Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau (?)

“Aku nggak seberuntung dirimu, Galuh..”

“Galuh, aku tuker jadi kamu sehari aja ya..”

Itulah yang dikatakan seorang kawan pada saya suatu waktu saat kami sedang ngobrol santai bersama. Ucapannya itu mengingatkan saya pada kata-kata pepatah, “Rumput tetangga selalu terasa lebih hijau”. Sebuah peribahasa yang berarti. Saya yakin, semua manusia pernah merasakannya. Merasa tidak seberuntung yang lain. Begitupun dengan saya.

Hingga saat ini, saya punya beberapa teman dekat, dan saya selalu melihat berbagai kelebihan yang ada pada masing-masing diri mereka. Kreatif, supel, pintar, disukai siapa aja, easy going, berani, percaya diri, punya semangat tinggi, dan masih banyak lagi kelebihan yang mereka punya. Bagi saya, mereka punya kelebihannya sendiri-sendiri. Punya kelebihan yang tak selalu saya punya, dan saya juga sangat ingin bisa seperti mereka. Rasanya, seolah mereka mempunyai kehidupan yang jauh lebih ideal daripada hidup saya sendiri.

Namun, saat teman-teman mengeluh, saya menjadi tersadar, bahwa mereka juga sama seperti saya. Merasa bahwa seolah hidup orang lain adalah jauh lebih baik daripada hidup mereka sendiri. “Kamu enak ya galuh… kamu beruntung. kamu itu….. kamu punya…. gak kaya’ saya. saya lho cuma……”

Ah, kawan, kita sama saja. Selalu merasa bahwa ada yang kurang dalam hidup kita. Saya merasa tak seberuntung hidup mereka, dan mereka merasa tak seberuntung hidup orang lain pula.

Saat itu, ada satu kalimat yang terlewat di pikiran saya: “Rumput Tetangga Mungkin Lebih Hijau, Tapi Buah Kebun Kita Lebih Manis”. Salah satu sifat buruk manusia adalah sifat tidak pernah puas yang membuatnya menjadi kurang bersyukur. Seringkali kita membandingkan diri kita dengan orang lain, dan mungkin kita melihat banyak kelebihan orang lain yang lebih baik daripada kita, dan kita menjadi menginginkannya. Kita melihat rumput tetangga lebih hijau daripada rumput kita. Tapi, kita kadang tidak menyadari banyak kelebihan-kelebihan kita yang patut kita syukuri dan gunakan untuk membantu orang lain. Kita hanya melihat rumput, kita tidak melihat buah kebun kita lebih manis daripada buah kebun tetangga kita. Kita hanya melihat yang tidak kita miliki, dan kita menjadi kurang bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Apa yang telah kita miliki mungkin kita anggap biasa saja. Kita tidak menyadari betapa berharganya hal itu sampai itu diambil dari kita.

Dari hal sederhana ini, saya belajar untuk mensyukuri apa yang saya miliki. Keluarga yang saya miliki, kesehatan yang saya miliki, bakat/talenta yang saya miliki, teman-teman yang saya miliki, dan masih banyak lagi. Kita akan sulit sekali bersyukur jika kita selalu memfokuskan diri kita kepada hal yang tidak kita miliki. Karena itu, jangan lupakan kelebihan yang kita miliki, meskipun mungkin sangat sederhana, untuk kita syukuri. Mungkin bagi orang lain, kelebihan yang sangat sederhana itu sangatlah besar artinya. Rumput tetangga boleh lebih hijau, tapi jangan lupa buah kebun kita lebih manis. Setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lihatlah semuanya secara seimbang, dan marilah kita syukuri apa yang kita miliki. Kalau orang Jawa bilang, “sawang-sinawang“. Maksudnya, kita perlu sesekali melihat kanan-kiri, atas-bawah. Melihat sekeliling agar dapat lebih bersyukur terhadap kondisi diri. Sesekali bolehlah melihat ke ‘atas’ agar dapat lebih mengembangkan diri. Namun, jangan terlampau lama juga melihat ke atas, hingga lupa melihat ke bawah, nanti bisa ‘tersandung’!

Kawan, mari lebih melapangkan hati, bahwa Allah Maha Adil. Ia memberi kita kelemahan, yang terkadang membuat kita bisa saja sekilas melirik hidup orang lain. Padahal, Ia juga memberi kita segudang kelebihan, yang membuat kita tak sadar bahwa sebenarnya kita pun sedang dilirik oleh orang lain juga. Bagi kita, rumput tetangga seolah lebih hijau. Padahal, bagi tetangga, rumput kita juga lebih hijau dari yang mereka punya. Lucu juga ya..

Jadi bagaimana kalau mulai sekarang kita belajar lebih bersyukur dengan yang ada? Bersyukur dengan yang sudah melekat pada diri dan hidup kita? Lalu selanjutnya mengusahakan yang terbaik saja untuk ke depannya, semampu kita, diiringi harapan yang kita punya. Bagaimana?

Anyway, saya pun juga masih dalam proses belajar dan berusaha. Yang saya tau, Allah tak pernah tidur. Allah menyayangi hamba-Nya. Dan Ia Maha Bijaksana dan Maha Tau yang terbaik untuk kita.

Semangat! 🙂

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s