Dinamika Hati dan Dunia Kode

Bermula dari seorang kawan yang bercerita tentang suaminya yang menjawab pesan whatsapp-nya hanya dengan acungan jempol sebagai balasan atas kiriman pesannya yang begitu panjang luar biasa, lalu berlanjutlah menjadi pembicaraan kami di ruangan sore tadi. Betapa uniknya cara para pria merespon ucapan ataupun pesan dari kami, para kaum hawa.

Kami, kaum hawa, biasa membalas dengan pesan/ucapan dengan cukup panjang, atau paling tidak, menyesuaikan dengan seberapa panjang pesan yang diterimanya. Berbeda dengan kaum pria. Paling-paling mereka cukup membalas dengan sangat singkat, seperti: “YA”, “ENGGAK”, atau malah cukup hanya dengan setor jempol.

Kala sedang sibuk saat menerima pesan/chat/sms/sejenisnya, kami kaum hawa, akan tetap mengusahakan meluangkan waktu untuk membalasnya, atau kalaupun sedang sangat sibuk, untuk sementara akan menunda untuk membalas, tetapi yang jelas, nanti kala waktu sudah cukup luang, kami akan tetap membalasnya.
Nah, berbeda dengan para pria. Kalau sedang sibuk, paling-paling pesan itu cukup dibacanya, lalu lewatlah. Sibuk ya sibuk. Nanti kala waktu lebih longgar, sudah lupa lah untuk membalas. Atau, bagi mereka, tak terlalu penting pula untuk membalas. Yang penting, pesannya sudah sampai dan dibacanya.

Karena penasaran, maka kami konfirmasikan lah kesimpulan kami tersebut kepada seorang kawan pria. Dan.. ternyata benar juga! Hahaha.. *gemes*
Untuk hal-hal yang demikian, meski kadang bikin hati berasa agak gimanaa gitu, tapi karena memang bawaan style kaum hawa dan pria berbeda, jadi ya dimaklumi saja. Yang penting, tiap pihak mengerti bahwa respon-respon yang demikian itu memang wajar adanya.

Berikutnya, bahasan kami menjadi makin berkembang. Saya penasaran dengan bagaimana harapan dari sudut pandang pria mengenai respon membalas pesan tersebut. Maksudnya, bila kondisinya dibalik, apabila ada seorang pria yang berkirim pesan pada seorang wanita, apakah yang diharapkannya? Apakah ia juga berharap pesannya direspon/dijawab, atau hanya cukup dibaca? Kalau berharap direspon, seberapa banyak/panjang respon yang diharapkannya? Apakah sama dengan yang kami harapkan, sebagai kaum hawa?

Kawan saya yang seorang pria tersebut menjawab, bahwa ya, mereka juga berharap bahwa pesannya akan direspon atau dijawab balik. Bedanya, mereka juga tak berharap bahwa responnya harus sama panjangnya. Yang penting pesannya direspon/dijawab saja sudah cukup. Atau, misalkan dalam dunia socmed, misal status atau komentarnya diberi like saja, itu sudah cukup. Hohoho..

Lalu saya jadi terpikir lagi untuk bertanya, berdasar hasil pengamatan saya pada beberapa pria, ada juga yang suka sekali gonta-ganti DP BBM atau update status, yang isinya nyerempet-nyerempet kode, tapi ga jelas juga siapa yang dikodein. Apa sih tujuannya? Kenapa mereka tega begitu? Bukannya dengan update-update kode begitu, pesannya belum tentu sampai ke yang dituju, dan bisa jadi malah menimbulkan mispersepsi pada beberapa pihak lain yang bisa jadi bukan menjadi ‘target’ kodenya?

Kata teman saya, fungsinya, untuk lihat respon ‘target’-nya.
Kalau dia cuek, berarti dia ga tertarik. Kalau dia respon/terpancing, berarti dia ada rasa dengan si pria. *oh meeen!* Bagi saya, sepertinya simpulannya tidak sesederhana itu. Toh saya juga sering aja gitu komen di status/DP BBM saudara/teman yang saya rasa agak nyepik-nyepik orang lain. Saya tau itu bukan saya yang dituju, tapi saya gemes aja gitu sama mereka. Bisa-bisanya pasang-pasang kode begitu. Lah kalau ada wanita lain yang ge-er, atau kepancing, padahal bukan dia ‘target’-nya, kan kasian juga. Dan.. meski saya respon update status kode/DP BBM mereka, toh saya ga ada feel yang gimana-gimana sama mereka, biasa aja. Jadi, menurut saya pribadi, simpulannya itu tak bisa dipakai harga mati.

Saya katakan padanya, belum tentu demikian kondisinya. Bila si wanita merespon/terpancing, maka dia ada rasa/tertarik. Bila si wanita diam tak bergeming alias (terkesan) cuek-cuek saja, maka dia tak tertarik/tak ada rasa. BELUM TENTU.

Sebab bisa jadi, di sudut lain sana, ada juga wanita yang benar-benar sedang berjuang menjaga dirinya. Entah seberapa dalam rasanya terhadap si pria, ia dengan sekuat tenaga menahan diri, menikam hatinya berkali-kali, untuk mengalahkan hawa nafsunya sendiri.
Sebab bisa jadi, dalam diamnya, wanita itu bertanya-tanya sendiri dalam batinnya, apakah benar ia yang dimaksudkan dalam status/DP BBM sang pria pujaan hatinya?
Sebab bisa jadi, dalam diamnya itu, wanita itu berulang kali menahan gemuruh di dadanya berseling dengan isak tangisnya.
Sebab bisa jadi, di sudut lain itu, sang wanita lebih memilih terjaga di tiap sepertiga malamnya, berlama-lama bersujud dan memanjatkan doa, memohon agar disegerakan jodohnya.
Sebab bisa jadi, ada cara-cara lain yang lebih dipilihnya, untuk menjaga diri dan kehormatannya, daripada sekedar balas main kode yang tak ada ujungnya.

Oleh karenanya, duhai para pria, jangan kau siksa lagi ia dengan kode-kode kekanak-kanakan mu itu.
Jangan kau jerumuskan ia dalam dosa-dosa yang saat ini pun ia sedang dengan sekuat tenaga untuk menjauhinya.
Bantulah ia untuk menjadi muslimah yang taat, yang mampu menjaga diri dan perasaannya, hingga saatnya tiba.
Tak perhatian denganmu saat ini, bukan berarti ia benar-benar tak peduli dengan hidupmu,
Namun bisa jadi, ia sedang benar-benar menahan diri, menanti hingga benar-benar menjadi halal bagimu, dan akan ia curahkan segala perhatiannya nanti kala ia berbakti menjadi istrimu.
Bisa jadi, ia lebih memilih untuk tulus langsung mendoakan kebaikan dan keejahteraanmu, daripada sekedar menanyakan kabarmu.
Bila engkau memang sungguh berniat hati dengannya, jemputlah ia segera.
Sampaikan niat baikmu padanya,
Datanglah pada ayahnya. Katakan, bahwa engkau siap untuk menjadi imamnya.
Kalau memang masih ada ragu dalam hatimu, lebih baik tahanlah dirimu. Mantapkan lagi rasamu. Pastikan dalam istikharahmu.
Pintalah ia dalam sujud dan doa-doamu terlebih dahulu, sembari terus kau bangun dan perbaiki dirimu.
Seiring ia juga berproses dalam perbaikan dirinya,
Seiring dengan doa-doanya yang ia lesatkan pula ke langit, agar engkau segera datang untuk menjemputnya.

Bukankah cara yang demikian lebih jelas dan mulia?

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s