————————————————————–

Curhat teman saya tersebut, mengingatkan saya pada sebuah kisah tentang ‘tetangga dan kotoran’. Saya lupa judul persisnya apa dan pernah baca di mana, tetapi saya masih ingat inti ceritanya.

Alkisah, ada orang kaya raya yang sangat dermawan. Ia mempunyai kebun berbagai buah-buahan di halaman belakangnya. Setiap kali pohonnya berbuah, ia dengan senang hati membagi buah-buahan hasil panennya tersebut kepada tetangganya. Namun apa yang terjadi? Tetangganya membalasnya dengan memberinya gundukan kotoran kerbau di depan rumahnya. Begitu terus balasannya setiap kali ia membagi buah hasil panennya kepada tetangganya tersebut. Sakit hatilah ia. Ia dengan senang hati berbagi pada tetangganya. Niatnya baik. Tetapi apa balasannya? Tetangganya memberinya gundukan kotoran kerbau.

Hingga suatu hari, baru terpikirlah ia. Barangkali kotoran ini ada manfaatnya. Diambillah gundukan kotoran yang diberi tetangganya tersebut. Dibawanya ke kebun belakang, dan digunakannyalah untuk pupuk pohon-pohon buahnya. Kebunnya makin rimbun dan buah-buahan tumbuh subur. Ia bahagia sekali. Ia tak lagi sakit hati pada tetangganya, dan justru semakin berterima kasih atas pemberiannya. Dibaginya lagi buah-buahan yang semakin banyak pada tetangga yang memberinya kotoran kerbau tersebut sebab dari hasil panennya semakin berlimpah. Setelahnya, makin harmonislah hubungan keduanya.

Ah.. betapa indahnya bukan?

Dari kisah tersebut, kita bisa lihat dari beberapa sisi. Bisa jadi, tetangganya tersebut memang berniat buruk pada Si Kaya. Atau, bisa jadi pula, tetangganya tersebut memang berniat memberi kotoran untuk digunakan sebagai pupuk. Namun, entah apapun niatnya, Si Kaya akhirnya berhasil melihatnya dari sisi positif, sehingga hasilnya pun lebih indah. Hubungannya dengan Sang tetangga menjadi harmonis, dan mereka menjadi sama-sama bahagia. Bayangkan bila Si Kaya terus merasa sakit hati, lalu membalas lagi kepada tetangganya. Heu. Serem!

Nah, dari curhat kawan saya di atas & kisah tentang kotoran kerbau tersebut, bisa disimpulkan beberapa hal:
– Bisa jadi, cara kita mencintai justru menyakiti orang lain. Atau, bisa juga, bisa jadi, kita tersakiti oleh tindakan orang lain, belum tentu karena ia berniat menyakiti kita, tetapi mungkin justru itulah caranya mencintai kita. Sayangnya, caranya kurang tepat.
– Kala orang lain (mungkin) berniat menyakiti kita, respon berikutnya kitalah yang menentukan. Kita bisa saja marah. Namun kita bisa juga mengambil pelajaran, atau mencari sudut pandang lain dari kejadian tersebut. Respon kita nantinya, akan menentukan pula bagaimana kisahnya akan bergulir.. (*halah lebay :D)

Kawan, kebahagiaan yang kita rasakan bukanlah tanggung jawab orang lain, melainkan ada pada diri kita sendiri. Kebahagiaan adalah pilihan dan bukan seperti model stimulus – respon yang bersifat otomatis.

Saya jadi teringat sebuah quote favorit dari Dedy Susanto, “Masalah tidak akan menjadi masalah bila perasaanmu tidak bermasalah.

Semoga kita dimudahkan Allah untuk terus aware terhadap state diri sendiri. Dimudahkan untuk memilih respon, sehingga dapat tercipta perasaan dan emosi yang tetap tenang dan menyenangkan. Aamiin yra.

Salam,
Galuh Nindya

Untuk Tiap Kesedihan

Untuk tiap sedih yang dirasa.
Untuk tiap sulit yang perlu diatasi.
Untuk tiap sakit yang diderita.
Untuk tiap krisis yang perlu dilalui. Dan untuk tiap tantangan yang harus dihadapi.

Percayalah,
bahwa akan ada keindahan, kebaikan, dan kebahagiaan yang mengiringi setelahnya.

Fainna ma’al ‘usri yusraa..
Inna ma’al ‘usri yusraa Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Percayalah bahwa berikutnya kita akan tetap baik-baik saja.
Sebab Allah tak akan membebani lebih dari yang kita bisa.
Mari tetap tegakkan badan dan angkat kepala.

Salam,
Galuh Nindya

Berimankah Kita pd Al Quran?

Alhamdulillah, finally posting lagi setelah sekian lama. Sampai-sampai baru ngeh kalau format blog-nya sudah berubah. Hehe

Jadi begini, belakangan ini, saya merasa semakin bersyukur dg kehidupan spiritual di kantor. Dulu, saya ingiiin sekali di kantor diadakan speaker yg bisa memperdengarkan adzan agar para pegawai tak terlupa waktu shalat. Seiring waktu berjalan, alhamdulillah, keinginan saya tersebut terwujud. Tak hanya speaker, namun kantor membangun musholla, dan mengadakan shalat berjama’ah saat waktu shalat tiba dengan adzan yg dikumandangkan live oleh pegawai kantor secara sukarela.

Dan saat Ramadhan ini, di musholla kami ada kegiatan kultum ba’da shalat dhuhur, dengan pemateri dari pegawai kantor kami sendiri, secara bergiliran, baik dari jama’ah laki-laki maupun perempuan. Rasanya bahagiaaa sekali. Tak hanya bekerja, namun ada siraman & vitamin spiritual bagi kami, jiwa-jiwa yg seolah serasa sudah kekeringan. Saya berharap, semoga kebiasaan-kebiasaan baik tersebut bisa istiqomah, syukur-syukur lebih berkembang, & bermanfaat bagi kami semua. Aamiin yra.

By the way, itu tadi hanya pengantar. Melihat judul tulisan ini, sebenarnya beberapa kalimat saya di atas tadi bukanlah inti post ini dibuat. Hehehe.. Kali ini, saya ingin berbagi kultum yg alhamdulillah telah saya sampaikan di kantor ba’da dhuhur tadi. Semoga bisa bermanfaat bagi kawan-kawan yg membacanya. Mohon maaf bila yg ditulis di bawah ini mungkin tidak sama persis dg yg telah saya sampaikan siang tadi. Maklum, bila verbal, terkadang terselip improvisasi yg spontan :D. Berikut adalah konsep kultum saya:

————————————–

Assalamu’alaikum wr wb

Hadirin yang dimuliakan oleh Allah, Alhamdulillah, siang ini saya diberi kesempatan untuk menyampaikan kultum. Berhubung saya juga masih dalam proses belajar, dan saya merasa ilmu agama yg saya miliki masih jauh dari cukup, maka siang ini perkenankan saya sekedar sharing kepada teman-teman semua, mengenai sebuah inspirasi yg saya dapat dari buku yg saya baca. Ditulis oleh seorang ustadz muallaf, yg bernama Ust. Felix Yanuar Siauw. Judul bukunya adalah Beyond the Inspiration. Dalam proses membaca buku beliau inilah ada beberapa moment & tulisan yg saya rasa berhasil menohok ke dalam hati saya. Dan, kali ini saya ingin berbagi tentang yang telah saya baca itu kepada Bapak/ibu sekalian, semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin

Dalam bukunya tersebut, Sang ustadz menuliskan kisah perjalanan spiritualnya, bagaimana ia berproses hingga memutuskan memilih Islam sebagai agamanya. Ustadz Felix ini adalah seorang Chinese, awalnya seorang Kristiani, dan berasal dari sebuah keluarga Kristen Katolik yang taat. Al Quran, adalah awal mula ia menemukan hidayah sehingga dapat menjadi seorang muslim seperti saat ini.

Hadirin, pada saat kita melihat pada buku-buku textbook atau buku-buku pada umunya, kita dapat melihat pd bagian-bagian awal, yaitu kata pengantar pd buku yg menjelaskan untuk apa buku itu dibuat & kepada siapa buku itu diperuntukkan. Biasanya, seringkali kita membaca pd akhir buku, “Tak ada gading yg tak retak. Begitupun isi buku ini masih jauh dari kesempurnaan.” Kalimat yg digunakan menyampaikan maksud bahwa penulis bukunya tidaklah sempurna.

Al Quran, pd ayat-ayat awal juga menjelaskan untuk apa kitab ini dibuat sekaligus menunjukkan bagi siapa saja kitab itu dibuat & diperuntukkan. Sebagai buktinya, adl kata pengantar di Al Quran yaitu:

“Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (Al Baqarah: 2).

Kata pengantarnya istimewa & mewakili Sang Pencipta, untuk memberitahu kita bahwa kitab itu sempurna & tidak ada kesalahan & keraguan di dalamnya. Menegaskan bahwa kitab ini tidak mungkin dibuat oleh manusia karena manusia tak mungkin membuat sesuatu yg sempurna. Lalu berikutnya muncul lagi pertanyaan, mengapa Al Quran begitu berani mengklaim dirinya sebagai suatu kitab yg tidak ada keraguan padanya? Hal ini dijawab dlm Al Quran pd surat yg sama, pd Al Baqarah ayat 23,

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”

Al Quran memberikan tantangan bagi siapa saja yg meragukan kebenaran & kesempurnaannya. Logikanya adil, kalau ada seorangpun yg bisa mendatangkan 1 surah saja yg semisal Al Quran, maka itu membuktikan bahwa Al Quran salah & tak perlu mengambilnya sebagai petunjuk. Bahkan, Allah memperbolehkan seluruh manusia & jin untuk bersekutu untuk menyambut tantangan ini. Oleh karenanya, ayat ini & ayat yg semisalnya dlm Al Quran sebenarnya adalah sebuah segel yg datang dari Allah untuk membuktikan bahwa inilah kitab yg layak menjadi manual instructions bagi manusia yg menggunakan akalnya. Pilihannya cuma dua, bisa mendatangkan ayat yg sejenis, atau mengambil Al Quran sebagai jalan hidupnya.

Berbekal bahwa Al Quran adalah manual yg benar inilah kita menemukan jawaban atas pertanyaan besar manusia, yaitu “Untuk apa kita hidup di dunia?” yaitu untuk beribadah pada Allah secara total dalam kehidupan ini, seperti yg tercantum dalam Quran Surat Ad Dzariyat: 56

“Dan Aku tdk menciptakan jin & manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”

Hadirin, ibadah dalam Islam tidak boleh diartikan secara sempit, yg hanya berkisar dalam ibadah ritual saja. Akan tetapi, ibadah yg sesungguhnya adalah setiap aktivitas kita selama 24 jam disesuaikan dengan kehendak Allah SWT. Inilah yg disebut Islam Kaaffah, Islam secara keseluruhan. Oleh karenanya, sejatinya bagi seorang muslim, setiap aktivitasnya, baik shalat, zakat, puasa, haji, bekerja, berinteraksi, dll adl harus diselesaikan menurut solusi yg telah diberikan Allah dalam Al Quran.

“Hai orang-orang yg beriman, masuklah kamu ke dlm Islam secara keseluruhan.” (Al Baqarah: 208)

Setelah membaca beberapa bagian tulisan Ustadz Felix tersebut, rasanya semakin tertohok & muncul keraguan dalam diri. Apakah benar diri ini sudah layak dikatakan Muslim & benar-benar beriman, sedang diri ini masih belum menjalankan petunjuk yg diberikan Allah secara keseluruhan? Sedangkan salah satu rukun iman dalam Islam, adalah iman kepada Kitab Al Quran. Jangankan menjalankan petunjuk yg ada di dalamnya, membacanya saja masih jarang, apalagi baca terjemahnya, apalagi mempelajari isinya. Atau, kalaupun menjalankan, apakah diri ini sudah menjalankan secara keseluruhan? Bukankah seringkali diri ini masih memilah, sebagian dilaksanakan, & sebagian yg lain disisihkan krn tak sesuai dg maunya diri, seperti yg diperingatkan Allah dlm Surah Al Baqarah ayat 85

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab & ingkar terhadap sebahagian yg lain?”

Hadirin yg dirahmati Allah, ketika menciptakan manusia, Allah menyertakan manusia manual instructions atau aturan-aturan baginya untuk hidup di dunia agar sesuai dengan alasan penciptaan manusia & supaya manusia bisa hidup dg nyaman & tidak timbul kerusakan pada diri mereka. Oleh karenanya, kita perlu menjadikan Al Quran sebagai pedoman dalam menjalani hidup. Sebagai acuan. Kita yg mengikuti apa yg dikatakan dlm Al Quran, dan bukannya Al Quran yg menyesuaikan bila tak sesuai dengan yg kita inginkan.

Hadirin, bukankah iman adalah mempercayai dg sepenuh hati tanpa ada keraguan sedikitpun di dalamnya? Lalu bagaimana sikap kita pada Al Quran, yg seringkali membaca bila sempat saja, mempelajari kalau sedang mood, menghayati saat ada masalah, dan mengamalkannya bila menguntungkan serta mengabaikan bila merugikan? Bukankah keempatnya itu termasuk ciri-ciri insan yang abai terhadap Al Quran?

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua sehingga kita menjadi orang-orang yang mencintai Al Quran, membacanya, menghafalkannya, memahaminya dan mengamalkannya. Semoga kita dimudahkan Allah untuk terus memperbaiki diri dalam jalan-Nya. Aamiin yra.

Demikian yg dapat saya sampaikan siang hari ini, mohon maaf bila ada kekurangan. Wabillahitaufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum wr wb.

——————————————————

Salam,
Galuh Nindya