Perkara Sakit Hati

Aku naifkah Bund? Pinginnya, orang tuh nggak nyakitin aku. Soalnya aku nggak pernah ada niat nyakitin orang“, tanya seorang kawan. Saya tak menjawab apakah ia naif atau tidak. Sebab, fokusnya bukan di situ. Saya melihat ada yang tidak konsisten dari ucapannya. Premis pertama, ia bilang bahwa ia tak ingin menyakiti orang, maka objeknya adalah perasaan orang lain yang bisa jadi merasa tersakiti olehnya. Namun, di premis kedua, ia katakan bahwa ia tak pernah ada niat untuk menyakiti orang lain. Ia membandingkan apa yg bisa jadi dirasakan oleh orang lain sebagai akibat dari tindakannya, dengan niat yang ia miliki kala melakukan suatu tindakan.

Saya jelaskan padanya, tentu kita tak bisa juga demikian. Sebab, bisa jadi juga, kala kita merasa tersakiti oleh perilaku/sikap/tindakan orang lain, yang bersangkutan sendiri tidak pernah berniat untuk menyakiti kita. Sama. Lagipula, bukankah kita tak bisa mengontrol orang lain? Yang bisa kita lakukan adalah hanya berusaha mengontrol diri sendiri, pun mengatur persepsi yang ada dalam diri.

“Keliatannya kalo ngomong gampang ya? Tapi ancen uaanggeeelll (memang sangat sulit) kok praktiknya. Hehe. Tapi kan yang penting kita mau usaha.”, tambah saya.

“Hehe. Iya. Manusiawi ya Bund?”

“Iya. Ya tapi daripada kita capek sendiri? Kita kan nggak bisa juga kontrol mereka. Sakit nggak sakit, kecewa nggak kecewa, bahagia nggak bahagia, semua cuma bergantung dari ‘kacamata’ yang kita pake aja sebenernya.”, imbuh saya.

“Aku ini sensitif kah Bund? Atau wajar aja kalo aku kesel (kesal)?”, tanyanya berikutnya.

“Ya wajar aja. Cuma kan berikutnya kita bisa pilih, mau terus kesel, merasa direndahkan, disepelekan, dan lain-lain, atau lihat dari sisi lainnya lagi.”

———————————————————————————————————————————————–

Curhat teman saya tersebut, mengingatkan saya pada sebuah kisah tentang ‘tetangga dan kotoran’. Saya lupa judul persisnya apa dan pernah baca di mana, tetapi saya masih ingat inti ceritanya.

Alkisah, ada orang kaya raya yang sangat dermawan. Ia mempunyai kebun berbagai buah-buahan di halaman belakangnya. Setiap kali pohonnya berbuah, ia dengan senang hati membagi buah-buahan hasil panennya tersebut kepada tetangganya. Namun apa yang terjadi? Tetangganya membalasnya dengan memberinya gundukan kotoran kerbau di depan rumahnya. Begitu terus balasannya setiap kali ia membagi buah hasil panennya kepada tetangganya tersebut. Sakit hatilah ia. Ia dengan senang hati berbagi pada tetangganya. Niatnya baik. Tetapi apa balasannya? Tetangganya memberinya gundukan kotoran kerbau.

Hingga suatu hari, baru terpikirlah ia. Barangkali kotoran ini ada manfaatnya. Diambillah gundukan kotoran yang diberi tetangganya tersebut. Dibawanya ke kebun belakang, dan digunakannyalah untuk pupuk pohon-pohon buahnya. Kebunnya makin rimbun dan buah-buahan tumbuh subur. Ia bahagia sekali. Ia tak lagi sakit hati pada tetangganya, dan justru semakin berterima kasih atas pemberiannya. Dibaginya lagi buah-buahan yang semakin banyak pada tetangga yang memberinya kotoran kerbau tersebut sebab dari hasil panennya semakin berlimpah. Setelahnya, makin harmonislah hubungan keduanya.

Ah.. betapa indahnya bukan?

Dari kisah tersebut, kita bisa lihat dari beberapa sisi. Bisa jadi, tetangganya tersebut memang berniat buruk pada Si Kaya. Atau, bisa jadi pula, tetangganya tersebut memang berniat memberi kotoran untuk digunakan sebagai pupuk. Namun, entah apapun niatnya, Si Kaya akhirnya berhasil melihatnya dari sisi positif, sehingga hasilnya pun lebih indah. Hubungannya dengan Sang tetangga menjadi harmonis, dan mereka menjadi sama-sama bahagia. Bayangkan bila Si Kaya terus merasa sakit hati, lalu membalas lagi kepada tetangganya. Heu. Serem!

Nah, dari curhat kawan saya di atas & kisah tentang kotoran kerbau tersebut, bisa disimpulkan beberapa hal:
– Bisa jadi, cara kita mencintai justru menyakiti orang lain. Atau, bisa juga, bisa jadi, kita tersakiti oleh tindakan orang lain, belum tentu karena ia berniat menyakiti kita, tetapi mungkin justru itulah caranya mencintai kita. Sayangnya, caranya kurang tepat.
– Kala orang lain (mungkin) berniat menyakiti kita, respon berikutnya kitalah yang menentukan. Kita bisa saja marah. Namun kita bisa juga mengambil pelajaran, atau mencari sudut pandang lain dari kejadian tersebut. Respon kita nantinya, akan menentukan pula bagaimana kisahnya akan bergulir.. (*halah lebay :D)

Kawan, kebahagiaan yang kita rasakan bukanlah tanggung jawab orang lain, melainkan ada pada diri kita sendiri. Kebahagiaan adalah pilihan dan bukan seperti model stimulus – respon yang bersifat otomatis.

Saya jadi teringat sebuah quote favorit dari Dedy Susanto, “Masalah tidak akan menjadi masalah bila perasaanmu tidak bermasalah.

Semoga kita dimudahkan Allah untuk terus aware terhadap state diri sendiri. Dimudahkan untuk memilih respon, sehingga dapat tercipta perasaan dan emosi yang tetap tenang dan menyenangkan. Aamiin yra.

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

3 comments

    1. yup! tepat sekali.

      analogi ringannya seperti ini:
      suatu waktu, pernah saya melihat nyamuk yang hinggap di kaki ibu. tak mau ibu gatal akibat digigit nyamuk, dengan sigap saya langsung tepok nyamuk itu di kaki ibu. mungkin, saya nepoknya terasa agak keras kali ya, akhirnya ibu kaget dan marah. katanya sakit. padahal niat saya tadi, agar ibu tak tersakiti karena nyamuk. hiks.. kecewalah saya.. 🙂

      Like

  1. Cara termudah untuk saling memahami adalah dengan memahami dan menyesuaikan… ahahaha
    Tapi, terkadang memang ada juga sih orang yang mencintai tapi caranya malah menyakiti orang tersebut. hahaha *Gubrak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s