Kisah Sebuah Ruang

Ruangan itu. Gelap. Berdebu. Kosong. Sepi. Tak tampak sesuatupun di dalamnya. Hanya lantai yang sudah tebal diliputi debu. Ruang itu tak punya jendela. Hanya satu pintu di salah satu sisinya. Seolah memang itulah satu satunya jalan untuk memasuki ruangan itu. Hawanya pengap. Sepertinya memang sudah lama sekali ia tak terbuka. Tak ada sedikit cahaya yang masuk ke sana. Apalagi udara segar. Ruangan itu seperti terabaikan. Tak seperti ruang ruang lain dalam rumah itu. Begitu indah. Ruang itu seperti tak tersentuh, tak taulah, apa memang ia terlupakan, tak begitu penting hingga tersisih, atau memang ada sesuatu yang lain hingga ia tak pernah dibuka. Kadang begitu kasihan melihat ruangan itu.

Dulu, dulu sekali, ruang itu pernah kedatangan seorang tamu. Awalnya ia seperti tak yakin. Begitu lama ia tak pernah menerima tamu. Hingga tamu itu menggedor gedor pintunya. Begitu lama menunggu di luar. Ruang itupun tak juga mau membukakan pintunya. Tak tau. Sepertinya begitu berat ia membuka pintu. Hingga ruang sebelahnya berkata, mengingatkannya, “tak taukah kau, di depan pintumu ada seorang yang menunggu lama sekali, menggedor gedor pintumu, tak juakah kau bukakan pintumu barang sedikit dan izinkan ia masuk?”. Mungkin ruang itu merasa heran, atau ragu. Mana ada yang menyadari keberadaannya di sudut rumah itu. Ia sudah seperti terlupakan. Tak pernah didatangi, apalagai dikunjungi. Keadaan di dalamnya pun kini sudah begitu suram, parah. Sekian lama ruang itu berpikir, dan akhirnya ia memberanikan diri membuka pintunya sedikit demi sedikit. Ia begitu bahagia. Ada cahaya cerah ternyata di luar sana. Sudah lama sekali ia tak melihat cahaya. Dan akhirnya cahaya itu memasuki ruangnya perlahan, sedikit demi sedikit. Sedikit lebih teranglah ruangan itu. Ia juga menghirup udara segar yang memasuki celah pintunya sedikit demi sedikit dari luaran sana, menjadi lebih segarlah ruang itu dari sebelumnya. Tamu itu masih seperti memaksa ingin masuk. Meski ia tetap saja berdiri di luar, seperti meminta ruang itu membukakan pintunya lebih lebar sambil terkadang mengintip keadaan dalam ruangan. Ruangan itu seperti menunggu, menunggu ruangnya itu terbuka dengan begitu lebarnya, mengizinkan udara segar dan cahaya terang masuk dari luaran sana. Tapi sepertinya pintunya masih saja sedikit terbuka.

Berjarak beberapa lama, ruangan itu seperti mendengar derap kaki yang mendekatinya. Semakin lama semakin dekat. ia mengintip dari celah kecil pintunya, ternyata memang sepertinya ada tamu lagi yang akan datang. Tamu itu berbeda dengan tamu sebelumnya. Ia datang dengan diam. Tak berkata-kata. Ia semakin dekat pintu. Namun ia tak kunjung masuk. Ia juga tak pernah meminta dibukakan pintu. Sesampai di depan pintu, ia hanya bercerita. Menceritakan beberapa kisah hidupnya. Kisah sedihnya yang ia bilang tak bisa diceritakan lagi kepada yang lain selain dengan ruangan itu. Dalam hati, ruangan itu menjawab setiap cerita yang disampaikannya, “ah.. aku tau yang kau rasakan, kawan. Aku juga merasakannya. Sama.” Tamu kedua itu seperti terus bercerita, ia menjadi seperti berkawan dengan ruangan pengap dan gelap itu. Hampir setiap hari ia datang untuk berbagi cerita. Ia seperti lain. Seperti lebih menghargai ruangan itu. Ruangan yang merasa tersisih itu. Tak tau mengapa, tiba tiba ruangan itu mau membuka pintunya pelan pelan, sedikit lebih lebar dari sebelumnya. Padahal membuka pintu yang lama tak terbuka itu jauh lebih menyakitkan, perlahan, dengan bunyi berderit karena pelicin engsel sudah tak lagi tersisa. Sungguh sakit. Padahal ia juga tau bahwa tamu itu tak pernah memintanya membuka pintu. Tamu itu tak pernah mengatakan bahwa ia ingin masuk ke dalamnya. Tamu itu hanya datang bercerita, hanya ingin berbagi keluh kesah.

Dan aku juga tau, ruangan itu sudah terbiasa dijadikan lawan bicara kosong oleh beberapa orang. Ya. Beberapa orang yang melewatinya seperti berhenti sebentar untuk bercerita, atau malah seringkai datang bila mereka sedang bingung atau jengah tentang hidupnya. Mungkin karena mereka tau, ruang itu seperti tak pernah dianggap, tidak seperti bagian lain dari rumah itu, sehingga bila mereka datang untuk mengeluh, tak akan ada yang peduli bahwa mereka datang ke sana. Atau, memang karena mereka nyaman karena ruangan itu tak berjendela, hanya berpintu, dan bahkan, pintunya pun tertutup. Dengann kondisi demikian, sepertinya mereka dapat merasa jauh lebih nyaman berbicara dengan dinding dinding ruangan itu. Dinding dinding yang dingin karena tak pernah terkena terpaan cahaya hangat di dalamnya. Ruangan itu bahkan seperti sudah tak menghiraukan tamu yang pertama. Entahlah. Yang ia tau, tiba tiba ia sudah tak ada di depan pintunya. Tak tau apakah memang ia sudah pergi karena menyerah sebab tak jua diizinkan masuk, atau ia hanya bersembunyi di balik dinding di sisi lain ruangan itu. Yang aku tau, ia tak lagi berdiri di sana.

Tamu kedua itu, ia masih datang dan bercerita setiap harinya. Hingga suatu hari, ruangan itu berbicara, ia sepertinya sudah tak tahan, dan akhirnya mengeluh sedikit dengannya. Ada dialog di sana. Bukan saja tamu itu yang mengeluh, namun kini ruangan itu juga mengeluh, dan meminta sedikit bantuan padanya. Mungkin karena ruangan itu sudah menganggap bahwa ia kawan baik, tamu yang memang berdirinya paling dekat dengan dinding dan pintunya saat ini. Karena kebetulan saat itu hanya ia yang ada, dan ruangan itu tak tau lagi harus bicara pada siapa, selarut itu. Hanya saja, kulihat tamu itu menjadi tak seperti biasanya. Dia jauh lebih diam. Dan tiba tiba ia pergi. Ia tak lagi pernah kembali. Meninggalkan ruangan menyedihkan itu. Ruangan itu pun diam, dengan pintu yang sudah separuh terbuka, melihat tamunya itu pergi menjauh dari sudutnya. Beberapa kali ruangan itu mengetahui bahwa tamu itu melewatinya beberapa kali, menyadari keberadaannya, namun ia tak pernah menyapanya kembali. Mungkin menganggapnya seperti ruangan invisible. Pintu itu bahkan masih terbuka beberapa hari. Berjaga jaga mungkin ia mau datang lagi dan melihat lihat ke dalamnya. Namun ia tetap melenggang, sambil lalu.

Ruangan itu jengah. Ia cuma bisa diam. Pintunya tiba tiba berdebum tertutup. Ruangan itu merasa jauh lebih dingin dari biasanya. Dinding dindingnya semakin menebal. Pintunya semakin mengecil. Tak taulah nanti bila ada tamu lagi yang datang. Masih bisa masuk atau tidak. Ruangan itu pun tak tau, apakah bisa dindingnya yang semakin menebal itu runtuh, atau pintunya yang semakin mengecil itu dibuka, atau bahkan bisa dilewati tamu untuk masuk ke dalamnya, membiarkan cahaya dan udara segar masuk, lalu membuatnya menjadi lebih indah, dan merasa sama berartinya dengan ruangan lain di sudut sudut lain rumah itu. Tak tau. Yang aku tau. Ruangan itu tampak semakin menyedihkan. Dindingnya menebal, pintunya tertutup dan mengecil. Ah.. ruangan itu.. kembali gelap, pengap, berdebu, dingin, dan sepi. Gelap sekali.

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s