Seminar APIO: Managing People to Create an Adaptive Organization

Kali ini izinkan saya berbagi cerita sedikit setelah saya menghadiri seminar yang diadakan oleh APIO (Asosiasi Psikologi Industri Organisasi) Sabtu, 6 Desember 2014 kemarin. Iklan acaranya saya temukan di facebook tepat 3 hari sebelum acara berlangsung. Tanpa pikir-pikir lagi, segeralah saya apply untuk join. Apalagi setelah membaca judulnya, terasa pas dengan kondisi organisasi saat ini yang sedang turut laju dalam gerbong perubahan, daaan yang paling penting lagi, acaranya GRATIS! yeay! 😀

Dalam poster, disebutkan ada 5 pembicara yang akan hadir & berbagi pengalamannya, yaitu:
1. Drs. Harry Bagyo, Apt. – President Director PT. Otsuka
2. Prof. Dr. Fendy Suhariadi, M.T., Psikolog (Ketua Senat Akademik UNAIR & Ketua Umum APIO Indonesia)
3. Tri Rismaharini (Walikota Surabaya)
4. Achmad Djauhar Arifin (Owner PT. Polowijo Gosari)
5. Nashrudin Ismail, S.T. (GM Human Capital Development PT. XL Axiata)

Sayangnya, kemarin Ibu Risma tak jadi hadir karena tiba-tiba ada kabar bahwa ada seorang anak yang hilang di Kalimas, Surabaya, sehingga ybs berfokus mencari anak hilang tsb sebelum menghadiri & berbagi pada kami. Dan sayangnya lagi, hingga acara berakhir, pencarian anak hilang tersebut belum membuahkan hasil sehingga Ibu Risma batal berbagi bersama kami pada kesempatan kemarin.

Dari seminar kemarin, ada beberapa hal penting yang dapat saya garis bawahi:

Pembicara pertama, Bapak Drs. Harry Bagyo, Apt. (President Director PT. Otsuka)
Dalam pembuka slidenya, beliau mengutip quotes dari Ken Blanchard dalam bukunya “Whale Done – The Power of Positive Relationships

“In the past, a leader was a boss. Today’s leaders must be partners with their people. They no longer can lead solely based on positional power.”

Dalam kesempatan kemarin, beliau berbagi tentang Whale Done Response & Whale Done Principle dalam membangun kultur adaptif dalam sebuah organisasi dalam mendukung perubahan. Guna mendukung perubahan dalam organisasi, inti yang terpenting adalah bagaimana anggota dari suatu organisasi, dan atasan khususnya dapat membentuk suatu kultur positif dalam lingkungannya. Kultur positif tersebut dapat dibangun dengan menerapkan apresiasi kepada bawahan. Yang menancap dalam ingatan saya dari perkataan P. Bagyo kemarin adalah,

“Seringkali, atasan menegur apabila ada pekerjaan anak buahnya yang salah. Namun, apabila pekerjaan itu dikerjakan dg baik & benar apakah diberi apresiasi? Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah karyawan yg mampu bekerja dg baik & benar itu adalah sesuatu yg biasa-biasa saja? Tidak kan?”

Oleh karenanya, atasan perlu untuk melatih diri memberi apresiasi sebagai reward pada bawahannya apabila ia dapat melakukan pekerjaan dg baik & benar, selain memberi punishment kala bawahan berbuat kesalahan/pelanggaran.  Atasan dapat menerapkan Whale Done Response kala mengapresiasi bawahan, yang terdiri dari 4 poin yang dapat digarisbawahi, yaitu:
1. Puji dg segera (praise immediately)
2. Katakan dg spesifik (be specific)
3. Ungkapkan perasaan positif (share positive feeling)
4. Dorong untuk tetap berprestasi (encourage to keep up the good work)

Sedangkan Whale Done Principle terdiri dari 3 poin penting yang perlu menjadi fokus seorang leader, yaitu:
1. Membangun kepercayaan (build trust)
– Tulus & jujur
– Jangan menyakiti
– Luangkan cukup waktu, bersabar. Kita perlu menyadari bahwa kepercayaan dibangun dg proses, tidak bisa seketika.
2. Mengutamakan hal-hal positif (accentuate the positiveness)
3. Pengarahan ulang (redirect)
Saat menemukan kesalahan, yang perlu dilakukan adalah pengarahan ulang (redirect) dan bukannya menegur/memarahi.

Setelahnya, beliau menceritakan tentang bagaimana proses perubahan kultur perusahaan dan hubungannya dengan trend penjualan produk dalam perusahaan yang ia pimpin. Beliau menunjukkan grafik penjualan selama beberapa tahun dari suatu produk. Dari grafik tersebut tampak sekali bahwa trend penjualan meningkat pesat pada tahun 2014. Pertanyaannya adalah, mengapa? Ternyata oh ternyata, pada awal tahun 2014 tersebut, beliau mencanangkan penerapan kultur adaptif pada perusahaannya. Ia mewajibkan seluruh karyawannya untuk memegang teguh & menerapkan 4 prinsip dalam keseharian mereka, yaitu 4 NO!:
1. No blaming (tidak menyalahkan)
2. No judging (tidak menghakimi)
3. No prejudice (tidak berprasangka)
4. No negative (tidak berpikir negatif)

Keempat prinsip tersebut ternyata membawa hawa positif dalam lingkungan perusahaan sehingga berpengaruh juga terhadap kinerja & marketing produk yang mereka hasilkan. P. Bagyo bilang, memanusiakan manusia akan berdampak pada produktifitas, sebab sumber daya manusia itu adalah makhluk yang dinamis. Luar biasa ya ternyata?

Di penghujung presentasinya, beliau memperkenalkan kami pada sosok seorang Emmanuel Kelly. Emmanuel Kelly adalah seorang peserta The X Factor Australia Series 3 yang memiliki kecacatan pada kaki & tangannya. Saat bayi, ia ditemukan di sebuah wadah bersama dengan seorang kakaknya, dan berikutnya ia diasuh oleh seorang ibu luar biasa yang hingga kini mampu membuatnya seperti saat ini. Dulu, ibunya pernah berpesan padanya bahwa tak ada ciptaan Tuhan yang salah, tugas kita hanyalah menemukan di mana letak keistimewaan kita.. Dan berkat pesan ibunya itulah, Emmanuel berhasil menemukan keistimewaannya dan dengan penuh percaya diri turut maju dalam sebuah acara kompetisi menyanyi tersebut. Video yang diputarkan beliau cukup membuat para peserta terharu dan tak sedikit pula yang meneteskan air mata. Berikut saya share videonya: http://www.youtube.com/watch?v=W86jlvrG54o

Pembicara kedua, Bapak Prof. Dr. Fendy Suhariadi, M.T., Psikolog (Ketua Senat Akademik UNAIR & Ketua Umum APIO Indonesia)
Berbeda dengan pembicara pertama yang tampil dengan menyajikan slide & video, P. Fendy tampil tanpa teks & tanpa slide. Beliau dengan lancarnya berbagi cerita tentang pengalamannya dalam membawa perubahan Fakultas Psikologi & Universitas Airlangga ke arah yang lebih baik hingga saat ini. Dari yang gedung F.Psi terlihat jadul & jelek banget, sempit, sampai bisa pindah ke yang lebih besar & lebih cantik seperti sekarang ini. Dari UNAIR yang dulu rank 500 universitas terbaik di Asia aja ga masuk, sampai sekrang ada di urutan 135. Bahwa rahasia terbesar atas keberhasilannya dalam mengusung perubahan adalah TRUST yang diberikan atasan (Dekan F.Psi & Rektor Univ. Airlangga) kepadanya. Bahwa yang terpenting adalah bahwa atasan percaya & mendukung penuh terhadap langkah apapun yang kelak akan beliau ambil demi perubahan fakultas & universitas ke arah yang lebih baik.

Resep kedua dari beliau dalam mengusung perubahan yang dapat saya tangkap adalah, KEBERANIAN. Untuk perubahan, maka kita perlu berani mengubah sistem. Dalam mengubah sistem, maka kita perlu berani mengubah atau menata kembali orang-orang/SDM yang ada. Dalam suatu perubahan pasti akan menyakitkan, pasti akan ada yang dikorbankan. Seperti yang Soekarno pernah bilang pada Soeharto, bahwa revolusi akan selalu makan korban. Beliau menyadari benar hal tersebut. Bahkan dalam prosesnya, beliau benar-benar melakukan rotasi besar-besaran dalam jajaran SDMnya. Beliau sempat memutasikan 100 orang lebih, dan mendemosi beberapa petinggi yang memang dinilai tidak perform kinerjanya. Hanya saja, beliau berpesan, dalam keberanian penataan tersebut, kita harus berbasis pada data. Jangan sampai memutasi, mendemosi, atau bahkan memecat orang lain tanpa data. Dari sini, saya bisa tarik lagi kesimpulan, bahwa untuk memperoleh data yang baik mengenai profil & kinerja SDM, tentu diperlukan juga assessmen yang tepat bagi setiap SDM yang ada.

Pembicara ketiga, Bapak Achmad Djauhar Arifin (Owner PT. Polowijo Gosari)
Berbeda dengan kedua pembicara sebelumnya, Bp. Djauhar kini menyampaikan nilai-nilai penting apa yang diharapkan dimiliki karyawan dari sudut pandang seorang owner perusahaan. Bahwa yang terpenting adalah value apa yang mampu diberikan oleh seorang karyawan. Tak jadi soal ia perlu bayar gaji berapapun asal sebanding dengan nilai yang dapat diberikan karyawan tersebut terhadap kemajuan perusahaannya. Terlebih menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang sudah di ujung mata. Persaingan SDM tak hanya dengan manusia-manusia dalam negeri tetapi juga dengan manusia-manusia berkualitas dari penjuru luar negeri. Oleh karenanya, yang terpenting adalah, bagaimana kita terus mengupgrade diri sehingga bisa menjadi manusia berkualitas, dan bisa menjadi dan memberi yang terbaik. Bila hal tersebut sudah tercapai, MEA pun tak jadi soal lagi.

Pembicara keempat, Bapak Nashrudin Ismail, S.T. (GM Human Capital Development PT. XL Axiata)
Terus terang, saya sudah agak random menangkap penjelasan P.Nashrudin ini, sebab jam-nya sudah mepet-mepet sekali di akhir acara. Beliau menjelaskannya pun sudah terburu-buru sehingga hanya sekilas dan ambil poin-poinnya saja.

Ada beberapa hal yang dapat saya garis bawahi dari apa yang disampaikan beliau, yaitu:
1. Yang penting adalah, value apa yang dapat kita berikan.
2. Kita hidup dalam VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) world. Semuanya serba tidak jelas. Oleh karenanya, penting sekali menjadi insan yang adaptif & mengikuti perubahan & permintaan perkembangan zaman.
3. Ada dua hal penting yang perlu diupgrade oleh SDM: critical thinking & skill komunikasi
4. Untuk menjadi SDM yang ahli, maka ada dua modal penting, yaitu science dan experience
5. Pentingnya pengembangan SDM untuk kemajuan perusahaan. Sayangnya, perusahaan seringkali enggan memberi anggaran training bagi SDM-nya.

Di akhir sesinya, beliau mengutip sebuah quotes yang entah milik siapa. Katanya, “Lebih baik kita training orang, develop mereka, lantas orang itu pintar dan pindah, daripada kita nggak training orang, yang pintar nantinya tetap pindah, dan yang nggak pintar tetep stay di situ. Pilih mana coba?”

Meski durasinya sangat terbatas, menghadiri seminar APIO kemarin, cukup memberi saya secercah cahaya terang, ke mana selanjutnya saya harus melangkah. Bersyukur hati & kaki dituntun ke arah yang tepat 🙂

Berhubung sudah nyaris tengah malam, demikian dulu sharing saya, kawan. Kalau lain kali teringat sesuatu & ada yang tertinggal, insya Allah akan saya edit & saya tambahkan. Semoga bermanfaat.
I care, I share.

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s