Akal & Keyakinan

Bismillahirrahmaanirrahiiim..

Sejauh mana akal dibenarkan untuk bekerja?

Pertanyaan di atas terngiang-ngiang di kepala dan cukup mengganggu tidur saya beberapa hari. Berputaran tak jelas arah. Mungkin karena dalam kurun waktu hampir tiga tahun ini saya sudah terbiasa hidup bagai robot, dan hampir sebagian besar aktifitas saya adalah rutinitas. Bahkan autopilot. Hampir terlalu lama saya meninggalkan bacaan-bacaan filosofis, apalagi berpikir ala dunia filsafat. Rasanya, seolah tak cukup waktu saya. Hampir terlalu lama pula saya tak memberi waktu luang bagi diri untuk berdiam diri dan berkontemplasi. Jangankan untuk berpikir dan bertanya-tanya tentang sesuatu seperti kala kuliah dulu, untuk bersyukur pun kadang terlupa. *Astaghfirullahal’adziim* Itulah (mungkin) sebabnya pertanyaan di atas dapat menimbulkan efek yang lumayan: mengganggu tidur saya!

Pertanyaan di atas tetiba muncul (kembali) di kepala saya. Precipitating event-nya adalah saat ada seseorang yang keyakinannya cukup berbeda dengan saya. Ia datang dengan sebuah alasan yang cukup serius, dan selanjutnya ia membuka diri untuk berdiskusi dengan saya. Ia bilang, segalanya masih bisa didiskusikan, termasuk tentang keyakinan kami. Lagi, ia katakan bahwa saya tak perlu khawatir, dan bahwa saya masih tetap bisa berpegang kuat pada apa yang saya yakini, namun, saya perlu terbuka untuk menerima apapun yang ia sampaikan, untuk selanjutnya dapat saya pikirkan dan pertimbangkan kembali. Katanya, apa yang kami yakini tak jauh berbeda, oleh karenanya, sebenarnya, kami masih tetap sama. Selanjutnya, ia menyarankan saya untuk membuka semua ilmu, karena sebenarnya kita tak pernah tau pasti kebenaran ada di mana. Yang bisa kita lakukan hanyalah mendekatinya saja.

Saya sediiiiih sekali sebab kejadian dengannya ini. Bagi saya, jarak yang saya ciptakan selama ini rasanya cukup. Saya kira, ia sudah cukup mengerti dengan ‘perbedaan’ di antara kami. Saya kira, ia juga sudah cukup mengerti bahwa ada batas-batas yang tak dapat kita tembus, bagaimanapun jauh kita mencoba. Memang, saya cukup terbuka untuk berdiskusi tentang apa saja, namun sungguh tidak untuk yang satu ini. Paling tidak, selama ini, saya sudah yakin bahwa apa yang saya yakini ini jauh lebih benar dibanding apa yang telah ia yakini. Bagi saya, berlebih-lebihan dalam mengagungkan Sayyidina Ali dan Husein, putranya, lebih dari sahabat Rasulullah yang lain, apalagi melebihi terhadap Rasulullah itu sendiri adalah sudah cukup tak masuk akal. Mema’sumkan Sayyidina Ali juga tak bisa diterima oleh akal saya. Bagi saya, berkabung karena mengenang tragedi Karbala adalah juga cukup tak masuk di akal pula. Seolah penuh kebencian dan mengajarkan dendam. Padahal sungguh, bagi saya, agama ini benar-benar agama yang damai. Bagi saya, menghalalkan taqiyyah, yaitu menyembunyikan keyakinan/aqidahnya di hadapan orang yang fanatik sehingga bisa membahayakan keselamatan diri, harta, & kehormatannya, di samping tidak ada hasil memadai yang dapat diraihnya, adalah juga tak bisa diterima. Pun beberapa ajaran (yang ia yakini) yang lain yang saya rasa dan saya nilai juga cukup mengganjal di hati.

Namun, untuk menerima tawarannya untuk mendiskusikan tentang apa yang masing-masing kami yakini, saya (masih) tak sanggup. Entahlah. Saya rasa, ilmu saya memang masih jauh dari cukup. Memang, saya belum menggali dan membandingkan dengan rinci tentang apa yang kami yakini. Namun, untuk menerima tawarannya, atau sekedar membuka diri mendengarkan kisahnya terdahulu bagaimana ia akhirnya memutuskan untuk menempuh jalan ini, saya masih tak berani. Memang, ia menyampaikan bahwa tuntutan untuk taken for granted adalah titik kekecewaannya pada waktu itu. Bahwa ia dipaksa untuk percaya saja, diminta untuk tak melanjutkan berpikir. Saya paham sekali bagaimana rasanya bila diminta untuk ‘terima saja – telan saja – percaya saja’. Saya mengerti bagaimana rasanya saat rasa keingintahuan membuncah di dalam dada, dan seolah akal kita justru diminta untuk dibunuh dan dimatikan saja. Pasti tersiksa. Namun, hingga saat ini saya masih tetap percaya bahwa apa yang saya yakini ini sebenarnya bukanlah harus diterima hanya dengan taken for granted. Apa yang saya yakini ini juga masuk di akal. Namun untuk berdiskusi dengannya, saya takuuut sekali kalah argumen. Saya takuuut sekali akal saya belum sampai. Saya takuuut sekali jalan saya buntu. Saya takuuut sekali jalan saya nantinya bisa berbelok. Berkali-kali saya berdoa, memohon petunjuk dan perlindungan diri. Memohon kepada Allah, Sang Pembolak-Balik Hati, agar hati saya tetap dijaga dalam agama-Nya. Agar jalan yang saya tempuh senantiasa diluruskan oleh-Nya. Namun, jauh dalam lubuk hati saya, rasa penasaran saya tak bisa saya bendung. Keinginan untuk mengetahui segalanya terus membuncah di dalam dada. Hanya saja sekali lagi, saya benar-benar takuuuut sekali jalan saya akan berbelok. 😥

Nah kan, saya kelepasan curcol lagi? *Maap* 😀

Jadi begini, maksud saya, sejauh mana kita boleh menggunakan akal kita? Terlebih bila fungsinya untuk berdiskusi dan membandingkan dua arah yang berbeda seperti ini? Seringkali, kita menilai sesuatu dari sudut pandang kita sendiri. Maksudnya, kita menilai ajaran B, namun dengan sumber dan sudut pandang masih dari sisi A, bukan dari sisi B sendiri. Pun sebaliknya. Sehingga tetap saja, seolah jalannya tak pernah bertemu. Pun bila misal kita menilai ajaran B, dengan sumber dari sisi B itu sendiri. Dalam lubuk hati, tetap saja ada keyakinan bahwa ya ajaran B itu sumbernya salah, sudah berbelok. Tak bertemu juga ujungnya.

Sisi lain lagi, kalau belajar sendiri, dengan sumber yang dicari-cari sendiri, saya jadi makin takut sekali hilang arah. Tetapi toh saya juga tak percaya bila harus belajar dari pihak yang mengalaminya langsung. Kalau dari pihak yang keyakinannya sama dengan saya sendiri? Saya juga takut akhirnya bias lagi. Tak netral juga.

Masya Allah, bahkan sempat terlintas dalam benak saya, mengapa saya justru dihadapkan dengan yang demikian di saat saya semakin benar-benar ingin istiqomah memperbaiki diri? Sungguh, yang demikian ini benar-benar terasa sebagai ujian keimanan yang cukup berat bagi saya. Berulang kali batin saya berdoa. Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinik. Yaa Allah, ihdinash shiraathal mustaqiiim. Astaghfirullahal’adziim, saya sungguh takut sekali hilang arah. 😥

Note: tulisan ini dibuat murni karena pemikiran pribadi dan bukan dengan maksud SARA atau bahkan untuk menyinggung siapapun.

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

3 comments

  1. Kuatkan dirimu Mbak!
    Berdiskusi lah dengannya, kalau memungkinkan ajak dia kembali ke jalan lurus.
    Karbala-taqqiah-berlebih-lebihan seperti yang dimaksud di atas, semua jelas tidak ada dalam agama kita. Kalau kita bisa memahami dan meyakini dengan baik agama kita, insyaAllah tidak masalah berdiskusi dengannya. Agama kita jelas. Tak perlu kau pelajari agamanya demi membandingkan. Tapi biarlah dia mengatakan apa yang ia yakini, lalu luruskan sesuai dengan petunjuk yang ada. 😉
    #halah sok tuir 😀

    Like

    1. Thx Suji. Akhirnya untuk sementara, aku memutuskan untuk belajar sendiri dulu, sambil sesekali sharing dg teman yg dipercaya. Belajar dari sumber yang pro & kontra, sembari terus berdoa semoga iman tetap dijaga & jalan diluruskan Allah SWT.

      Btw pernah punya pengalaman yg sama ga?

      Like

      1. Iya, teman yang ‘setia’ dan kiranya bisa menjaga kita itu sangat perlu Mbak dalam posisimu kayak gitu. Jangan sampai sendirian.

        Nggak sih, tapi mendapat curhatan dari yang ‘berpengalaman’ seperti itu.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s