Vibrasi & Mindfulness

As I Began to Love Myself

As I began to love myself I found that anguish and emotional suffering
are only warning signs that I was living against my own truth.
Today, I know, this is “AUTHENTICITY”.

As I began to love myself I understood how much it can offend somebody
As I try to force my desires on this person, even though I knew the time
was not right and the person was not ready for it, and even though this
person was me. Today I call it “RESPECT”.

As I began to love myself I stopped craving for a different life,
and I could see that everything that surrounded me was inviting me to grow.
Today I call it “MATURITY”.

As I began to love myself I understood that at any circumstance,
I am in the right place at the right time, and everything happens
at the exactly right moment. So I could be calm.
Today I call it “SELF-CONFIDENCE”

As I began to love myself I quit steeling my own time,
and I stopped designing huge projects for the future.
Today, I only do what brings me joy and happiness, things I love to do
and that make my heart cheer, and I do them in my own way and in
my own rhythm. Today I call it “SIMPLICITY”.

As I began to love myself I freed myself of anything that is no good for
my health – food, people, things, situations, and everything that drew
me down and away from myself. At first I called this attitude
a healthy egoism. Today I know it is “LOVE OF ONESELF”.

As I began to love myself I quit trying to always be right, and ever since
I was wrong less of the time. Today I discovered that is “MODESTY”.

As I began to love myself I refused to go on living in the past and worry
about the future. Now, I only live for the moment, where EVERYTHING
is happening. Today I live each day, day by day, and I call it “FULFILLMENT”.

As I began to love myself I recognized that my mind can disturb me
and it can make me sick. But As I connected it to my heart, my
mind became a valuable ally. Today I call this
connection “WISDOM OF THE HEART”.

We no longer need to fear arguments, confrontations or any kind of problems
with ourselves or others. Even stars collide, and out of their crashing
new worlds are born.Today I know THAT IS “LIFE”!

[As I Began to Love Myself – Charlie Chaplin, on his 70th birthday, 1959]

I care, I share _/|\_

Salam,
Galuh Nindya

Jeda

Sejatinya, yang tengah kita butuhkan adalah jeda
Istirahat sejenak di antara hiruk pikuknya hari
Di antara riuh rendahnya lalu lalang pikiran yang melalui
Berhenti sejenak untuk melakukan pengejaran-pengejaran.

Jeda, untuk kembali ‘hadir’ di saat ini,
Kembali menyadari segala anugerah yang telah diberi.
Henti sejenak, guna menghimpun energi kembali,
untuk hasil yang lebih tak dinyana diri.

Kawan, bukankah gergaji bila digunakan terus menerus juga akan tumpul?
Bukankah sesekali ia juga perlu diistirahatkan dan diasah kembali?

Dan ternyata, Allah sudah atur semuanya sesuai dengan kebutuhan diri.
Bukankah sebenarnya shalat adalah kesempatan jeda, yang telah diberi Allah untuk charge energi diri?
Bukankah shalat membantu kita untuk kembali menurunkan ritme kepala dan kerasnya hati?
Bukankah dg shalat, kita bisa kembali ‘hadir’ di saat ini,
Menyadari penuh segala doa-doa yang dilafalkan pada Ilahi,
Pikiran tak lagi berlompatan antara luka-luka masa lalu dengan kecemasan-kecemasan yang belum tentu terjadi?
Ternyata, Allah sudah beri kesempatan kita untuk jeda, minimal sebanyak 5x dalam sehari,
di antara riuh rendahnya hari.

Sayangnya, seringkali kita terlupa,
Tabrak sana sini, berlari tiada henti,
Abai terhadap lelah diri.
Terlupa, bahwa sejatinya, jeda adalah rahasia keseimbangan dalam hidup ini.

Salam,
Galuh Nindya

DNA : Pikiranmu Jadi Sumber Penyakit dan Kesembuhan

Nusantaraku

Selama ini kita masih sulit memahami bagaimana mekanisme pikiran positif dapat mempengaruhi kesuksesan, kesehatan, dan kebahagiaan kita. Lima abad lalu bahkan baru 5 dekade yang lalu, manusia  percaya bahwa kesakitan atau kesembuhan murni datang dari Sang  Pencipta sebagai cobaan. Sebelum dunia kesehatan dan medis menemukan fatogen-fatogen eksternal dan internal, bibit penyakit seperti Malaria, Kolera, Tifus dianggap sebagai kiriman setan atau cobaan dari Tuhan. Begitu juga, masyarakat kita saat inipun sempat mengabaikan aspek unsur kimiawi yang terrkandung dalam batu Ponari  yang dapat menyembuhkan + fakor sugesti/pikiran positif dan langsung menjudge bahwa itu syirik (ada setan) atau sebaliknya itu mukzizat dari Allah/Tuhan yang diperantarakan.

Jika boleh saya menilai, maka pola sikap dan pemikiran “short-cut” (asal bunyi tanpa observasi, data dan pengujian) seperti itu tidak jauh berbeda dengan pola pemikiran kita 5 abad yang lalu, hanya saja saat ini masyarakat telah memiliki knowledge yang lebih mengenai patologi. Namun, pemikiran yang sengaja…

View original post 1,962 more words

Living Here & Now

“aduh.. aku jadi nggak enak nih mikirin minggu depan. belum apa-apa aja udah kangen.”

Begitulah curhat seorang kawan. Ia baru saja menerima amanah untuk berangkat dinas luar kota selama beberapa hari. Terbayang baginya bagaimana ia harus meninggalkan putri bungsunya yang masih berusia 7 bulan & minum ASI. Tersenyum saya menanggapinya. Belum pernah sekalipun ia meninggalkan putri bungsunya ini tugas luar kota sehingga ini akan menjadi pengalaman pertama kalinya. Jadilah saya maklum atas curcol-nya tersebut. “Sudah mbak, itu kan masih lama. Jangan dipikir susah-susah, dibayangin beratnya sekarang. Nanti mbak yang rugi sendiri. Yang bisa dihadapi sekarang, kita hadapi sambil disyukuri.”, timpal saya.

“Ah, ngomong gitu kan emang gampang Luh.” tandasnya

“Iya mbak, emang di mana-mana ngomong lebih gampang. Itulah makanya kita perlu latihan buat ngontrol diri & pikiran kita. Biar kita nggak rugi sendiri. Ini aku juga lagi belajar kok. hehe..” jawab saya lagi.

“Tapi emang kita itu aneh ya mbak. Banyak dari kita yg terlalu sibuk mencemaskan yang akan datang, sedang yang sekarang lupa nggak dinikmati. Waktu kecil, kita pingin banget cepet gede. Waktu gede, kita pingin balik kecil. Waktu sekarang, sudah bingung mikirin yg besok, pas udah besok, mikirin pingin balik yang sekarang. Jadinya malah ga hidup di dua-duanya.”, sambung saya lagi.

“Iya juga sih ya. Toh besok-besok juga mesti dihadapi. Sama aja.” tambahnya.

“Nah!”

Dan tersenyumlah ia..

 ——————————————-

Ya, begitulah seringkali kita. Lupa untuk hidup here & now. Kata orang, living in the present. Pikiran kita seringkali disibukkan berloncatan tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan datang. Saat makan misalnya, tubuh kita sedang makan, namun pikiran kita sibuk melayang memikirkan hal lain, terburu-buru mikirin deadline atau rencana yang akan datang contohnya. Jadilah makanan itu tak terasa nikmatnya, jangankan cita rasa atau tekstur, yang penting asal kenyang. Cukup.

Seringkali, kita terlalu sibuk mencemaskan masa depan, hingga lupa hidup di hari ini. Padahal jika dihitung-hitung, berapa banyak sih yang kita cemaskan itu akhirnya terbukti terjadi? Sedikit sekali kan?

Lantas, alih-alih sibuk memikirkan ketakutan-ketakutan akan masa depan yang belum tentu terjadi, mengapa kita tak mencoba untuk ‘hadir’ pada saat ini, detik ini. Mencoba menyadari dengan penuh semua yang kita hadapi & alami saat ini. Saat berangkat kerja misalkan. Daripada kita terpaku pada jam masuk kantor & berkejaran dengan lalu lintas kota yang luar biasa, mengapa kita tak memutuskan untuk berangkat lebih pagi & menyediakan spare time, dan menikmati waktu berkendara pagi sambil merasakan segarnya semilir angin, sejuknya rerumputan yang masih dihiasi embun, merasakan hangatnya sinar mentari yang masih perlahan menembus dedaunan, menghirup dalam-dalam udara pagi, sehingga kita bisa lebih menikmati & bersyukur karenanya.

Yang jelas, pilihan ada di kita sendiri. Mau terus susah, bingung, cemas, takut, sampai-sampai lupa karunia yang dihadapi hari ini, atau lebih memilih untuk ‘hadir’ di saat ini dan enjoy dengan yang ada dengan/bersama/di hadapan kita saat ini. Memang perlu latihan, tapi insya Allah bisa. Daripada kita rugi sendiri siiih.. Hehe..

Berkaitan dengan hal ini, saya jadi ingin berbagi pepatah yang cukup menohok dan menyentil’ diri saya secara pribadi:

Yang paling mengejutkan dari manusia adalah:
Mereka bosan dengan masa kanak-kanak, dan mereka terburu-buru untuk tumbuh besar, lalu akhirnya ingin kembali lagi ke masa kanak-kanaknya.
Bahwa mereka kehilangan kesehatannya untuk mengumpulkan uang, lalu mereka kehilangan uangnya untuk memulihkan kesehatannya.
Bahwa mereka berpikir dan mencemaskan tentang masa depan, mereka melupakan saat ini, sehingga akhirnya mereka tidak hidup di keduanya – tidak saat ini dan tidak pula di masa depan.
Bahwa mereka hidup seolah mereka tak akan mati, dan mereka mati seolah mereka tak pernah hidup sebelumnya.

Ya, mari kita nikmati saat ini. Rasakan benar-benar tiap detilnya. Karena bisa jadi, saat inilah yang suatu saat akan kita rindukan. Jangan sampai menyesal karena kita telah melewatkannya dengan begitu saja. 🙂

 

Salam,
Galuh Nindya

Energi Kebaikan

Kemarin, saya mendapat pengalaman singkat, namun terasa membekas di hati. Niat hati mau langsung membaginya dalam tulisan di blog ini, namun apa daya, tubuh ini sudah minta haknya untuk istirahat di malam hari. Jadi tertundalah hingga malam ini.

Jadi begini:

Kemarin sepulang kerja, saya mampir di sebuah mall untuk membeli barang keperluan karena yg saya punya sudah usang dan tampak semakin rusak. Seperti biasa, sebelum menentukan memilih sesuatu untuk dibeli, saya perlu untuk keliling-keliling dulu untuk mendapatkan gambaran ketersediaan barang yg saya cari berikut dengan harganya. Membandingkan satu dg yg lain, memastikan bahwa setelah beli, saya tak akan menyesal karena di perjalanan pulang setelahnya, saya menemukan barang lain yg lebih bagus, atau barang lain yg lebih murah dari yg telah saya beli. Hehe. Saat berputar-putar, keliling di satu tempat dalam waktu yg cukup lama, karena saya sedang bimbang memilih saat itu, ada mbak-mbak tak dikenal yang tiba-tiba menyapa, lalu menawarkan kupon diskon kepada saya. Tentu saya terkejut dan bingung pada awalnya. Tak paham dengan yg dimaksud mbak tadi yg tiba-tiba menyapa dan bilang, “Mbak, mau saya kasih kupon 50 ribu? Soalnya ini cuma bisa dipake hari ini, saya udah ga belanja lagi. Eman (sayang) kalo nggak kepake. Mau mbak? Ini bisa kok dipake.”  Saya ketenggengen (tertegun). Bingung mencerna kata-katanya yg sempat mengejutkan. Tak lama, saya paham maksudnya, namun saya masih tak yakin benar bahwa kupon yg diberikannya bisa saya gunakan. Batin saya, nothing to lose saja. Toh saya tak rugi apapun. Kalau bisa digunakan ya syukur, kalau tidak ya tak mengapa. Jadi ceritanya, di ‘toko’ tersebut sedang mengadakan trik marketing dg cara membagi kupon senilai 50 ribu rupiah bagi customer yang berbelanja dg jumlah minimal 150 ribu rupiah, dengan syarat kupon tersebut hanya bisa digunakan di hari yg sama. Ah, trik penjualan. Ya jelas tak akan banyak yg bisa menggunakan kupon tsb. Lah dapatnya saja kl belanja minimal sudah 150 ribu. Bisa dpt diskon lagi kalo belanja lagi. Untuk barang tertentu pula. Duitnya?

Oke. Kembali lagi ke kisah perjalanan kupon saya tadi, akhirnya, saya terimalah penawarannya. Saya ambil kuponnya. Setelah saya mengucap terima kasih, pergilah mbak-mbak tanpa nama tadi. Sedetik dua detik, perasaan saya tak ada beda dengan sebelumnya. Namun, seiring saya memilih-milih barang, muncul perasaan bahagia dalam hati saya. Saya kagum dengan mbak-mbak tadi. Sempat-sempatnya dia terpikir untuk membagikan kuponnya agar tetap bermanfaat. Padahal, saya sendiri seringkali punya pengalaman serupa, dapat kupon tapi hanya bisa dibelanjakan di hari yg sama, kupon itu tak pernah saya gunakan. Namun, belum pernah terlintas pula dalam pikiran saya untuk memberikannya pada orang lain. Dan mbak itu melakukannya!

Kupon itu akhirnya saya gunakan untuk berbelanja. Saya berhasil dapat potongan 50 ribu rupiah berkat mbak-mbak tanpa nama tadi. Muncullah rasa terima kasih dalam hati saya padanya. Serasa kedatangan malaikat yg tak terduga! Maklum, harga barangnya kalo ga didiskon, bayarnya berasa. Jadi kalo dapat diskon 50 ribu rupiah, ya lumayan. Hehe.. Daaaan ternyata, dari pembelanjaan saya tadi, saya masih dapat 2 kupon potongan lagi senilai total 100 ribu rupiah. Muncullah pemikiran dlm hati saya, akan saya apakan kupon ini. Toh saya tak mungkin belanja lagi. Jadi pilihannya cuma dua: mengikuti jejak mbak-mbak malaikat tadi, atau langsung pulang & membiarkan kupon itu tak berguna dlm dompet/tempat sampah. Sempat terpikir akan memberikannya pada orang lain, namun muncul bisikan dalam hati saya, “bagaimana memberinya? iya kalau orang itu mau, kalau enggak? belum lagi ntar ada yg nyangka aneh. sok kenal sok deket bagi-bagi kupon segala. bla bla bla..” adaaaa aja alesan di hati saya. Saya berkeinginan memberikannya pada orang lain, tapi masih antara ya dan tidak. Belum 100% bulet niat berbagi. Ah, niat baik aja kok banyak pertimbangan! 😀

Setelah nyari orang yg kira-kira ‘aman’ & terlihat perlu untuk dibagi ga nemu-nemu, akhirnya saya memutuskan pulang saja. Eh, ternyata di dekat pintu keluar, ada dua orang mbak-mbak yg terlihat serius sedang memilih-milih barang yg bisa dibeli dg kupon diskon 50 ribu saya tadi. Saya hampirilah mereka. Saya tawarkan kupon saya dg cara yg sedikit-sedikit mirip dengan mbak malaikat tadi. Saya amati ekspresinya, ia tampak terkejut juga. Idem dengan ekspresi saya saat tiba-tiba dihampiri mbak malaikat yg tak dikenal & ditawarin kupon diskon. Dan akhirnya, diterimalah kupon saya itu. Legalah hati saya. Rasanya bahagiaaaaaa sekali. Memang, saat diberi kupon tadi, saya bahagia. Kalau diskala, mungkin ada di level 2. Lalu saat mengetahui bahwa ternyata kupon yg saya terima tadi bisa saya gunakan saat pembayaran, level kebahagiaan saya meningkat jadi 5. Berikutnya, saat saya bisa memberikan kupon yg sama ke orang lain, level kebahagiaan saya naik lagi jadi 7. Daaaan saat mbak-mbak itu mau menerima pemberian saya, dan ia mengucapkan terima kasih tulus sembari tersenyum, saya jadi maaaaakin bahagia. Naik lagi levelnya jadi 9 atau 10 mungkin! *ini ga lebay loh*

Dari pengalaman sederhana itu, saya belajar. Berbagi itu mudah. Bahagia itu mudah. Tak perlu rumit-rumit ternyata. Kita bisa bahagia dg memulai untuk berbagi & membahagiakan orang lain. Mungkin bagi beberapa orang, kejadian tersebut bisa dinilai biasa. Namun bagi saya, itu istimewa. Ternyata kita bisa berbuat kebaikan apapun, walau dg cara yg sederhana. Bayangkan saja, kalau misal mbak tadi ga ngasih saya kupon, mungkin perasaan saya standar-standar aja. Terus saya ga bisa dapet diskon. Beda dg kejadian ini. Berkat mbak-mbak malaikat yg ngasih saya kupon, akhirnya saya ngerasa seneng, akhirnya saya ingin menularkan kebahagiaan saya, ingin berbagi dg yg lain, & insya Allah mbak-mbak yg saya kasih itu jg bahagia dg pemberian saya (aamiin). Bayangkan selanjutnya, bisa jadi mbak tadi karena bahagia, juga ingin menularkan kebahagiaannya dg yg lain lagi. Berbagi lagi. Nah. Sudah terbayang skemanya bukan? Betapa berbagi kebahagiaan itu bagai bola salju yg menggelinding. Menular dan semakin besar. Mungkin efek kebaikan yg kita lakukan tak langsung berbalik kepada kita. Namun saya percaya dg kebaikan yg kita beri, ada org lain yg juga bahagia, & ingin menularkan kebaikannya. Energinya terus menular. Dan entah pada saatnya, bisa jadi kita akan mendapat kebaikan dari orang lain pula. Siklus yg tak akan kita pahami alur detilnya.

Oh ya, kejadian ini, juga masih berhubungan dg pesan atasan saya sore tadi. Seperti biasa, kalau saya lembur, pulang kantor lewat dari jam kerja, beliau menemani sembari ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Dari diskusi tentang kantor, SDM, berbagi ilmu, berbagi cerita, dan juga berbagi pengalaman serta pesan filosofis. Kali ini, beliau berpesan, kebaikan yg kita lakukan itu bagai hukum deposito. Kalau kita mau dapat banyak, ya musti nabung yg banyak. Tabungan tadi ga usah diambil, tapi pas kita butuh nanti, tiba-tiba kita udah punya banyak.

Saya pikir, masuk akal juga.

Sehubungan dengan menularnya energi kebaikan, saya pernah nemu video di youtube yg berkaitan. Videonya bagus banget! Kontennya menyentuh & mengharukan. Saya ga bosen nonton berulang-ulang. Pingin banget berbagi videonya dg banyak orang, terutama orang-orang yg dekat dg saya, supaya tertular energinya. Hanya saja, belum ‘keturutan’ banget. Paling-paling cuma bisa share lewat facebook. Kali ini, mumpung tema tulisan saya masih nyambung, saya share juga lewat sini. Semoga bermanfaat & menginspirasi.

Jadi gimana? Terinspirasi untuk berbagi & menjadi pencipta kebahagiaan orang lain & diri sendiri?

Salam,
Galuh Nindya