Ia-lah Sebaik-Baik Perencana

Betapa luar biasanya jalan yang Allah beri.

Beberapa hari lalu, pikiran saya sudah tak menentu. Penat sekali rasanya. Load pekerjaan yang luar biasa, masalah pribadi, sekaligus beberapa friksi yang saya rasakan dalam hati. Betapa berkecamuknya pikiran dan perasaan saya kala itu. Kesal, bingung, bercampur jadi satu. Hingga terlintas dalam batin saya, “Kalau begini terus, kapan saya punya waktu untuk berpikir mengenai kehidupan pribadi saya sendiri?” dan… tak lama setelahnya, saya jatuh dari tangga kantor. Kaki saya terkilir, bengkak. Sakitnya lumayan. Air mata menetes seketika. Air mata sakit di kaki, bercampur dengan air mata luapan dari berkecamuknya hati. Teman-teman menawarkan untuk mengantar ke tukang pijit, namun saya menolak karena rasa takut yang tak bisa saya hindari.

Kaki saya yang awalnya saat baru jatuh masih bisa dibuat berjalan sedikit-sedikit, semakin malam semakin membengkak dan semakin sakit. Malam hari, Bapak dan adik akhirnya mengantar periksa ke UGD. Dokter menyarankan untuk dirontgent. Dari hasil rontgent, dokter mengatakan bahwa terdapat tiga retakan halus di kaki saya. Berikutnya, saya diminta untuk melanjutkan periksa ke dokter spesialis tulang beberapa hari kemudian.

Pulang ke rumah, tak seperti malam-malam biasanya, semua anggota keluarga jadi berkumpul di lantai bawah. Gotong royong membantu apa yang saya butuhkan. Membantu saya berjalan, ke belakang, meminjamkan tongkat, mengambilkan makanan, minuman, dan lain sebagainya. Bersyukur, tetapi miris sekali rasanya. Saya jadi merepotkan banyak orang. Yang lebih membuat miris lagi adalah, kala saya kesulitan untuk membasuh/menyiram kaki saya kala berwudhu. Ibu saya dengan sigap & ikhlasnya menunduk di bawah saya dan membasuh kaki saya. Rasanya hati saya amburadul sekali. Serasa durhaka. T_T

Begitulah hari-hari saya lalui selama beberapa hari ini. Hampir apapun yg memerlukan gerakan/bantuan pijakan kaki, tak bisa saya lakukan sendiri. Selalu bergantung pada bantuan orang lain. Sebagian besar waktu/aktifitas, saya lakukan sambil duduk & tidur di atas kasur sembari meluruskan kaki. Baca, pegang handphone, nyicil kerjaan kantor, & merenung. Ya. Karena sakit ini, rasanya saya jadi diberi waktu yang luar biasa ekstra dari Allah untuk merenung dan berpikir. Yang awalnya saya selalu kesulitan cari waktu untuk membicarakan sesuatu hal yang sedang perlu serius saya bicarakan dengan ibu (sebab kesibukan kami masing-masing), Allah beri saya sakit ini, Ibu saya beberapa kali menemani, tidur di samping. Hingga akhirnya, saya jadi punya kesempatan untuk berbicara dengannya. Yang awalnya pikiran saya seolah tak diberi kesempatan untuk merenungkan urusan pribadi saya sebab sudah terlalu penuh dengan urusan-urusan pekerjaan, Allah beri sakit, hingga akhirnya saya punya cukup waktu untuk merenungkan urusan pribadi saya sendiri (yang mana adalah memang yang sedang benar-benar saya butuhkan saat ini). Maasyaa Allah, betapa luar biasanya rencana Allah.

Berjalan beberapa hari, hati saya serasa makin tenang, tangis saya makin kering. Allah beri saya cukup pelajaran melalui sakit ini. Saya juga jadi teringat dengan doa-doa yang selalu saya panjatkan. Saya selalu memohon pada-Nya agar senantiasa dijadikan insan yang mudah bersyukur, memohon agar dikaruniai kesabaran, kelapangan hati, dan keikhlasan. Dan saya barulah menyadari, ternyata Allah menjawab doa-doa saya dengan sakit ini. Dengan sakit ini, saya serasa diingatkan kembali dengan pelajaran bersyukur. Bahwa sungguh nikmat sehat itu luar biasa. Nikmat kaki yang sempurna dan bisa jalan dengan keduanya itu luar biasa. Bahwa nikmat keluarga & kawan-kawan yang peduli itu adalah tak terhingga. Dan bahwa segala nikmat yang mungkin dalam keseharian sudah kita rasakan seperti taken for granted, adalah nikmat-nikmat yang tetap patut kita syukuri. Bahwa melalui sakit ini, Allah ajarkan lagi pada saya untuk terus berlatih bersabar dan ikhlas atas segalanya. Bahwa dengan sakit ini, saya jadi punya waktu untuk mengistirahatkan diri. Bahwa ternyata dengan sakit ini, Allah beri rencana-rencana lain yang lebih bermakna & lebih indah yang tak pernah saya sangka.

Kini, saya masih duduk sendiri di atas kasur, meluruskan kaki, sembari menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan yang masih menjadi tanggungan saya. Namun, hati saya rasanya sudah jauh lebih nyaman dibanding saat sebelum saya jatuh dari tangga kemarin. Ah, kawan. Seringkali kita terlupa. Bahwa Allah akan selalu beri yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Tentu dengan cara-Nya sendiri. Cara yang luarr biasa istimewanya. Kecamuk dan bimbang itu memang masih ada, namun saya yakin Allah akan mengatur semuanya dengan sebaik-baiknya. Entah apapun yang terjadi pada saya nanti, insyaa Allah saya siap. Saya serahkan hidup saya pada-Nya. Sebab saya percaya, Ia-lah sebaik-baik perencana.

*PS: terima kasih banyak untuk keluarga & kawan-kawan tercinta yang sudah cukup peduli & banyak membantu. Saya mohon maaaaaafff karena telah merepotkan. Semoga Allah membalas keikhlasan & kebaikan yg diberi dan mencatatnya sebagai pahala. Aamiin yra.

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s