Living Here & Now

“aduh.. aku jadi nggak enak nih mikirin minggu depan. belum apa-apa aja udah kangen.”

Begitulah curhat seorang kawan. Ia baru saja menerima amanah untuk berangkat dinas luar kota selama beberapa hari. Terbayang baginya bagaimana ia harus meninggalkan putri bungsunya yang masih berusia 7 bulan & minum ASI. Tersenyum saya menanggapinya. Belum pernah sekalipun ia meninggalkan putri bungsunya ini tugas luar kota sehingga ini akan menjadi pengalaman pertama kalinya. Jadilah saya maklum atas curcol-nya tersebut. “Sudah mbak, itu kan masih lama. Jangan dipikir susah-susah, dibayangin beratnya sekarang. Nanti mbak yang rugi sendiri. Yang bisa dihadapi sekarang, kita hadapi sambil disyukuri.”, timpal saya.

“Ah, ngomong gitu kan emang gampang Luh.” tandasnya

“Iya mbak, emang di mana-mana ngomong lebih gampang. Itulah makanya kita perlu latihan buat ngontrol diri & pikiran kita. Biar kita nggak rugi sendiri. Ini aku juga lagi belajar kok. hehe..” jawab saya lagi.

“Tapi emang kita itu aneh ya mbak. Banyak dari kita yg terlalu sibuk mencemaskan yang akan datang, sedang yang sekarang lupa nggak dinikmati. Waktu kecil, kita pingin banget cepet gede. Waktu gede, kita pingin balik kecil. Waktu sekarang, sudah bingung mikirin yg besok, pas udah besok, mikirin pingin balik yang sekarang. Jadinya malah ga hidup di dua-duanya.”, sambung saya lagi.

“Iya juga sih ya. Toh besok-besok juga mesti dihadapi. Sama aja.” tambahnya.

“Nah!”

Dan tersenyumlah ia..

 ——————————————-

Ya, begitulah seringkali kita. Lupa untuk hidup here & now. Kata orang, living in the present. Pikiran kita seringkali disibukkan berloncatan tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan datang. Saat makan misalnya, tubuh kita sedang makan, namun pikiran kita sibuk melayang memikirkan hal lain, terburu-buru mikirin deadline atau rencana yang akan datang contohnya. Jadilah makanan itu tak terasa nikmatnya, jangankan cita rasa atau tekstur, yang penting asal kenyang. Cukup.

Seringkali, kita terlalu sibuk mencemaskan masa depan, hingga lupa hidup di hari ini. Padahal jika dihitung-hitung, berapa banyak sih yang kita cemaskan itu akhirnya terbukti terjadi? Sedikit sekali kan?

Lantas, alih-alih sibuk memikirkan ketakutan-ketakutan akan masa depan yang belum tentu terjadi, mengapa kita tak mencoba untuk ‘hadir’ pada saat ini, detik ini. Mencoba menyadari dengan penuh semua yang kita hadapi & alami saat ini. Saat berangkat kerja misalkan. Daripada kita terpaku pada jam masuk kantor & berkejaran dengan lalu lintas kota yang luar biasa, mengapa kita tak memutuskan untuk berangkat lebih pagi & menyediakan spare time, dan menikmati waktu berkendara pagi sambil merasakan segarnya semilir angin, sejuknya rerumputan yang masih dihiasi embun, merasakan hangatnya sinar mentari yang masih perlahan menembus dedaunan, menghirup dalam-dalam udara pagi, sehingga kita bisa lebih menikmati & bersyukur karenanya.

Yang jelas, pilihan ada di kita sendiri. Mau terus susah, bingung, cemas, takut, sampai-sampai lupa karunia yang dihadapi hari ini, atau lebih memilih untuk ‘hadir’ di saat ini dan enjoy dengan yang ada dengan/bersama/di hadapan kita saat ini. Memang perlu latihan, tapi insya Allah bisa. Daripada kita rugi sendiri siiih.. Hehe..

Berkaitan dengan hal ini, saya jadi ingin berbagi pepatah yang cukup menohok dan menyentil’ diri saya secara pribadi:

Yang paling mengejutkan dari manusia adalah:
Mereka bosan dengan masa kanak-kanak, dan mereka terburu-buru untuk tumbuh besar, lalu akhirnya ingin kembali lagi ke masa kanak-kanaknya.
Bahwa mereka kehilangan kesehatannya untuk mengumpulkan uang, lalu mereka kehilangan uangnya untuk memulihkan kesehatannya.
Bahwa mereka berpikir dan mencemaskan tentang masa depan, mereka melupakan saat ini, sehingga akhirnya mereka tidak hidup di keduanya – tidak saat ini dan tidak pula di masa depan.
Bahwa mereka hidup seolah mereka tak akan mati, dan mereka mati seolah mereka tak pernah hidup sebelumnya.

Ya, mari kita nikmati saat ini. Rasakan benar-benar tiap detilnya. Karena bisa jadi, saat inilah yang suatu saat akan kita rindukan. Jangan sampai menyesal karena kita telah melewatkannya dengan begitu saja. 🙂

 

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s