Flashfiction

Suami

“Apa lagi, Syifa? Bukankah punya pasangan sudah lebih dari cukup? Bukankah yang terpenting adalah kau tak sendiri lagi dan ada yang bersedia mendampingi? Itu kan alasan mengapa kita perlu seorang suami?”

“Ya Zahida. Memang benar. Suami memang untuk mendampingi. Tapi aku tak mau bila sekedar demikian.”

“Lalu apa lagi, Syifa? Kau ini rumit sekali.”

“…..
Zahida, yang aku inginkan, kelak, suami akan menjadi rumah tempatku pulang, meski entah ke manapun mungkin aku telah melangkah. Suami adalah tempatku pulang, saat segala peluh di luaran telah tercurah. Aku mau, suami adalah tempatku pulang dan bersandar. Yang aku mau, suami adalah imam bagiku, di mana aku bisa mencium tangannya dengan takzim dan penuh hormat. Bahwa betapapun kerasnya aku, aku akan kembali kepada fitrahku sebagai perempuan kala menjadi makmumnya. Mentaati segala bimbingannya.

Ah, Zahida. Mungkin memang benar aku ini terlalu rumit. Aku tau manusia tak ada yang sempurna. Oleh karenanya tak pernah kunanti yang sempurna. Namun, aku juga tak mau bila hanya sekedar punya suami. Yang aku inginkan, nantinya, kami bisa senantiasa seiring sejalan. Bermitra meniti jalan menuju jannah-Nya.

Apa kau mengerti, Zahida?
Kau tau, saat kau memilih siapa yg kelak akan menjadi suamimu, maka kau pun juga memilih calon ayah dari anak-anakmu, yang dengannya kau akan bersama mendidik dan membesarkan putra putrimu menjadi insan insan yang kenal akan Tuhannya, yang kuat pendiriannya, yang akan membawa kesejukan bagi siapapun yang ada di sekitarnya. Kau pun juga sekaligus memilih, panutan dan imam dalam rumah tanggamu. Kau pun juga memilih, sahabat sejati yang akan dengan setia mendengar segala ceritamu. Kau pun juga sekaligus memilih pahlawanmu, yang akan dengan sabar membimbing sekaligus bersedia melindungimu. Kala kau memilih suami, maka kau memilih rumahmu untuk pulang. Aku mau, kelak, tak ada tempat yang lebih aku inginkan untuk pulang, selain kepadanya, Zahida. Aku mau benar-benar takzim kala mencium tangannya kelak. Oleh karenanya, boleh kan aku berhati-hati kala memilihnya?”

“Ah, Syifa.. aku mengerti sekarang. Semoga Allah mempermudah langkahmu, sahabatku.. Temukan rumahmu untuk pulang.”

Syifa tersenyum dan mengaamiini doa sahabat karibnya.
“Allahurabbi, kupercayakan segalanya hanya pada-Mu. Mudahkanlah bagiku membaca petunjuk-Mu. Tenangkanlah hatiku.”, lanjutnya meminta, dalam batinnya.

Air mata Syifa masih bercucuran. Tiap tetesnya menyatu dengan rerintik air hujan yang menyentuh rerumputan. Gemericiknya seakan menjadi senandung, mengiringi lantunan doa-doa yang dipanjatkan dalam batinnya. Setelah pembicaraan itu, suasana menjadi syahdu, kala senja sore itu.

Advertisements

Balada Rahasia

21.12.12

Aku bingung bukan kepalang. Baru saja manajer minta tolong untuk mempersiapkan semuanya. Beliau bilang, aku harus mengerjakannya sendiri dan jangan sampai ada seorang pun yang tau. Cukup antara manajer, supervisor, dan aku. Katanya, ini harus benar-benar dijaga dan dirahasiakan sebab pimpinan benar-benar ingin ini menjadi rahasia yang terjaga. Bahkan manajer lain pun tak ada yang tahu. Padahal sudah kusampaikan padanya, biasanya yang menghandle hal ini adalah aku dan Dafina. Aku tak enak pula padanya. Namun bagaimana lagi. Aku juga memahami kekhawatiran manajer. Pimpinan mempercayakan hal ini padanya. Semakin banyak yang tahu sebelum waktunya, maka akan semakin berbahaya.

————

25.12.12

Aku memahami kondisinya. Kuusahakan saja menerima amanah yang dipercayakan sebaik-baiknya. Jadi, lebih enak begini, lebih baik kerja di saat kawan-kawan lain menikmati akhir minggunya. Layar komputerku bisa nonstop membuka window yang sama: window-window yang perlu kuminimize – switch window lain saat aku bekerja di hari kerja atau jam kerja biasanya. Mau bagaimana lagi? Kala masih jam kerja, kawan-kawan banyak yang berlalu lalang melalui layar monitorku. Monitor harus selalu terjaga. Begitu ada yg lewat – minimize – switch window lain. Sudah semacam nonton hal terlarang di jam kerja saja aku. Pun dengan berkas-berkas yang ada. Harus rapi kusimpan dengan sebaik-baiknya sebelum harinya tiba. Demi rahasia. Demi amanah yang ada.

————

28.12.12

Semakin mendekati hari H, tidurku makin tak nyenyak. Mimpi tentang rahasia mengganggu tidur-tidur malamku. Rupa-rupanya tanpa sadar, sepertinya ego-ku sudah turut andil merepress kecemasanku. Cemas tentang rasa bersalahku pada Dafina. Cemas juga tentang amanah akan rahasia yang harus kujaga. Belum lagi teriring dengan adanya beberapa pihak yang semakin mendekati harinya, semakin dengan teganya bertanya memohon informasi, meski sebenarnya mereka tahu bahwa tak mungkin juga aku memberitahunya.

————

30.12.12

Ah.. akhirnya hari ini datang juga. Setelah acara selesai, terbebaslah aku dari rahasia yang harus kujaga. Hari ini aku belajar, bahwa rahasia adalah amanah yang luar biasa. Rahasia bisa menjadi beban kala benar-benar harus dijaga. Terlebih apabila pihak-pihak lain tahu bahwa rahasia itu ada pada kita.

Lega, tapi juga tak enak pada Dafina, Syarifah, dan Rana. Aku tau bahwa mereka juga bisa dipercaya. Tapi bagaimana lagi. Manajer dan supervisor bilang ini harus benar-benar dijaga. Ah, kadangkala amanah bisa jadi semacam dilema. Namun, bagaimanapun juga, amanah adalah amanah yang harus dijaga.

————

30.12.12

Agak kecewa rasanya hari ini. Bagaimana bisa Kezia dan Dafina bisa setega itu padaku dan Rana. Mereka kan juga tahu bahwa aku bisa dipercaya. Toh kami juga sadar diri dan tak mungkin akan membocorkan siapa saja pejabat yang akan dilantik nanti. Lagipula, ini sudah pagi di hari yang sama. Pelantikan juga akan dimulai tak kurang dari 1 jam lagi. Kami kan juga perlu berlatih daripada nantinya salah dan tak lancar membaca nama-namanya kala bertugas.

————

30.12.12

Aku paham bagaimana perasaan Syarifah dan Rana. Namun apa daya, bukankah ini adalah amanah yang harus aku jaga? Supervisor hanya bilang bahwa aku perlu bantu Kezia untuk menyiapkan ini semua dan harus menjaga rahasia. Bagaimana bisa aku membocorkannya kepada mereka, meski mereka kawan dekatku sendiri. Meski mereka juga turut bertugas. Meski aku juga yakin mereka amanah dan tak akan membocorkannya kepada yg lain. Namun bukan itu perkaranya.

Lagipula aku juga sebenarnya agak kecewa. Bagaimana bisa supervisor menyerahkan pekerjaan ini – pekerjaan yang biasa kutangani ini – kepada Kezia seluruhnya? Bukankah aku selama ini juga tak pernah membocorkannya? Bukankah selama ini aku juga berusaha sebaik mungkin untuk menjaga amanahnya? Lalu bagaimana bisa supervisor baru memintaku memeriksa dan melanjutkan apa yg telah dipersiapkan Kezia ini hanya di H-2 sebelum acara? Tapi ya sudahlah. Yang terpenting aku tak pernah menghianati amanah yang telah dipercayakan supervisor padaku.

———————————————————————————————————————————————

Kawan,
Ada rahasia.
Kau tau bagaimana sebuah rahasia bisa tak lagi menjadi rahasia?
Kala ada orang yang dipercaya untuk menjaganya, merasa bahwa ia juga bisa mempercayai orang lain lagi untuk bisa turut dipercaya menjaga rahasia orang lain yang diamanahkan kepadanya.
Lantas orang ketiga tadi, juga merasa sama pada orang lain lagi, yang ia rasa bisa ia percaya.
Begitulah seterusnya, rahasia terus bergulir hingga tak lagi menjadi sebuah rahasia.
Terus bergulir diiringi dengan ucapan, “Tapi jangan bilang siapa-siapa ya! Ini rahasia.” seiring dengan keyakinan dalam hatinya bahwa tak mengapalah ia ceritakan, toh hanya pada seorang ini saja – seorang yang benar-benar ia percaya.
Terus bergulir hingga menjadi rahasia semu.
Masing-masing merasa merekalah yang menyimpan rahasianya.
Sementara sang orang pertama tadi masih percaya bahwa rahasianya aman-aman saja di tangan seorang yang dipercayainya, yang ia yakin takkan pernah menghianatinya.
Kawan…
Inilah balada rahasia.

Kisah Sebuah Ruang

Ruangan itu. Gelap. Berdebu. Kosong. Sepi. Tak tampak sesuatupun di dalamnya. Hanya lantai yang sudah tebal diliputi debu. Ruang itu tak punya jendela. Hanya satu pintu di salah satu sisinya. Seolah memang itulah satu satunya jalan untuk memasuki ruangan itu. Hawanya pengap. Sepertinya memang sudah lama sekali ia tak terbuka. Tak ada sedikit cahaya yang masuk ke sana. Apalagi udara segar. Ruangan itu seperti terabaikan. Tak seperti ruang ruang lain dalam rumah itu. Begitu indah. Ruang itu seperti tak tersentuh, tak taulah, apa memang ia terlupakan, tak begitu penting hingga tersisih, atau memang ada sesuatu yang lain hingga ia tak pernah dibuka. Kadang begitu kasihan melihat ruangan itu.

Dulu, dulu sekali, ruang itu pernah kedatangan seorang tamu. Awalnya ia seperti tak yakin. Begitu lama ia tak pernah menerima tamu. Hingga tamu itu menggedor gedor pintunya. Begitu lama menunggu di luar. Ruang itupun tak juga mau membukakan pintunya. Tak tau. Sepertinya begitu berat ia membuka pintu. Hingga ruang sebelahnya berkata, mengingatkannya, “tak taukah kau, di depan pintumu ada seorang yang menunggu lama sekali, menggedor gedor pintumu, tak juakah kau bukakan pintumu barang sedikit dan izinkan ia masuk?”. Mungkin ruang itu merasa heran, atau ragu. Mana ada yang menyadari keberadaannya di sudut rumah itu. Ia sudah seperti terlupakan. Tak pernah didatangi, apalagai dikunjungi. Keadaan di dalamnya pun kini sudah begitu suram, parah. Sekian lama ruang itu berpikir, dan akhirnya ia memberanikan diri membuka pintunya sedikit demi sedikit. Ia begitu bahagia. Ada cahaya cerah ternyata di luar sana. Sudah lama sekali ia tak melihat cahaya. Dan akhirnya cahaya itu memasuki ruangnya perlahan, sedikit demi sedikit. Sedikit lebih teranglah ruangan itu. Ia juga menghirup udara segar yang memasuki celah pintunya sedikit demi sedikit dari luaran sana, menjadi lebih segarlah ruang itu dari sebelumnya. Tamu itu masih seperti memaksa ingin masuk. Meski ia tetap saja berdiri di luar, seperti meminta ruang itu membukakan pintunya lebih lebar sambil terkadang mengintip keadaan dalam ruangan. Ruangan itu seperti menunggu, menunggu ruangnya itu terbuka dengan begitu lebarnya, mengizinkan udara segar dan cahaya terang masuk dari luaran sana. Tapi sepertinya pintunya masih saja sedikit terbuka.

Berjarak beberapa lama, ruangan itu seperti mendengar derap kaki yang mendekatinya. Semakin lama semakin dekat. ia mengintip dari celah kecil pintunya, ternyata memang sepertinya ada tamu lagi yang akan datang. Tamu itu berbeda dengan tamu sebelumnya. Ia datang dengan diam. Tak berkata-kata. Ia semakin dekat pintu. Namun ia tak kunjung masuk. Ia juga tak pernah meminta dibukakan pintu. Sesampai di depan pintu, ia hanya bercerita. Menceritakan beberapa kisah hidupnya. Kisah sedihnya yang ia bilang tak bisa diceritakan lagi kepada yang lain selain dengan ruangan itu. Dalam hati, ruangan itu menjawab setiap cerita yang disampaikannya, “ah.. aku tau yang kau rasakan, kawan. Aku juga merasakannya. Sama.” Tamu kedua itu seperti terus bercerita, ia menjadi seperti berkawan dengan ruangan pengap dan gelap itu. Hampir setiap hari ia datang untuk berbagi cerita. Ia seperti lain. Seperti lebih menghargai ruangan itu. Ruangan yang merasa tersisih itu. Tak tau mengapa, tiba tiba ruangan itu mau membuka pintunya pelan pelan, sedikit lebih lebar dari sebelumnya. Padahal membuka pintu yang lama tak terbuka itu jauh lebih menyakitkan, perlahan, dengan bunyi berderit karena pelicin engsel sudah tak lagi tersisa. Sungguh sakit. Padahal ia juga tau bahwa tamu itu tak pernah memintanya membuka pintu. Tamu itu tak pernah mengatakan bahwa ia ingin masuk ke dalamnya. Tamu itu hanya datang bercerita, hanya ingin berbagi keluh kesah.

Dan aku juga tau, ruangan itu sudah terbiasa dijadikan lawan bicara kosong oleh beberapa orang. Ya. Beberapa orang yang melewatinya seperti berhenti sebentar untuk bercerita, atau malah seringkai datang bila mereka sedang bingung atau jengah tentang hidupnya. Mungkin karena mereka tau, ruang itu seperti tak pernah dianggap, tidak seperti bagian lain dari rumah itu, sehingga bila mereka datang untuk mengeluh, tak akan ada yang peduli bahwa mereka datang ke sana. Atau, memang karena mereka nyaman karena ruangan itu tak berjendela, hanya berpintu, dan bahkan, pintunya pun tertutup. Dengann kondisi demikian, sepertinya mereka dapat merasa jauh lebih nyaman berbicara dengan dinding dinding ruangan itu. Dinding dinding yang dingin karena tak pernah terkena terpaan cahaya hangat di dalamnya. Ruangan itu bahkan seperti sudah tak menghiraukan tamu yang pertama. Entahlah. Yang ia tau, tiba tiba ia sudah tak ada di depan pintunya. Tak tau apakah memang ia sudah pergi karena menyerah sebab tak jua diizinkan masuk, atau ia hanya bersembunyi di balik dinding di sisi lain ruangan itu. Yang aku tau, ia tak lagi berdiri di sana.

Tamu kedua itu, ia masih datang dan bercerita setiap harinya. Hingga suatu hari, ruangan itu berbicara, ia sepertinya sudah tak tahan, dan akhirnya mengeluh sedikit dengannya. Ada dialog di sana. Bukan saja tamu itu yang mengeluh, namun kini ruangan itu juga mengeluh, dan meminta sedikit bantuan padanya. Mungkin karena ruangan itu sudah menganggap bahwa ia kawan baik, tamu yang memang berdirinya paling dekat dengan dinding dan pintunya saat ini. Karena kebetulan saat itu hanya ia yang ada, dan ruangan itu tak tau lagi harus bicara pada siapa, selarut itu. Hanya saja, kulihat tamu itu menjadi tak seperti biasanya. Dia jauh lebih diam. Dan tiba tiba ia pergi. Ia tak lagi pernah kembali. Meninggalkan ruangan menyedihkan itu. Ruangan itu pun diam, dengan pintu yang sudah separuh terbuka, melihat tamunya itu pergi menjauh dari sudutnya. Beberapa kali ruangan itu mengetahui bahwa tamu itu melewatinya beberapa kali, menyadari keberadaannya, namun ia tak pernah menyapanya kembali. Mungkin menganggapnya seperti ruangan invisible. Pintu itu bahkan masih terbuka beberapa hari. Berjaga jaga mungkin ia mau datang lagi dan melihat lihat ke dalamnya. Namun ia tetap melenggang, sambil lalu.

Ruangan itu jengah. Ia cuma bisa diam. Pintunya tiba tiba berdebum tertutup. Ruangan itu merasa jauh lebih dingin dari biasanya. Dinding dindingnya semakin menebal. Pintunya semakin mengecil. Tak taulah nanti bila ada tamu lagi yang datang. Masih bisa masuk atau tidak. Ruangan itu pun tak tau, apakah bisa dindingnya yang semakin menebal itu runtuh, atau pintunya yang semakin mengecil itu dibuka, atau bahkan bisa dilewati tamu untuk masuk ke dalamnya, membiarkan cahaya dan udara segar masuk, lalu membuatnya menjadi lebih indah, dan merasa sama berartinya dengan ruangan lain di sudut sudut lain rumah itu. Tak tau. Yang aku tau. Ruangan itu tampak semakin menyedihkan. Dindingnya menebal, pintunya tertutup dan mengecil. Ah.. ruangan itu.. kembali gelap, pengap, berdebu, dingin, dan sepi. Gelap sekali.

Jadi ini salah setan?

Kinar sudah nggak tahan. Kinar pingin sekolah. Kinar berasa makin bodoh aja sekarang.

Sekolah terus. Kamu itu kapan punya pacarnya, Kinar? Biar ada yang anter-anter kamu kalo kamu sekolah lagi nanti.“, jawab ayah Kinar.

Dalam hati, Kinar mendengus kesal. Ayahnya tak bosan-bosan menuntutnya untuk segera punya pacar. Yang lebih membuatnya kesal, bagaimana mungkin ayahnya dengan ‘dangkal’-nya menuntutnya punya pacar supaya Kinar tak pergi sendiri ke kampus dan ada yang bersedia mengantar-jemputnya.

Kinar, seorang wanita usia dewasa awal, yang sedang berproses memperbaiki diri dalam penantiannya bertemu jodohnya. Selama hidupnya, Kinar tak pernah punya pacar.  Bukannya ia anti pacaran seperti yang diajarkan dalam agamanya, namun memang sejak awal, Kinar berprinsip bahwa ia tak akan dengan mudahnya menjadikan/menerima seseorang sebagai pacarnya. Ia akan dengan rela hati berpacaran dengan seseorang, apabila ia telah yakin benar bahwa seseorang itu layak menjadi suaminya kelak. Dengan kata lain, Kinar punya kriteria yang sama antara jadi calon pacar, dengan jadi calon suami. Tak ada beda. Laki-laki yang masih dengan prinsip main-main, apalagi tak punya tanggung jawab, akan langsung lewatlah ia. Oleh sebabnya, hingga usianya saat ini, tak satupun yang berhasil menaklukkan hatinya karena dianggapnya masih belum layak memenuhi kriteria sebagai seorang suami ideal. Tak ada kamus main-main atau coba-coba dalam kamus Kinar. Pacaranpun, serius dianggapnya.

Seiring bertambahnya usia Kinar, ia semakin dapat menerima pandangan bahwa tak ada kamus pacaran dalam Islam. Kinar percaya, bahwa wanita yang mulia adalah yang menjaga benar dirinya, hingga ia bertemu jodohnya kelak. Wanita yang benar-benar memposisikan suaminya sebagai orang pertama yang berhak atas dirinya. Sayangnya, kedua orangtua Kinar sepertinya belum dapat memiliki pandangan yang sama. Kedua orangtuanya percaya, tak mengapa pacaran, asal serius, guna saling mengenal satu sama lain sebelum keduanya berlanjut ke pelaminan.

———————————————————–

Suatu siang, Kinar tampak berbunga-bunga sekaligus bimbang. Ada seorang lelaki yang pernah dikenalkan padanya, mengajaknya makan malam. Dilema lahir batinlah ia. “Bagaimana mungkin aku hanya makan berdua dengannya? Kala ada dua orang lawan jenis bersama, maka jelas ketiganya adalah setan.” Berkirimlah ia pesan dengan sahabat baiknya. Menanyakan apakah sahabatnya bisa pulang cepat dari kantornya sore itu. Ia berencana mengajaknya untuk menemaninya bertemu lelaki itu. Sayang, sahabat baiknya masih perlu lanjut bekerja hingga malam. Sukseslah setan membisiki batin Kinar kala itu, “Mana mungkin kau biarkan ia, jauh-jauh dari luar kota, sendirian, padahal ia sudah memintamu menemaninya. Lagipula ia pria baik-baik, nggak neko-neko. Kesempatan untuk kalian saling mengenal. Siapa tau jodoh!” Segera dibalaslah pesan pria itu. Sepakatlah mereka untuk bertemu.

Sore harinya, Kinar tampak grogi. Buru-buru ia mandi, sholat, & mempersiapkan diri. Tiba-tiba bunyi notifikasi pesan di telepon genggamnya berbunyi. Sang pria mengiriminya pesan singkat, “Kita ketemu jam 7 ya. Nanti aku jemput kamu aja.

Deg. Kinar makin bingung. Ah, godaan setan memang gencar banget!

Oke. Gapapa mas, aku berangkat sendiri aja. Nanti kita langsung ketemu di sana ya. Nanti mas bingung nyari alamatnya kalo musti jemput Kinar dulu.“, seloroh Kinar beralasan. Legalah ia. Lepas satu godaan setan yang akan menjebaknya duduk berdua dengan seorang pria dalam sebuah taksi di malam hari.

Jarum jam menunjukkan pukul 18.30. Kinar buru-buru menyiapkan motornya, dan tak lupa pamit pada ayah-ibunya. Oh ya. Tentu Kinar tak lupa menjelaskan akan ke mana ia malam itu. Tak ada yang bisa ia sembunyikan dari kedua orangtuanya. Baginya, restu & izin orangtua itu mutlak perlu. Bila tidak, tak yakinlah ia akan selamat nantinya di perjalanan.

Dia naik apa, Kinar? Kamu nggak bawa helm dua? Masa berangkat dia sudah naik taksi, pulang kamu biarkan naik taksi lagi? Janganlah. Kasihan. Antar dia.“, ujar ibunya.

Ah. Setan tak bosan-bosannya berusaha. Kali ini lewat titah ibunya. Kinar bimbang. Agak ragu dalam hatinya, namun tetap akhirnya ia menuruti apa saran ibunya. Tak apalah. Toh jaraknya dekat. Hibur batinnya.

Begitulah. Malam itu, Kinar berhasil menuruti beberapa bujukan setan. Mereka akhirnya bertemu hanya berdua, berboncengan, melalui jalanan kota dalam malam bersama, meski tak saling bersentuhan dan tetap menjaga jarak. Ah!

Malam harinya, Kinar tak bisa tidur. Hatinya berbunga-bunga. Ia benar-benar bahagia. Lelaki itu tampak baik dan bersahaja. Baru kali itu ia yakin benar saat bertemu seorang lelaki, padahal cuma sekali dua kali. Tumbuhlah doa dalam batinnya. Semoga benar ia.

Hari berganti hari, pun akhirnya berganti bulan, keyakinan Kinar makin menipis. Lelaki tadi tak pernah lagi ada kabarnya. Hilang dimakan usia. Perlahan Kinar menyesal dalam hatinya. Mengapa ia menuruti pesan ibunya untuk membawa dua helm, dan berboncengan berdua? Mengapa ia menuruti bisikan untuk menerima ajakan makan malamnya, meski ia tahu bahwa mereka hanya akan berdua? Padahal Kinar benar-benar ingin menjaga & memperbaiki diri. Sayangnya, nasi telah menjadi bubur. Kinar terlanjur ikut mau setan. Malu iya, kesal iya, sedih iya. Yang membuat Kinar makin bingung adalah, bagaimana Kinar menjelaskan kepada kedua orangtuanya, bahwa Kinar benar-benar ingin memperbaiki dan menjaga diri? Bahwa ia benar-benar tak mau pacaran. Bahwa Kinar percaya, bahwa Allah telah menyiapkan jodohnya di waktu & tempat yang tepat, saat Kinar & jodohnya telah memperbaiki diri & sama-sama siap. Sedang kedua orangtuanya selalu tampak bahagia bila tau Kinar bertemu dengan seorang pria. Bagaimana? Yang orangtua Kinar tau, Kinar tak pernah punya pacar. Yang mereka tau, Kinar cuma mau sekolah tinggi-tinggi, seolah lupa kalau Kinar perlu suami.

Ah, Kinar.

Balada

Kala itu, dadaku sesak, nafasku menggebu, saat kuterima pesan singkat darinya, tepat hanya 3 hari sebelum hari pernikahannya dengan pilihan hatinya. Sakit sekali rasanya, seakan masih tak percaya, bahwa akhirnya ia benar-benar memutuskan untuk menyerah, dan melanjutkan hidupnya dengan orang lain.

Aku tau, aku memang terlalu egois. Aku sendiri tak begitu yakin apakah aku akan bisa menghabiskan sisa hidupku bersamanya, sesuai dengan rencana yang ia punya. Sekian tahun ia bersabar, menunjukkan segala kasih sayang, dengan caranya. Hanya saja aku tak pernah sadar. Ah, bukan. Tak pernah yakin lebih tepatnya. Aku terlalu sering dihantui ketakutanku sendiri. Jangan-jangan, semua perbuatan baiknya padaku itu hanyalah hal biasa, karena memang ia orang baik, tak lebih. Berulang kali kutanyakan padanya, mengapa ia demikian baik padaku. Mengapa ia begitu rela bersabar, begitu baik, begitu peduli. Namun ia tak pernah mau mengatakannya. Belum saatnya, katanya.

Delapan tahun, setelah kami saling mengenal, ia semakin mengerikan bagiku. Ia tak lagi sepengertian dahulu. Kurasakan ia makin posesif, makin mengikatku dengan cara-caranya sendiri. Menghujaniku dengan berbagai saran, yang bagiku lebih terasa sebagai nasihat setengah perintah. Yang ini benar, dan yang kulakukan selama ini adalah salah. Kuceritakan tentang mimpiku untuk melanjutkan pendidikan, ia menghujaniku dengan pertanyaan apa tujuanku, bagaimana rumah tanggaku kelak, bagaimana jika aku bekerja, nyamankah aku bekerja, dan beberapa pertanyaan masa depan lainnya. Lain waktu, ia mengajakku berdiskusi mengenai cara-cara mengasuh anak, ia juga menanyakan padaku, bagaimana rencanaku kelak bila aku dan sang suami sama-sama bekerja, bagaimana anakku kelak. Di lain waktu lagi, ia memberi masukan padaku mengenai cara hidupnya, bagaimana seharusnya berdoa, bagaimana seharusnya kujalani ritual harianku. Duh, makin terasa sesaklah aku. Seolah semua yang kujalani selama ini, dan perencanaanku ke depan adalah salah baginya. Ah!

Hingga suatu hari, kami bertemu di hari pernikahan salah seorang kawan lama kami. Tiba-tiba ia menghampiriku, dan memberiku sebuah buku. Sesampai di rumah, kubaca buku itu, dan terhenyaklah aku. Isinya mengenai bagaimana Sang Nabi Besar menjalankan rumah tangganya serta bagaimana Beliau mengasuh anak-anaknya. Makin berputaranlah beberapa pertanyaan dalam kepalaku. Apa maksudnya ia berikan ini padaku? Ia mau aku membacanya? Untuk apa? Kutanyakan padanya apa maksudnya memberiku buku itu. Katanya, ia cuma mau aku membacanya. Ia tak tau alasan lain, yang jelas, menurutnya buku itu bagus dan ia teringat bahwa aku perlu untuk membacanya.

Caranya kali ini terasa makin menyesakkan untukku. Bagiku, kami bukan apa-apa, maksudku, tak ada ikatan resmi di antara kami. Kami masih teman biasa. Teman yang hanya saling peduli, dan seringkali bertukar ide dan pikiran. Kupikir, itulah kami. Toh ia juga tak pernah menyatakan lebih. Meski kutanyakan pada beberapa kawan, bahwa semua yang telah ia lakukan padaku mengisyaratkan lebih. Namun, aku tak pernah mau percaya, aku terlalu takut untuk sakit hati. Aku tak akan pernah menganggapnya lebih bila memang ia tak pernah mengatakannya langsung padaku. Hanya saja, semua yang ia lakukan, termasuk yang terakhir, tentang buku pengasuhan anak itu, bagiku sudah terlampau kelewatan. Seolah ia mengaturku. Mengikatku. Padahal kami belum apa-apa. Aku tak kuasa lagi terhadapnya.

Berbulan-bulan setelah perdebatan kami tentang buku itu dan kejelasan hubungan kami, kami seolah semakin jauh. Kala itu, kuminta ia berlaku normal selayak teman biasa saja, bila memang kami hanya sebatas teman. Setelahnya, sekali ia mengirim pesan elektronik singkat padaku, katanya, ia mohon izin mencabut janjinya terdahulu, janjinya bahwa suatu saat ia akan mengatakan padaku alasan segala bentuk perhatian & kebaikannya selama ini padaku. Sejak hari itu, aku mulai berpikir, bahwa ia benar-benar menyerah. Sejak hari itu, kami tak lagi saling sapa, kami menghidupi mimpi kami masing-masing. Hingga hampir setahun berlalu, tepat 3 hari menjelang hari bersejarah untuknya itu, menjadi makin jelaslah semuanya. Sepertinya Allah telah benar-benar mengijabah doa malam kami. Seringkali aku berdoa, mohon diberi petunjuk benarkah ia jodoh yang Allah siapkan untukku, dan aku yakin ia pun berdoa yang sama. Akhirnya, hari itu aku tahu, Allah menunjukkan dengan cara-Nya, bahwa kami bukanlah dua orang yang bisa saling melengkapi dan memperbaiki satu sama lain. Aku bukanlah yang terbaik untuknya, dan ia bukanlah yang tepat untukku.

Setelah semalaman menata hati & menenangkan diriku, kuberanikan kutulis pesan untuknya. Kuucapkan selamat, kusampaikan selarik doa tulus, serta tak lupa ucapan terima kasih atas segala kebaikannya selama ini. Pun ucapan maaf atas segala khilaf dan salah. Bahwa aku sungguh bersyukur telah diberi kesempatan oleh Allah untuk mengenalnya.

——

“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh. Iya sama-sama, aku minta maaf jika pernah bikin salah, sedih, atau yg lainnya. syukron doa nya. mudah-mudahan cepet menyusul utk nikah dan ketemu calon suami yg sholeh.”, balasnya.

Ah, rasanya hatiku ini banjir air mata. Tak sanggup lagi keluar lewat kedua mata. Sakit sekali rasanya. Entahlah, aku tau ia orang baik, hanya saja, aku tak yakin bisa menghabiskan waktuku bersamanya. Tetapi, menerima undangan pernikahannya itu, hatiku sakit. Mungkin bukan murni sakit karena kehilangan orang yang dicinta, tapi lebih kepada sakit karena kehilangan cinta yang biasa dirasa. Semua yang pernah ia lakukan, kini sebatas hanya bisa dikenang, tak akan pernah lagi sama. Aku jahat ya?

Kuharap, pesan yang kukirim dan kuterima menjelang pernikahannya itu, adalah pesan terakhir kami berdua. Entahlah, sepertinya aku belum sanggup bila kami harus tetap saling berhubungan, meski sekedar bertatap muka, atau berkirim pesan singkat layaknya teman biasa, seperti semula. Semoga waktu akan menyembuhkan semuanya. Ya, semoga saja segera. Dan semoga saja, Allah mengijabah doa tulusnya padaku, dalam pesan terakhirnya kala itu. Aamiin..

06 November 2015

Dan sekarang, setelah sekian lama kami menghidupi jalan kami masing-masing,
Ia dengan istri & putrinya,
Sedang aku pun dengan rencana-rencana persiapan masa depanku.

Kini, di kala aku sedang menghitung mundur tiap detik waktu menjelang hari pernikahanku sendiri,
Ia hadir kembali sebagai ujian
Tak hentinya mengirimi berbagai pesan-pesan hikmah, motivasi, & sejenisnya
Terus menerus tak kenal waktu dlm beberapa bulan terakhir ini,
Meski toh tak satupun kubalas.
Kata teman, block saja, beres urusan. Tapi tak tega juga 😥

Semoga persiapan pernikahan lancar
Semoga segala ujian dpt dilalui dg baik
Hingga saatnya tiba, dan penuh dg kerendahan hati kusampaikan pula kabar baikku ini padanya
Dan semoga setelahnya, kami bisa baik-baik saja, dengan menjalani hidup kami masing-masing.

Salam,
Galuh Nindya