Being a (new) mother of twins

Tak terasa ternyata setahun lebih sudah saya tak menulis. Niat hati mau rutin menuliskan perjalanan persiapan pernikahan saya, lalu perjalanan kehidupan saya setelahnya, diary dinamika kehamilan saya, dan seterusnya. Namun nyatanya semua terlewati begitu saja. Hanya bisa terkenang dalam memori, tak sempat mengabadikan dalam tulisan. Hikss..

Setahun lebih berlalu. Sudah banyak yg terlewati. Alhamdulillah akhirnya saya menikah dengan pria yg sempat membuat saya agak ragu kala itu. Antara maju mundur seperti yg saya ungkapkan dalam tulisan terakhir saya sebelumnya. Alhamdulillah pernikahan kami dilancarkan.. keraguan saya pupus sudah & berubah menjadi syukur tak hingga sebab dikarunia suami sepertinya. Sungguh Allah memang Maha Mengetahui yg terbaik bagi hamba-Nya. 

Menikah, sempat LDR selama 8 bulan, & alhamdulillah saya bisa mendapat SK mutasi di kehamilan saya yg menjejak 4 bulan. Hidup berdua bersama suami tercinta tentu rasanya penuh suka cita, meski masih dg segala keterbatasan yg ada. Meski saya juga harus merelakan pekerjaan saya yg ‘turun tahta’. Pindah dari kantor provinsi dg jumlah satuan kerja terbanyak se-Indonesia, dg load pekerjaan yg hecticnya luar biasa, dg kawan2 yg banyak & ramah.. serta fasilitas yg cukup memadai, ke kantor kabupaten dg lingkup kecil, dg pekerjaan yg saya tak tahu menahu sama sekali, sehingga saya jadi seolah menjadi pegawai ‘pupuk bawang’ – serasa ada & tiada. Tetapi bukankah hidup adalah pilihan? Toh prioritas utama saya adalah keluarga.

Setahun berlalu, kini kami dianugerahi amanah bayi kembar. Amanah yg tak disangka-sangka & tak sedikitpun terlintas dalam bayangan saya sebelumnya. Sempat surprised & agak ragu kala pertama sang dokter memberitahu keberadaan janin kembar dalam rahim saya di usia 3 bulan kala itu. Namun seiring waktu.. kami mulai beradaptasi & menerima. Bukankah Allah mengetahui kemampuan hamba-Nya?

Hari ini, tepat sebulan usia kedua putri kami. Lahir pd tanggal  18 Februari 2017 di usia kandungan yg masih 36 minggu. Syukur alhamdulillah mereka bisa langsung pulang bersama kami ke rumah di hari keempat pasca melahirkan.

Menjadi ibu dari dua orang anak kembar ternyata luar biasa dinamikanya. Bahagia, tentu saja. Diamanahi dua orang putri mungil yg sehat, lucu, & menggemaskan. Namun tentu tak lepas pula dari berbagai tantangan. Dimulai dari begadang semalam suntuk. Kalau katanya yg bayi 1 saja begadangnya sudah ampun-ampun, nah ini 2. Bayi 1 nenen, bayi 2 nangis minta nenen.. bayi 2 nenen belum selesai, bayi 1 sudah nangis minta nenen lagi. Jadilah saya harus begadang non stop dari malam sampai pagi jam 6an. Hehehe

Belum lepas dari balada menyusui.. dengan tekad bulat menyusui ASI eksklusif, jadilah tantangan berikutnya.. menyusui bayi kembar tentu tak mudah. Tuntutan intake makanan juga perlu ekstra. Sedang hasil pompa tak seberapa. Sedih rasanya. Belum lagi ditambah komentar-komentar yg berlalu lalang. Heu.. naik turun rasanya hati ini.

Masih soal menyusui, karena saya belum bisa menyusui tandem langsung berdua.. jadilah saya harus menyusui secara bergantian. Cara ini tentu berimbas pada habisnya waktu saya. Sebagian besar waktu saya hanya bisa untuk menyusui. Sambil sesekali mencari celah singkat untuk makan, mandi, ke belakang, cuci & steam botol, plus pumping yg semuanya serba berkejaran. Kalau sempat sedikit.. bisalah sesekali menyisir rambut atau pakai lotion setelah mandi. Itu kalau si kembar sedang tenang terlelap & tak teriak-teriak minta nenen. 😁

Belum bisanya saya menyusui secara tandem juga berimbas pada naik turunnya ketenangan hati saya. Gimana tidak, kala keduanya menangis teriak-teriak karena sama-sama kehausan. Sakit hati saya kala saya harus memilih satu, sementara yg satunya musti menunggu sambil tersedu. Syukur-syukur kalau ada stok ASIP, bisa diminumkan dahulu. Namun sayang, stok ASIP saya juga belum dapat memenuhi banyak. Belum lagi kalau sama-sama suka ngempeng.. padahal saudaranya antri menyusu. Rasanya seperti diiris-iris hati ini saat tak bisa memenuhi keinginan kedua putri untuk terus nempel manja sama ibunya.. ya tapi mau bagaimana, tangan ini tak bisa merengkuh keduanya sekaligus.. hiks

Terkadang muncul kekhawatiran pula soal perkembangan psikososial sang anak terkait trust vs mistrust ala Erickson. Berhubung usia newborn adalah periode pembentukan bonding & kepercayaan, khawatir sang anak kurang optimal pembentukan rasa percayanya sebab saya belum tentu bisa selalu langsung memenuhi keinginannya karena harus berbagi dg saudara kembarnya. Dia nangis, belum tentu bisa langsung saya gendong atau saya handle. Haus, belum tentu bisa langsung saya penuhi rasa hausnya. Sedih rasanya.. Heu. Semoga mereka tetap baik-baik saja.. 😢

Begitulah sekilas pengalaman saya selama sebulan menjadi ibu baru dari 2 orang putri kembar. Mohon maaf kalau tulisan saya acak adut bin amburadul. Sebenarnya ini saya tulis juga sebagai media katarsis saya alias media curhat. Sedikit demi sedikit ngetik sambil nenenin anak2 gantian buat ngilangin jenuh bin stres. Hehehe

Anak pertama, kembar pula. Mengasuh anak saja saya belum pernah.. jadi lumayan agak shock rasanya 😁😂

Bismillah saja.. saya percaya insyaa Allah kami bisa. Aamiin aamiin yra..

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s