Puisi

Jarak

image

Jarak,
Membantu kita, untuk lebih mudah lagi menjaga diri, sebelum waktunya benar-benar tiba.
Jarak,
Memberi kita jeda, agar diri bisa lebih banyak lagi mengalunkan doa-doa.
Jarak,
Akan membuatmu lebih mengerti, apakah ini akan tetap berlangsung lama, atau hanya bertamu sebentar saja.
Percaya, jarak akan tetap membantumu, dengan caranya.
Sabar, dan percayakan saja pada-Nya.

Salam,
Galuh Nindya

Jeda

Sejatinya, yang tengah kita butuhkan adalah jeda
Istirahat sejenak di antara hiruk pikuknya hari
Di antara riuh rendahnya lalu lalang pikiran yang melalui
Berhenti sejenak untuk melakukan pengejaran-pengejaran.

Jeda, untuk kembali ‘hadir’ di saat ini,
Kembali menyadari segala anugerah yang telah diberi.
Henti sejenak, guna menghimpun energi kembali,
untuk hasil yang lebih tak dinyana diri.

Kawan, bukankah gergaji bila digunakan terus menerus juga akan tumpul?
Bukankah sesekali ia juga perlu diistirahatkan dan diasah kembali?

Dan ternyata, Allah sudah atur semuanya sesuai dengan kebutuhan diri.
Bukankah sebenarnya shalat adalah kesempatan jeda, yang telah diberi Allah untuk charge energi diri?
Bukankah shalat membantu kita untuk kembali menurunkan ritme kepala dan kerasnya hati?
Bukankah dg shalat, kita bisa kembali ‘hadir’ di saat ini,
Menyadari penuh segala doa-doa yang dilafalkan pada Ilahi,
Pikiran tak lagi berlompatan antara luka-luka masa lalu dengan kecemasan-kecemasan yang belum tentu terjadi?
Ternyata, Allah sudah beri kesempatan kita untuk jeda, minimal sebanyak 5x dalam sehari,
di antara riuh rendahnya hari.

Sayangnya, seringkali kita terlupa,
Tabrak sana sini, berlari tiada henti,
Abai terhadap lelah diri.
Terlupa, bahwa sejatinya, jeda adalah rahasia keseimbangan dalam hidup ini.

Salam,
Galuh Nindya

Kuminta Engkau di Langit

Kuminta engkau pula di langit
Sebab aku pun tau,
Betapapun adanya engkau di bumi
Namun kunci itu ada di langit

Biarlah doa-doa kita sama-sama melesat ke angkasa, menggetarkan singgasana-Nya
Biarlah lantunan doa kita saling menjemput dalam sunyinya sepertiga malam
Di antara gugusan bintang-bintang

Biarlah diri tak henti, tak bosan, tak lengah merayu memohon, bermunajat pada-Nya
Dalam lembutnya hembusan semilir gesekan dedaunan

Semoga, doa-doa kita dapat bertegur sapa dan saling berpaut
Hingga perkenan-Nya mempertemukan kita
Sesuai cara-Nya,
Tepat pada waktunya
Dan semoga, Ia senantiasa mudahkan diri kita
Tuk sama-sama menjaga hati, sembari terus memperbaiki diri
Hingga hari suci itu tiba

Duhai engkau,
Jemput aku dalam doa sepertiga malammu,
Sebagaimana tak hentinya kujemput engkau dalam sujud-sujud panjang dan simpuh kala kuterjaga di tiap malamku
Pinta aku di langit, sebagaimana kuminta pula engkau di langit

Semoga Allah mudahkan jalan kita :’)

Galuh Nindya

Ada di Langit

Aku tinggal di bumi. Tapi, carilah aku di langit.
Sebab, aku tertahan di antara bintang-bintang.
Kau jemput aku dengan doa-doa setelah shalatmu.
Kau tengadahkan tanganmu atau bersujud, berdoalah untuk memintaku.
Aku tertahan, dan garis batas yang membentang di antara kita selebar langit dan bumi.

Aku tinggal di bumi. Tapi, carilah aku di langit.
Di sepertiga malammu, saat Tuhan turun ke langit bumi.
Mintalah aku yang berada di genggaman-Nya.
Percuma mencariku di bumi, sebab kunci itu ada di langit.
Kunci yang akan menghapus garis batas di antara kita.
Mengubah garis yang tadinya neraka, menjadi surga.

Aku berada di tempat yang tidak bisa kau temui di bumi.
Tapi kau bisa menemuiku di langit, meski bukan wujud kita yang bertemu.
Melainkan doa-doa kita yang menggetarkan singgasana-Nya.
Temukan aku di langit, di dalam doa-doa panjangmu.
Di dalam harapanmu.

Meski kita tak saling tau nama, tak saling tau rupa. Jemputlah aku di langit.
Sebab aku tau, kau mengenalku bukan karena nama dan rupa.
Doa kita telah bertemu sebelum fisik kita.

Mudah bagi-Nya membuat kita kemudian bertemu.
Tak hanya bertemu, namun juga disatukan.
Sebagaimana doa-doa yang sebelumnya kita panjatkan.

Pertemuan kita yang pertama berada di langit kan?
Sekarang kau tau, mengapa aku memintamu mencariku di langit?

– Anonim –

Percayalah… Kelak Engkau Akan Merindukan Kembali

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembałi
Saat buah hatimu terus membuntuti
Dan tak ingin engkau pergi
Sementara tumpukan piring kotor menanti untuk dicuci

Percayalah… kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika buah hatimu ditahan di tangan kiri
Karena menangis tak mau ditinggal sendiri
Sementara tangan kananmu memegang kuali

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika kau sibuk penuhi kebutuhan asi
Berbaring memeluk diatas dipan yang tak pernah rapi
Sementara buah hati lainnya berteriak dari kamar mandi
Meminta bantuanmu untuk bersuci

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika kau tak bisa membaca dengan penuh konsentrasi
Karena tangan kecil menarik memintamu menemani
bermain masak-masakan atau kereta api

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Pakaian kotor yang menggunung menantimu membilas kembali
yang diwarnai beragam noda hasil kreasi
Sementara kesibukan menyusui
Membuatmu sulit sekedar untuk nyalakan mesin cuci

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika meja makan selalu dihiasi
Tumpahan susu dan remahan roti
Atau nasi yang berserak setiap hari
Sementara semut terlanjur menghampiri
Sebelum sempat kau bersihkan kembali

Percayalah….. kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika menyusul si kecil yang kabur berlari
Menyusuri jalan keluar dari garasi
Sementara masakanmu menghitam dibakar api

Percayalah…. kelak engkau akan merindukan kembali
Alas kasur yang khas berbau air seni
Buka tutup popok yang diganti berkali-kali
Sementara hujan terus menerus membasahi

Kelak engkau akan merindukan kembali
Ketika satu persatu merantau pergi
Jalani masa depan membentuk jati diri
Dan ketika kelak mereka menjadi suami atau istri

Karena kelak engkau akan merindukan kembali
Jangan hiasi masa ini dengan amarahmu yang akan terekam dalam memori
Karena kelak engkau akan merindukan kembali
Jangan lewati masa ini dengan luapan emosi
Yang kelak hanya dapat kau sesali
Karena kelak engkau akan merindukan kembali
Jangan biarkan sosok lain menempati posisi yang lebih berarti
Karena dimasa ini engkau lewati dengan kesibukan diri sendiri

Percayalah…. masa-masa seperti ini akan berganti sebentar lagi
Dengan kerepotan yang lebih banyak pada urusan pikiran dan hati

By: Kiki B

Salam,
Galuh Nindya