Visi: Ibarat Menempuh Perjalanan

Belakangan ini, saya sedang dalam proses menyelesaikan membaca sebuah buku tentang keluarga yang berjudul “Wonderful Family” karya Cahyadi Takariawan. Saat sampai pada bab ketiga, ada yang menarik hati saya. Bab ini membahas tentang pentingnya visi dalam membina sebuah rumah tangga. Dalam tulisannya itu, Cahyadi menganalogikan perjalanan membina rumah tangga adalah selayak kita saat akan menempuh sebuah perjalanan menuju suatu tujuan. Menurut saya, analogi yang beliau sampaikan sangat pas dan mengena. Dalam ceritanya, beliau mencontohkan dengan sebuah perjalanan yang dimulai dari Jakarta ke Surabaya dengan kereta.

———————————————————

Saat memulai perjalanan, dengan mantap hati kita berjalan menuju halte tempat pemberhentian bus umum. Ada sangat banyak bus yang lalu lalang di jalan raya, namun perhatian kita terfokus pada bus yang akan membawa ke Stasiun Gambir. Kita biarkan saja bus-bus itu berseliweran mencari penumpang dan kita tidak menaikinya meski awak bus berteriak-teriak menawari.

Akhirnya, bus kota itu tiba. Jurusan Gambir. Karena tujuan kita adalah jelas akan ke Gambir, maka naiklah kita ke bus tersebut. Saat dalam perjalanan, ada banyak halte tempat bus ini singgah, namun kita tetap tidak memedulikannya. Kita tetap tenang duduk di dalam bus dan tidak turut turun bersama penumpang lainnya sebelum sampai di tujuan kita, yaitu Stasiun Gambir. Saat sampai, kita segera turun dari bus dan segera masuk ke stasiun. Meski di samping stasiun ada Monas, kita tak tergoda untuk berbelok ke sana. Yakin dan fokus. Langkah kita hanya tertuju pada Stasiun Gambir.

Kita akan menumpang Kereta Api Eksekutif Bima jurusan Surabaya yang akan berangkat tepat pada pukul 17.00 WIB. Saat menunggu, ada banyak kereta di sana, namun kita membiarkannya datang dan pergi. Kita memandangi kereta-kereta itu lewat tanpa berusaha menaikinya. Karena memang bukan kereta-kereta itu yang kita inginkan untuk dinaiki untuk mengantar ke tujuan dan kita tau persis hal ini. Kita membiarkan saja kereta-kereta itu pergi dan tetap setia menanti di ruang tunggu keberangkatan.

Saat menunggu, teman kita bisa saja menawari/menyarankan untuk mencoba kereta-kereta lain. Naik Taksaka misalnya, karena ada gerbong super eksekutif di dalamnya yang sangat nyaman. Atau naik Kereta Gajayana karena ada banyak kejutan di dalamnya. Atau naik Kereta Argo Muria karena hanya empat jam waktu tempuh perjalanan. Namun kita tetap mengatakan tidak dan tetap memutuskan untuk naik Kereta Bima. Mengapa? Karena kereta-kereta lainnya itu tadi tak akan mengantarkan kita ke Surabaya. Dengan Taksaka, kita hanya akan sampai di Yogyakarta, dengan Gajayana hanya akan mengantar kita ke Malang, dan dengan Argo Muria kita hanya akan sampai ke Semarang, tidak ke Surabaya. Hati kita telah mantap bahwa kita hanya akan ke Surabaya, meski harus menempuh 13 jam perjalanan, tak mengapa, karena memang tujuan kita akan ke Surabaya.

Kita nikmati perjalanan dengan Kereta Bima. Esok pagi pukul 6, insya Allah kita akan sampai di Stasiun Gubeng Surabaya. Kita bersyukur, turun dari kereta dengan selamat sampai tujuan akhir. Andai kita naik bus kota sembarangan dari halte dekat rumah, niscaya tidak akan mengantar kita ke Stasiun Gambir. Andai kita turun di halte-halte yang lain, tentu tak akan sampai pula di Stasiun Gambir. Andai kita mengikuti ajakan orang yang berkunjung ke Monas, kita tak jadi masuk stasiun. Andai kita naik kereta-kereta lainnya, tentu juga tak akan sampai di Surabaya. Semua langkah kita tadi, sejak berangkat dari rumah, sudah terfokus untuk mengantarkan kita ke Surabaya. Kita berhasil mengabaikan berbagai gangguan yang bisa menghalangi tujuan kita untuk sampai di Surabaya. Kita berhasil memfokuskan langkah menuju tujuan akhir yang pasti dan kita telah sampai di sana.

———————————————————

Dari analogi di atas, maka makin jelaslah betapa pentingnya tujuan dalam sebuah perjalanan. Bila tidak, bisa saja kita berbelok-belok tak jelas arah, karena tak tau mana yang akan kita tuju. Dari cerita di atas, apa yang menyebabkan langkah kita fokus menuju tujuan akhir? Karena kita telah memiliki visi yang jelas dan kuat. Kita punya gambaran yang jelas dan akurat tentang tujuan akhir yang kita inginkan. Visi menuntun hidup kita untuk fokus mencapai pada tujuan. Kita menjadi tak mudah tergoda atau tertarik dengan hal-hal lain yang bukan tujuan kita. Kita menjadi lebih efektif dan efisien dalam mengalokasikan sumber daya dalam diri hanya untuk mengantarkan pada tujuan akhir.

Ya. Begitupun dalam membina sebuah rumah tangga. Menurut saya, adalah sangat penting untuk memperjelas dan menyelaraskan visi saat akan membina sebuah rumah tangga. Paling tidak, untuk bisa selalu bersama, kita perlu memiliki tujuan yang sama. Bila yang satu akan ke Yogyakarta, sedang yang satu akan ke Surabaya, maka tak akan bisa naik kereta yang sama bersama-sama. Atau, kalaupun bisa, tentu yang satu akan turun terlebih dahulu dan yang satu lagi masih melanjutkan perjalanannya, sendirian.

Saat akan membina rumah tangga, yang terpenting adalah tujuannya. Akan dibawa ke mana rumah tangga kita kelak? Bila sudah satu visi, maka suami-istri, keduanya, akan dapat melangkah bersama pada jalur yang sama, seiring sejalan, dengan tangga yang sama, dengan jalan yang sama dan sampai pada tujuan akhir bersama-sama. Segala bentuk gangguan dan godaan di sepanjang perjalanan rumah tangga insya Allah akan mampu dihadapi dengan tepat. Keduanya tak akan mudah tergoda dengan banyaknya tawaran yang menarik selama perjalanan. Mereka tak mudah juga berbelok ke berbagai tempat yang bukan tujuan mereka, meski tempat tersebut ramai dikunjungi orang dan tampak sangat menarik. Mereka telah punya tujuan sendiri sehingga pandangan dan langkahnya menjadi lebih fokus.

Visi, bagaikan pemandu arah kita kala menempuh perjalanan. Saat menemui persoalan/masalah dalam perjalanan, kita juga menengok lagi pada visi untuk menyelesaikannya. Saat mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan, kita juga jadikan visi sebagai hakim untuk memutuskannya. Dengan visi yang jelas, kita tak perlu bertengkar tentang hal-hal kecil dan remeh. Kita tak perlu marah untuk sesuatu yang tak esensial. Karena kita telah mengetahui visi dengan jelas. Visi akan meluruskan relasi kita dengan pasangan agar selalu berada di jalan menuju cita-cita bersama.

Lalu, bagaimana bila ada yang menawarkan untuk menempuh perjalanan bersama, mengaku dengan tujuan yang sama, tapi keretanya berbeda? Bagaimana bila ada yang bilang bahwa perkara moda transportasi itu masih bisa didiskusikan, namun kesannya, di akhir, kita diminta untuk naik moda transportasi yang ia telah biasa naiki? Sedang kita sendiri yakin bahwa kereta yang ditawarkannya tak akan membawa kita pada tujuan yang kita inginkan.

Bagi saya pribadi, untuk menempuh perjalanan bersama, maka kami harus naik moda transportasi yang sama, dengan tujuan yang sama, dan keyakinan yang sama bahwa transportasi tersebut bisa membawa ke tujuan yang benar-benar saya mau, dan juga ia mau. Tujuan yang sama, yang akan menjadi cita-cita kami bersama. Yang saya inginkan, saya bisa menempuh sepanjang perjalanan bersamanya, bergandengan, seiring sejalan, hingga akhir, sampai tujuan. Menuju surga-Nya.

Itu kalau dalam sudut pandang membina rumah tangga. Namun, tentu visi tak hanya diperlukan dalam satu hal tersebut, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan kita yang lain. Visi akan senantiasa menuntun arah gerak hidup kita menjadi lebih jelas dan terarah. Semoga, dengan visi yang telah terpatri jelas, semua langkah yang kita jejakkan dapat lebih fokus dan terhindar dari serba-serbi lain yang datang dan menggoda, yang bisa saja menjadi sia-sia. Semoga saja, kita bisa sampai di sana.

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s