Suami

“Apa lagi, Syifa? Bukankah punya pasangan sudah lebih dari cukup? Bukankah yang terpenting adalah kau tak sendiri lagi dan ada yang bersedia mendampingi? Itu kan alasan mengapa kita perlu seorang suami?”

“Ya Zahida. Memang benar. Suami memang untuk mendampingi. Tapi aku tak mau bila sekedar demikian.”

“Lalu apa lagi, Syifa? Kau ini rumit sekali.”

“…..
Zahida, yang aku inginkan, kelak, suami akan menjadi rumah tempatku pulang, meski entah ke manapun mungkin aku telah melangkah. Suami adalah tempatku pulang, saat segala peluh di luaran telah tercurah. Aku mau, suami adalah tempatku pulang dan bersandar. Yang aku mau, suami adalah imam bagiku, di mana aku bisa mencium tangannya dengan takzim dan penuh hormat. Bahwa betapapun kerasnya aku, aku akan kembali kepada fitrahku sebagai perempuan kala menjadi makmumnya. Mentaati segala bimbingannya.

Ah, Zahida. Mungkin memang benar aku ini terlalu rumit. Aku tau manusia tak ada yang sempurna. Oleh karenanya tak pernah kunanti yang sempurna. Namun, aku juga tak mau bila hanya sekedar punya suami. Yang aku inginkan, nantinya, kami bisa senantiasa seiring sejalan. Bermitra meniti jalan menuju jannah-Nya.

Apa kau mengerti, Zahida?
Kau tau, saat kau memilih siapa yg kelak akan menjadi suamimu, maka kau pun juga memilih calon ayah dari anak-anakmu, yang dengannya kau akan bersama mendidik dan membesarkan putra putrimu menjadi insan insan yang kenal akan Tuhannya, yang kuat pendiriannya, yang akan membawa kesejukan bagi siapapun yang ada di sekitarnya. Kau pun juga sekaligus memilih, panutan dan imam dalam rumah tanggamu. Kau pun juga memilih, sahabat sejati yang akan dengan setia mendengar segala ceritamu. Kau pun juga sekaligus memilih pahlawanmu, yang akan dengan sabar membimbing sekaligus bersedia melindungimu. Kala kau memilih suami, maka kau memilih rumahmu untuk pulang. Aku mau, kelak, tak ada tempat yang lebih aku inginkan untuk pulang, selain kepadanya, Zahida. Aku mau benar-benar takzim kala mencium tangannya kelak. Oleh karenanya, boleh kan aku berhati-hati kala memilihnya?”

“Ah, Syifa.. aku mengerti sekarang. Semoga Allah mempermudah langkahmu, sahabatku.. Temukan rumahmu untuk pulang.”

Syifa tersenyum dan mengaamiini doa sahabat karibnya.
“Allahurabbi, kupercayakan segalanya hanya pada-Mu. Mudahkanlah bagiku membaca petunjuk-Mu. Tenangkanlah hatiku.”, lanjutnya meminta, dalam batinnya.

Air mata Syifa masih bercucuran. Tiap tetesnya menyatu dengan rerintik air hujan yang menyentuh rerumputan. Gemericiknya seakan menjadi senandung, mengiringi lantunan doa-doa yang dipanjatkan dalam batinnya. Setelah pembicaraan itu, suasana menjadi syahdu, kala senja sore itu.

Advertisements

3 comments

  1. Rumah bukan sekedar tempat berkumpul bersama keluarga. Rumah adalah tempat menjadi diri sendiri, setelah sekian lama menjadi “sosok lain” saat bekerja. Rumah bukan sekedar tempat melepas penat setelah sibuk dengan urusan dunia. Rumah adalah tempatmu menangis, tertawa, tersakiti lalu sembuh, terjatuh lalu bangkit kembali. Rumah adalah tempat untuk mengisi tenaga, sebelum esok bertarung dan terluka lagi.

    Definisi rumah mungkin berbeda-beda tiap orang. Bagi Ian, rumah adalah tempat kembali. Rumah adalah tempat untuk pulang. “Sejauh apapun ia terbang, aku ingin ia kembali ke rumah,” Ian menangis, “nyatanya, ia tak pernah ‘pulang’ ke rumah. Padahal bagiku, rumah bukanlah bangunan fisik ini. Aku bisa menemukan banyak zona nyaman baru, asal bisa bersamanya. Bagiku, rumah adalah ia.”

    ~ Laron

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s