Filsafat

Life is All About Choices

Dalam meniti perjalanan hidup, sesekali kita berhenti pada suatu persimpangan.
Dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang mau tidak mau harus kita pilih, berikut dengan segala konsekuensi yang menyertai.

Kala dihadapkan dengan kondisi demikian, mungkin, beberapa pertanyaan mendasar berikut dapat membantu, menemukan arah mana yang sebaiknya dipilih.

Mari tanyakan jauh ke dalam diri:
1. Untuk apa saya hidup?
2. Apa yang saya cari? Apa yang saya inginkan? Apa prioritas hidup saya?
3. Nilai-nilai apa saja yang paling penting bagi saya, yang jadi pegangan hidup saya?
4. Siapa saja yang paling penting dalam hidup saya?
5. Seberapa jauhkah kemungkinan resiko/konsekuensi yang muncul akan berakibat pada jawaban poin 1-4 di atas?
6. Seberapa selaraskah jalan yang saya pilih, dengan jawaban poin 1-4 di atas?

Nah. Itu cara rasionalnya.

Namun, sebab kita hidup tak lepas dari iman, bukankah sudah sepatutnya kita sertakan Allah dalam setiap kebimbangan yang menelusupi hati kita?
Alangkah baiknya bila segalanya tetap senantiasa teriring doa.
Logika jalan, nurani jalan.
Sisanya, biarlah Allah yang bantu tunjukkan jalannya.

Kita boleh berencana, tapi bukankah Allah sebaik-baik perencana?
Kita boleh hitung untung ruginya dengan kepala kita,
Kita boleh perkirakan baik buruknya dengan logika kita,
Namun bukankah akan selalu ada Allah, yang tentu lebih mengetahui apapun yang terbaik untuk kita?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” – Q.S. Al Baqarah: 216

Bismillah.. Percayakan pada-Nya.
Kalau sudah percaya pada-Nya, pasrahkan saja.
Apapun resikonya, insyaa Allah yang terbaik bagi kita ke depan.

Life is a journey, anyway.
Selamat memilih! ^_^

Salam,
Galuh Nindya

Akal & Keyakinan

Bismillahirrahmaanirrahiiim..

Sejauh mana akal dibenarkan untuk bekerja?

Pertanyaan di atas terngiang-ngiang di kepala dan cukup mengganggu tidur saya beberapa hari. Berputaran tak jelas arah. Mungkin karena dalam kurun waktu hampir tiga tahun ini saya sudah terbiasa hidup bagai robot, dan hampir sebagian besar aktifitas saya adalah rutinitas. Bahkan autopilot. Hampir terlalu lama saya meninggalkan bacaan-bacaan filosofis, apalagi berpikir ala dunia filsafat. Rasanya, seolah tak cukup waktu saya. Hampir terlalu lama pula saya tak memberi waktu luang bagi diri untuk berdiam diri dan berkontemplasi. Jangankan untuk berpikir dan bertanya-tanya tentang sesuatu seperti kala kuliah dulu, untuk bersyukur pun kadang terlupa. *Astaghfirullahal’adziim* Itulah (mungkin) sebabnya pertanyaan di atas dapat menimbulkan efek yang lumayan: mengganggu tidur saya!

Pertanyaan di atas tetiba muncul (kembali) di kepala saya. Precipitating event-nya adalah saat ada seseorang yang keyakinannya cukup berbeda dengan saya. Ia datang dengan sebuah alasan yang cukup serius, dan selanjutnya ia membuka diri untuk berdiskusi dengan saya. Ia bilang, segalanya masih bisa didiskusikan, termasuk tentang keyakinan kami. Lagi, ia katakan bahwa saya tak perlu khawatir, dan bahwa saya masih tetap bisa berpegang kuat pada apa yang saya yakini, namun, saya perlu terbuka untuk menerima apapun yang ia sampaikan, untuk selanjutnya dapat saya pikirkan dan pertimbangkan kembali. Katanya, apa yang kami yakini tak jauh berbeda, oleh karenanya, sebenarnya, kami masih tetap sama. Selanjutnya, ia menyarankan saya untuk membuka semua ilmu, karena sebenarnya kita tak pernah tau pasti kebenaran ada di mana. Yang bisa kita lakukan hanyalah mendekatinya saja.

Saya sediiiiih sekali sebab kejadian dengannya ini. Bagi saya, jarak yang saya ciptakan selama ini rasanya cukup. Saya kira, ia sudah cukup mengerti dengan ‘perbedaan’ di antara kami. Saya kira, ia juga sudah cukup mengerti bahwa ada batas-batas yang tak dapat kita tembus, bagaimanapun jauh kita mencoba. Memang, saya cukup terbuka untuk berdiskusi tentang apa saja, namun sungguh tidak untuk yang satu ini. Paling tidak, selama ini, saya sudah yakin bahwa apa yang saya yakini ini jauh lebih benar dibanding apa yang telah ia yakini. Bagi saya, berlebih-lebihan dalam mengagungkan Sayyidina Ali dan Husein, putranya, lebih dari sahabat Rasulullah yang lain, apalagi melebihi terhadap Rasulullah itu sendiri adalah sudah cukup tak masuk akal. Mema’sumkan Sayyidina Ali juga tak bisa diterima oleh akal saya. Bagi saya, berkabung karena mengenang tragedi Karbala adalah juga cukup tak masuk di akal pula. Seolah penuh kebencian dan mengajarkan dendam. Padahal sungguh, bagi saya, agama ini benar-benar agama yang damai. Bagi saya, menghalalkan taqiyyah, yaitu menyembunyikan keyakinan/aqidahnya di hadapan orang yang fanatik sehingga bisa membahayakan keselamatan diri, harta, & kehormatannya, di samping tidak ada hasil memadai yang dapat diraihnya, adalah juga tak bisa diterima. Pun beberapa ajaran (yang ia yakini) yang lain yang saya rasa dan saya nilai juga cukup mengganjal di hati.

Namun, untuk menerima tawarannya untuk mendiskusikan tentang apa yang masing-masing kami yakini, saya (masih) tak sanggup. Entahlah. Saya rasa, ilmu saya memang masih jauh dari cukup. Memang, saya belum menggali dan membandingkan dengan rinci tentang apa yang kami yakini. Namun, untuk menerima tawarannya, atau sekedar membuka diri mendengarkan kisahnya terdahulu bagaimana ia akhirnya memutuskan untuk menempuh jalan ini, saya masih tak berani. Memang, ia menyampaikan bahwa tuntutan untuk taken for granted adalah titik kekecewaannya pada waktu itu. Bahwa ia dipaksa untuk percaya saja, diminta untuk tak melanjutkan berpikir. Saya paham sekali bagaimana rasanya bila diminta untuk ‘terima saja – telan saja – percaya saja’. Saya mengerti bagaimana rasanya saat rasa keingintahuan membuncah di dalam dada, dan seolah akal kita justru diminta untuk dibunuh dan dimatikan saja. Pasti tersiksa. Namun, hingga saat ini saya masih tetap percaya bahwa apa yang saya yakini ini sebenarnya bukanlah harus diterima hanya dengan taken for granted. Apa yang saya yakini ini juga masuk di akal. Namun untuk berdiskusi dengannya, saya takuuut sekali kalah argumen. Saya takuuut sekali akal saya belum sampai. Saya takuuut sekali jalan saya buntu. Saya takuuut sekali jalan saya nantinya bisa berbelok. Berkali-kali saya berdoa, memohon petunjuk dan perlindungan diri. Memohon kepada Allah, Sang Pembolak-Balik Hati, agar hati saya tetap dijaga dalam agama-Nya. Agar jalan yang saya tempuh senantiasa diluruskan oleh-Nya. Namun, jauh dalam lubuk hati saya, rasa penasaran saya tak bisa saya bendung. Keinginan untuk mengetahui segalanya terus membuncah di dalam dada. Hanya saja sekali lagi, saya benar-benar takuuuut sekali jalan saya akan berbelok. 😥

Nah kan, saya kelepasan curcol lagi? *Maap* 😀

Jadi begini, maksud saya, sejauh mana kita boleh menggunakan akal kita? Terlebih bila fungsinya untuk berdiskusi dan membandingkan dua arah yang berbeda seperti ini? Seringkali, kita menilai sesuatu dari sudut pandang kita sendiri. Maksudnya, kita menilai ajaran B, namun dengan sumber dan sudut pandang masih dari sisi A, bukan dari sisi B sendiri. Pun sebaliknya. Sehingga tetap saja, seolah jalannya tak pernah bertemu. Pun bila misal kita menilai ajaran B, dengan sumber dari sisi B itu sendiri. Dalam lubuk hati, tetap saja ada keyakinan bahwa ya ajaran B itu sumbernya salah, sudah berbelok. Tak bertemu juga ujungnya.

Sisi lain lagi, kalau belajar sendiri, dengan sumber yang dicari-cari sendiri, saya jadi makin takut sekali hilang arah. Tetapi toh saya juga tak percaya bila harus belajar dari pihak yang mengalaminya langsung. Kalau dari pihak yang keyakinannya sama dengan saya sendiri? Saya juga takut akhirnya bias lagi. Tak netral juga.

Masya Allah, bahkan sempat terlintas dalam benak saya, mengapa saya justru dihadapkan dengan yang demikian di saat saya semakin benar-benar ingin istiqomah memperbaiki diri? Sungguh, yang demikian ini benar-benar terasa sebagai ujian keimanan yang cukup berat bagi saya. Berulang kali batin saya berdoa. Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinik. Yaa Allah, ihdinash shiraathal mustaqiiim. Astaghfirullahal’adziim, saya sungguh takut sekali hilang arah. 😥

Note: tulisan ini dibuat murni karena pemikiran pribadi dan bukan dengan maksud SARA atau bahkan untuk menyinggung siapapun.

Salam,
Galuh Nindya

Pilih Titik Takdirmu

Bagiku: kamulah yg menentukan titik takdirmu sendiri ke depan

Memang, Allah telah menentukan takdir-Nya. Takdir itu berupa hukum alam bagiku. Seperti hukum gravitasi misalnya, bila engkau melempar sesuatu ke atas di dalam bumi, maka benda itu akan terjatuh setelahnya. Lalu selanjutnya kamulah yg menentukan titik takdirmu sendiri. Kau akhirnya sudah tau bila kau lempar maka benda itu akan jatuh. Engkaulah yg memutuskan setelahnya, apa kau akan tetap melempar benda itu, atau tidak, terserah. Kita sudah tau konsekuensi keduanya bukan?

Allah menciptakan takdir, namun Ia juga memberimu pilihan atas takdirmu. Ada saja yang bicara seolah kita hanya seperti boneka, padahal kita punya hati dan akal, kita bisa memilih. Bahkan saat engkau merasa tidak ada pilihan lagi, kau pun juga masih punya pilihan.

Tuhan menciptakanmu dengan hati dan akal. maka gunakanlah. Ia menciptakan takdir, tetapi gunakan hati dan akalmu sebagai fasilitator untuk menentukan titik takdirmu ke depan.

Kalau engkau merasa semua sudah digariskan, untuk apa Allah menciptakan surga dan neraka? Bila ia telah menggariskan siapa yang ke surga dan siapa yg ke neraka, lantas mengapa kita diberi akal untuk memilih atau menentukan akan berbuat dosa atau tidak?

Bagaimana?

Salam,
Galuh Nindya

Makna Kehidupan

Barusan ditag video bagus. Perut saya sempat terasa kencang sesaat saat menontonnya, diselingi dengan beberapa kali menahan nafas. Konten videonya bagus banget, hingga membuat saya berkeinginan untuk reshare di blog ini, dengan harapan supaya yang lain juga dapat mendapat manfaat dariya (semoga. aamiin). Silakan luangkan waktu sejenak dan bersabarlah hanya untuk sekitar 7 menit untuk menonton video ini. Semoga kita tak menyesal di kemudian hari.

Monggo disimak:

Terlampir saya berikan juga transkrip videonya dalam Bahasa Inggris dan subtitle-nya dalam Bahasa Indonesia agar dapat lebih meresapi detail isinya.

__________________________________________________________________

The Meaning of Life

What are we doing here and where we going to go
It’s like we just woke up one morning and then it’s welcome to the show
Don’t ask any questions just go with the flow
Make as much money as you can and try your best not to get broke
Copy everything you see on the TV, from the hairstyles to the clothes
And don’t think too often just do exactly as your told
You ever get confused the turn towards the alcohol
You still hear your thoughts?
Then just turn up the radio
As you learn to live a lifestyles of drugs, sex, and rock n roll
But in all honesty, i just need to know
Is there more to the cycle than growing and getting old?
Living and dying just to leave behind happy home
And a whole lot of property that somebody else is going to own
I just really need to know before the caskets closed

Cause i’m not willing to gamble with my soul
Nor am i ready to take any chances
these are just simple life questions and i’m just searching for some answers
Like what are we doing here and what is our purpose
How did we get here and who made us so perfect
And what happens once we go or is this world all really worth it

Questions we don’t answer because apparently we don’t really have to
Theres no purpose to this life and our existence merely natural?
In that case please let me ask you,
Did you create yourself or was it somebody else who had fashioned you?
Because you’re being that’s impeccable faultless and unparalleled
You are a product of supreme intelligence and i’m merely being rational
For there isn’t a camera on this earth that can come close to the human eye
Nor the computer that can compete alongside the human mind
And if the whole world was to come together
We wouldn’t be able to create a single fly
So many signs yet we still deny

As science tries to justify that all this could come from none
When it’s a simple sum
Zero plus zero plus zero cannot possibly ever give you one
So from where did all this order come?

For everything has its origins, a maker, a creator of its own
I mean the only reason your watching this video is because somebody had to press upload
So you can believe in the Big Bang but i’d rather believe in He who caused it to explode
Allah, the creator of the everything along with every single soul
The everliving, The master the only one who is in control
Unlike this creation beyond our imagination
And no!
He’s not a man nor has be any partners in association
He’s on his own
And no, He did not, and neither did He ever leave us alone

Just like every manufacture, He left us with an instruction manual
The Qur’an and Islam, and i’m sorry to jump to conclusions but it’s the only one possible
The only definiton of God as the one and only, supreme being it’s logical
A book with zero contradictions with miracles that are both scientific and historical
All revealed over 1400 years ago

Like the detailed description of the human embryo (Q.S. 23:14)
To the mountains as pegs holding firm the earth below (Q.S. 78:7)
And the two seas that don’t mix in a complete separate flow (Q.S. 25:53)
To the planets in orbit alternating night and day as they stay in float (Q.S. 21:33)
The expansion of the universe and the creation of everything from H2O-water (Q.S. 51:47)
To the stories of the past and the preservation of Fir’aun (Q.S. 10:92)
To identify the lowest point in the land where Persian defeated Rome (Q.S. 30:2-4)
The gushing fluid that created man in the glands between the ribs dan the backbone (Q.S. 86:7)
And not a word has changed, its still the same
So, please explain how all this was known over 1400 years ago
To a man who couldn’tread or write, as he would recite whatever the angle spoke
And you still don’t believe please try come up with something that’s even close
But you can’t

So we took God as a mockery and his Messengers as a joke
Dismissed his scriptures as legends and tales of the ancient folk
As we life according to our whims, desires, and hopes
Saying this life is the only home we will ever know
We will live then die and simply turn to bones
YOLO! (You Only Live Once)
Correction: After the grass dies the rain arrives it regrows
And Allah promises to do the same thing to your every soul (Q.S. 2:28)
And bring you back from your very fingertips to your toes (Q.S. 75:4)
As the all Seeing Supreme Being watches us so close as we are surely being tested
In our wealth, our health, ourself and everything that we’ve been blessed with

So believe for we will surely be resurrected
And be brought back to Lord in account for every single deed
As He hands us our books and order us to “Read!”
From the bad to the good and everything in between
You, yourself are sufficient for you own accountability (Q.S. 17:14)
So, don’t be mad at me,
You were the one who thought come back to me (Q.S. 23:115)
A gave you a whole life long to search after me
But you were busy chasing all that which was temporary
So, “Read!” and glad tidings to all those who believed.
But if you disbelieve, READ!
And don’t let that day be the first day you find out what your life really means.
READ!

__________________________________________________________________

Makna Kehidupan

Apa yang kita lakukan di sini, dan ke mana kita akan pergi?
Sama halnya seperti kita bangun di pagi hari, dan kemudian datang di sebuah acara.
Jangan tanyakan apapun, ikuti saja alurnya.
Hasilkan uang yang banyak sebisamu, dan cobalah sebisamu untuk tidak bangkrut.
Ikuti semuanya yang kamu lihat di TV, dari model rambut sampai dengan pakaian, dan jangan berpikir terlalu banyak, lakukanlah seperti yang diperintahkan.
Dan jika engkau mulai bingung, kemudian engkau berpaling ke alkohol. Dan kau masih tetap bingung? Maka nyalakanlah radio seperti saat engkau belajar bergaya hidup dengan narkoba, seks, dan rock n roll.

Tapi sejujurnya aku hanya ingin tau. Apakah kita hanya tumbuh dan menjadi tua? Hidup dan mati hanya untuk meninggalkan rumah yang dicintai, dan seluruh perabotan yang akan dimiliki orang lain?
Aku hanya ingin tau, sebelum peti mati ditutup.
Sebab aku tak ingin berjudi dengan jiwaku atau siap untuk mengambil resiko.
Ini hanyalah pertanyaan hidup sederhana dan aku hanya mencari beberapa jawaban. Seperti apa yang kita lakukan di sini, dan apa tujuan kita? Bagaimana kita dapat berada di sini dan siapa yang membuat kita begitu sempurna? Dan apa yang terjadi ketika kita mati atau apakah dunia ini benar-benar berharga?
Pertanyaan yang tak kita jawab karena nampaknya kita tak harus menjawabnya.

Apakah kita tak punya tujuan dalam hidup dan keberadaan kita hanya sesuatu yang wajar?
Dalam hal tadi, izinkan aku bertanya padamu.
Apakah engkau menciptakan dirimu sendiri ataukah orang lain yang menciptakanmu?
Karena kau adalah makhluk yang sempurna tanpa cacat, dan tak ada bandingannya.
Engkau adalah produk dari kecerdasan luar biasa dan aku hanya berpikir rasional.
Adakah sebuah kamera di dunia ini yang dapat menyerupai mata manusia ataupun sebuah komputer yang dapat bekerja seperti otak manusia?
Dan bahkan jika seluruh dunia bekerja sama kita tidak akan dapat menciptakan seekor lalat.

Begitu banyak pertanda yang terus kita pungkiri.
Saat ilmu ilmiah mencoba untuk membenarkan bahwa ini semua berasal dari ketiadaan. Ketika sebuah penjumlahan nol ditambah nol ditambah nol tidak akan mungkin memberikanmu hasil satu.
Jadi, dari manakah semua hal ini datang?
Untuk segala sesuatu pasti memiliki asal, sang pembuat, sang pencipta dari kepunyaannya.
Yang kumaksud, penyebab engkau dapat menonton video ini adalah seseorang haruslah menekan tombol upload.
Jadi kamu dapat percaya adanya “Big Bang” tetapi aku lebih memilih percaya pada “Dia” yang menjadikan “Big Bang” terjadi.
Allah, Sang Pencipta dari alam semesta bersama dengan setiap jiwa. Yang tak pernah mati, Sang Penguasa satu-satunya yang memegang kendali. Tidak seperti ciptaan-Nya, Dia di luar imajinasi kita, dan tidak, Dia bukanlah seorang laki-laki apalagi memiliki sekutu. Dia berdiri sendiri. Dan Dia juga tidak pernah meninggalkan kita sendiri.

Seperti halnya setiap pabrik, Dia berikan kita sebuah buku panduan. Al Qur’an dan Islam, dan mohon maaf jika saya lancang untuk menyimpulkan, tetapi inilah satu-satunya kemungkinan. Satu-satunya pengertian Tuhan Yang Maha Esa dan satu-satunya. Dzat Yang Maha Kuasa menjadikannya hal yang logis.
Sebuah buku tanpa kontradiksi, dengan keajaiban ilmu ilmiah dan sejarah di dalamnya.
Semuanya telah diungkapkan lebih dari 1400 tahun yang lalu.

Seperti deskripsi detail dari embrio manusia. (Q.S. 23:14)
“Deskripsi dari embrio manusia di dalam Al Qur’an tidak mungkin berdasarkan pengetahuan ilmiah pada abad ke-7 masehi.”
Gunung-gunung sebagai tiang menyangga kokoh bawah tanah. (Q.S. 78:7)
Dan dua lautan yang tidak tercampur dalam alirah terpisah yang sempurna. (Q.S. 25:53)
Hingga planet-planet di orbit yang beredar, pergantian malam dan siang seraya mereka tetap pada jalurnya.  (Q.S. 21:33)
Penciptaan dari alam semesta dan semua ciptaan-Nya yang berasal dari air. (Q.S. 51:47)
Menuju cerita mengenai masa lalu dan pemeliharaan jasad Fir’aun. (Q.S. 10:92)
Menjelaskan letak terendah di daratan di mana Persia mengalahkan Roma. (Q.S. 30:2-4)
Air yang memancar dan menghasilkan manusia yang terletak di antara tulang sulbi dan tulang belakang. (Q.S. 86:7)
Dan tak satupun kata telah berubah, Al Qur’an masihlah sama.

Jadi tolong, jelaskan bagaimana semua ini telah diketahui lebih dari 1400 tahun yang lalu?
Kepada seorang manusia yang tidak dapat membaca maupun menulis sebagaimana ia akan menyampaikan apa yang malaikat katakan.
Dan jika engkau masih tidak percaya, silakan datang dengan sesuatu yang setidaknya menyerupai. Tetapi engkau tidak bisa.
Jadi kita menjadikan Tuhan sebagai sebuah ejekan dan utusan-Nya sebagai sebuah lelucon.
Menganggap kitab-kitab-Nya sebagai legenda dan dongeng dari orang-orang terdahulu.

Selagi kita hidup hanya menuruti gaya, hasrat, dan keyakinan kita.
Mengatakan kehidupan ini adalah satu-satunya rumah yang akan pernah kita tempati.
Kita akan hidup kemudian mati, dan dengan mudahnya menjadi tulang-belulang.

YOLO (You Only Life Once = Engkau Hanya Hidup Sekali).
Koreksi: Setelah rerumputan mati, hujan datang, dan rumput akan tumbuh kembali.
Dan Allah menjanjikan hal yang sama untuk setiap jiwa kita. (Q.S. 2:28)
Dan membangkitkanmu dari ujung jari telunjuk hingga ujung jari kaki yang sempurna. (Q.S. 75:4)
Sebagaimana Yang Maha Melihat mengawasi kita begitu dekat, karena kita pasti sedang diuji. Pada kekayaan kita, kesehatan kita, diri kita sendiri, dan semua hal yang telah kita dapatkan.
Jadi percayalah, bahwa kita pastinya akan dihidupkan kembali dan dibawa kembali kepada Tuhan untuk melaporkan setiap perbuatan sebagaimana Dia memberikan kita kitab dan memerintahkan kita untuk, “Bacalah!”

Dari yang jahat hingga yang baik, dan semua hal di antaranya
Engkau, cukuplah dirimu sendiri untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu.(Q.S. 17:14)
Jadi jangan marah padaku.
Engkau yang mengira bahwa dirimu tak akan dikembalikan kepada Kami. (Q.S. 23:115)
Aku berikan kepadamu seluruh hidupmu yang panjang untuk mencari tentang-Ku. Tetapi engkau sibuk mengejar seluruh hal yang bersifat sementara. Jadi, “Bacalah!”
Dan ketenteraman hadir pada setiap yang percaya. Tetapi jika engkau tak percaya, “Bacalah!”
Dan jangan biarkan hari itu (kematian) menjadi hari pertamamu mengetahui apa makna sebenarnya dari kehidupan.
“Bacalah!”

*Bila merasa bermanfaat, monggo dibantu menyebarkan. Terima kasiih

Salam,
Galuh Nindya

Living Here & Now

“aduh.. aku jadi nggak enak nih mikirin minggu depan. belum apa-apa aja udah kangen.”

Begitulah curhat seorang kawan. Ia baru saja menerima amanah untuk berangkat dinas luar kota selama beberapa hari. Terbayang baginya bagaimana ia harus meninggalkan putri bungsunya yang masih berusia 7 bulan & minum ASI. Tersenyum saya menanggapinya. Belum pernah sekalipun ia meninggalkan putri bungsunya ini tugas luar kota sehingga ini akan menjadi pengalaman pertama kalinya. Jadilah saya maklum atas curcol-nya tersebut. “Sudah mbak, itu kan masih lama. Jangan dipikir susah-susah, dibayangin beratnya sekarang. Nanti mbak yang rugi sendiri. Yang bisa dihadapi sekarang, kita hadapi sambil disyukuri.”, timpal saya.

“Ah, ngomong gitu kan emang gampang Luh.” tandasnya

“Iya mbak, emang di mana-mana ngomong lebih gampang. Itulah makanya kita perlu latihan buat ngontrol diri & pikiran kita. Biar kita nggak rugi sendiri. Ini aku juga lagi belajar kok. hehe..” jawab saya lagi.

“Tapi emang kita itu aneh ya mbak. Banyak dari kita yg terlalu sibuk mencemaskan yang akan datang, sedang yang sekarang lupa nggak dinikmati. Waktu kecil, kita pingin banget cepet gede. Waktu gede, kita pingin balik kecil. Waktu sekarang, sudah bingung mikirin yg besok, pas udah besok, mikirin pingin balik yang sekarang. Jadinya malah ga hidup di dua-duanya.”, sambung saya lagi.

“Iya juga sih ya. Toh besok-besok juga mesti dihadapi. Sama aja.” tambahnya.

“Nah!”

Dan tersenyumlah ia..

 ——————————————-

Ya, begitulah seringkali kita. Lupa untuk hidup here & now. Kata orang, living in the present. Pikiran kita seringkali disibukkan berloncatan tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan datang. Saat makan misalnya, tubuh kita sedang makan, namun pikiran kita sibuk melayang memikirkan hal lain, terburu-buru mikirin deadline atau rencana yang akan datang contohnya. Jadilah makanan itu tak terasa nikmatnya, jangankan cita rasa atau tekstur, yang penting asal kenyang. Cukup.

Seringkali, kita terlalu sibuk mencemaskan masa depan, hingga lupa hidup di hari ini. Padahal jika dihitung-hitung, berapa banyak sih yang kita cemaskan itu akhirnya terbukti terjadi? Sedikit sekali kan?

Lantas, alih-alih sibuk memikirkan ketakutan-ketakutan akan masa depan yang belum tentu terjadi, mengapa kita tak mencoba untuk ‘hadir’ pada saat ini, detik ini. Mencoba menyadari dengan penuh semua yang kita hadapi & alami saat ini. Saat berangkat kerja misalkan. Daripada kita terpaku pada jam masuk kantor & berkejaran dengan lalu lintas kota yang luar biasa, mengapa kita tak memutuskan untuk berangkat lebih pagi & menyediakan spare time, dan menikmati waktu berkendara pagi sambil merasakan segarnya semilir angin, sejuknya rerumputan yang masih dihiasi embun, merasakan hangatnya sinar mentari yang masih perlahan menembus dedaunan, menghirup dalam-dalam udara pagi, sehingga kita bisa lebih menikmati & bersyukur karenanya.

Yang jelas, pilihan ada di kita sendiri. Mau terus susah, bingung, cemas, takut, sampai-sampai lupa karunia yang dihadapi hari ini, atau lebih memilih untuk ‘hadir’ di saat ini dan enjoy dengan yang ada dengan/bersama/di hadapan kita saat ini. Memang perlu latihan, tapi insya Allah bisa. Daripada kita rugi sendiri siiih.. Hehe..

Berkaitan dengan hal ini, saya jadi ingin berbagi pepatah yang cukup menohok dan menyentil’ diri saya secara pribadi:

Yang paling mengejutkan dari manusia adalah:
Mereka bosan dengan masa kanak-kanak, dan mereka terburu-buru untuk tumbuh besar, lalu akhirnya ingin kembali lagi ke masa kanak-kanaknya.
Bahwa mereka kehilangan kesehatannya untuk mengumpulkan uang, lalu mereka kehilangan uangnya untuk memulihkan kesehatannya.
Bahwa mereka berpikir dan mencemaskan tentang masa depan, mereka melupakan saat ini, sehingga akhirnya mereka tidak hidup di keduanya – tidak saat ini dan tidak pula di masa depan.
Bahwa mereka hidup seolah mereka tak akan mati, dan mereka mati seolah mereka tak pernah hidup sebelumnya.

Ya, mari kita nikmati saat ini. Rasakan benar-benar tiap detilnya. Karena bisa jadi, saat inilah yang suatu saat akan kita rindukan. Jangan sampai menyesal karena kita telah melewatkannya dengan begitu saja. 🙂

 

Salam,
Galuh Nindya