Balada Rahasia

21.12.12

Aku bingung bukan kepalang. Baru saja manajer minta tolong untuk mempersiapkan semuanya. Beliau bilang, aku harus mengerjakannya sendiri dan jangan sampai ada seorang pun yang tau. Cukup antara manajer, supervisor, dan aku. Katanya, ini harus benar-benar dijaga dan dirahasiakan sebab pimpinan benar-benar ingin ini menjadi rahasia yang terjaga. Bahkan manajer lain pun tak ada yang tahu. Padahal sudah kusampaikan padanya, biasanya yang menghandle hal ini adalah aku dan Dafina. Aku tak enak pula padanya. Namun bagaimana lagi. Aku juga memahami kekhawatiran manajer. Pimpinan mempercayakan hal ini padanya. Semakin banyak yang tahu sebelum waktunya, maka akan semakin berbahaya.

————

25.12.12

Aku memahami kondisinya. Kuusahakan saja menerima amanah yang dipercayakan sebaik-baiknya. Jadi, lebih enak begini, lebih baik kerja di saat kawan-kawan lain menikmati akhir minggunya. Layar komputerku bisa nonstop membuka window yang sama: window-window yang perlu kuminimize – switch window lain saat aku bekerja di hari kerja atau jam kerja biasanya. Mau bagaimana lagi? Kala masih jam kerja, kawan-kawan banyak yang berlalu lalang melalui layar monitorku. Monitor harus selalu terjaga. Begitu ada yg lewat – minimize – switch window lain. Sudah semacam nonton hal terlarang di jam kerja saja aku. Pun dengan berkas-berkas yang ada. Harus rapi kusimpan dengan sebaik-baiknya sebelum harinya tiba. Demi rahasia. Demi amanah yang ada.

————

28.12.12

Semakin mendekati hari H, tidurku makin tak nyenyak. Mimpi tentang rahasia mengganggu tidur-tidur malamku. Rupa-rupanya tanpa sadar, sepertinya ego-ku sudah turut andil merepress kecemasanku. Cemas tentang rasa bersalahku pada Dafina. Cemas juga tentang amanah akan rahasia yang harus kujaga. Belum lagi teriring dengan adanya beberapa pihak yang semakin mendekati harinya, semakin dengan teganya bertanya memohon informasi, meski sebenarnya mereka tahu bahwa tak mungkin juga aku memberitahunya.

————

30.12.12

Ah.. akhirnya hari ini datang juga. Setelah acara selesai, terbebaslah aku dari rahasia yang harus kujaga. Hari ini aku belajar, bahwa rahasia adalah amanah yang luar biasa. Rahasia bisa menjadi beban kala benar-benar harus dijaga. Terlebih apabila pihak-pihak lain tahu bahwa rahasia itu ada pada kita.

Lega, tapi juga tak enak pada Dafina, Syarifah, dan Rana. Aku tau bahwa mereka juga bisa dipercaya. Tapi bagaimana lagi. Manajer dan supervisor bilang ini harus benar-benar dijaga. Ah, kadangkala amanah bisa jadi semacam dilema. Namun, bagaimanapun juga, amanah adalah amanah yang harus dijaga.

————

30.12.12

Agak kecewa rasanya hari ini. Bagaimana bisa Kezia dan Dafina bisa setega itu padaku dan Rana. Mereka kan juga tahu bahwa aku bisa dipercaya. Toh kami juga sadar diri dan tak mungkin akan membocorkan siapa saja pejabat yang akan dilantik nanti. Lagipula, ini sudah pagi di hari yang sama. Pelantikan juga akan dimulai tak kurang dari 1 jam lagi. Kami kan juga perlu berlatih daripada nantinya salah dan tak lancar membaca nama-namanya kala bertugas.

————

30.12.12

Aku paham bagaimana perasaan Syarifah dan Rana. Namun apa daya, bukankah ini adalah amanah yang harus aku jaga? Supervisor hanya bilang bahwa aku perlu bantu Kezia untuk menyiapkan ini semua dan harus menjaga rahasia. Bagaimana bisa aku membocorkannya kepada mereka, meski mereka kawan dekatku sendiri. Meski mereka juga turut bertugas. Meski aku juga yakin mereka amanah dan tak akan membocorkannya kepada yg lain. Namun bukan itu perkaranya.

Lagipula aku juga sebenarnya agak kecewa. Bagaimana bisa supervisor menyerahkan pekerjaan ini – pekerjaan yang biasa kutangani ini – kepada Kezia seluruhnya? Bukankah aku selama ini juga tak pernah membocorkannya? Bukankah selama ini aku juga berusaha sebaik mungkin untuk menjaga amanahnya? Lalu bagaimana bisa supervisor baru memintaku memeriksa dan melanjutkan apa yg telah dipersiapkan Kezia ini hanya di H-2 sebelum acara? Tapi ya sudahlah. Yang terpenting aku tak pernah menghianati amanah yang telah dipercayakan supervisor padaku.

———————————————————————————————————————————————

Kawan,
Ada rahasia.
Kau tau bagaimana sebuah rahasia bisa tak lagi menjadi rahasia?
Kala ada orang yang dipercaya untuk menjaganya, merasa bahwa ia juga bisa mempercayai orang lain lagi untuk bisa turut dipercaya menjaga rahasia orang lain yang diamanahkan kepadanya.
Lantas orang ketiga tadi, juga merasa sama pada orang lain lagi, yang ia rasa bisa ia percaya.
Begitulah seterusnya, rahasia terus bergulir hingga tak lagi menjadi sebuah rahasia.
Terus bergulir diiringi dengan ucapan, “Tapi jangan bilang siapa-siapa ya! Ini rahasia.” seiring dengan keyakinan dalam hatinya bahwa tak mengapalah ia ceritakan, toh hanya pada seorang ini saja – seorang yang benar-benar ia percaya.
Terus bergulir hingga menjadi rahasia semu.
Masing-masing merasa merekalah yang menyimpan rahasianya.
Sementara sang orang pertama tadi masih percaya bahwa rahasianya aman-aman saja di tangan seorang yang dipercayainya, yang ia yakin takkan pernah menghianatinya.
Kawan…
Inilah balada rahasia.

Advertisements

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s