Energi Kebaikan

Kemarin, saya mendapat pengalaman singkat, namun terasa membekas di hati. Niat hati mau langsung membaginya dalam tulisan di blog ini, namun apa daya, tubuh ini sudah minta haknya untuk istirahat di malam hari. Jadi tertundalah hingga malam ini.

Jadi begini:

Kemarin sepulang kerja, saya mampir di sebuah mall untuk membeli barang keperluan karena yg saya punya sudah usang dan tampak semakin rusak. Seperti biasa, sebelum menentukan memilih sesuatu untuk dibeli, saya perlu untuk keliling-keliling dulu untuk mendapatkan gambaran ketersediaan barang yg saya cari berikut dengan harganya. Membandingkan satu dg yg lain, memastikan bahwa setelah beli, saya tak akan menyesal karena di perjalanan pulang setelahnya, saya menemukan barang lain yg lebih bagus, atau barang lain yg lebih murah dari yg telah saya beli. Hehe. Saat berputar-putar, keliling di satu tempat dalam waktu yg cukup lama, karena saya sedang bimbang memilih saat itu, ada mbak-mbak tak dikenal yang tiba-tiba menyapa, lalu menawarkan kupon diskon kepada saya. Tentu saya terkejut dan bingung pada awalnya. Tak paham dengan yg dimaksud mbak tadi yg tiba-tiba menyapa dan bilang, “Mbak, mau saya kasih kupon 50 ribu? Soalnya ini cuma bisa dipake hari ini, saya udah ga belanja lagi. Eman (sayang) kalo nggak kepake. Mau mbak? Ini bisa kok dipake.”  Saya ketenggengen (tertegun). Bingung mencerna kata-katanya yg sempat mengejutkan. Tak lama, saya paham maksudnya, namun saya masih tak yakin benar bahwa kupon yg diberikannya bisa saya gunakan. Batin saya, nothing to lose saja. Toh saya tak rugi apapun. Kalau bisa digunakan ya syukur, kalau tidak ya tak mengapa. Jadi ceritanya, di ‘toko’ tersebut sedang mengadakan trik marketing dg cara membagi kupon senilai 50 ribu rupiah bagi customer yang berbelanja dg jumlah minimal 150 ribu rupiah, dengan syarat kupon tersebut hanya bisa digunakan di hari yg sama. Ah, trik penjualan. Ya jelas tak akan banyak yg bisa menggunakan kupon tsb. Lah dapatnya saja kl belanja minimal sudah 150 ribu. Bisa dpt diskon lagi kalo belanja lagi. Untuk barang tertentu pula. Duitnya?

Oke. Kembali lagi ke kisah perjalanan kupon saya tadi, akhirnya, saya terimalah penawarannya. Saya ambil kuponnya. Setelah saya mengucap terima kasih, pergilah mbak-mbak tanpa nama tadi. Sedetik dua detik, perasaan saya tak ada beda dengan sebelumnya. Namun, seiring saya memilih-milih barang, muncul perasaan bahagia dalam hati saya. Saya kagum dengan mbak-mbak tadi. Sempat-sempatnya dia terpikir untuk membagikan kuponnya agar tetap bermanfaat. Padahal, saya sendiri seringkali punya pengalaman serupa, dapat kupon tapi hanya bisa dibelanjakan di hari yg sama, kupon itu tak pernah saya gunakan. Namun, belum pernah terlintas pula dalam pikiran saya untuk memberikannya pada orang lain. Dan mbak itu melakukannya!

Kupon itu akhirnya saya gunakan untuk berbelanja. Saya berhasil dapat potongan 50 ribu rupiah berkat mbak-mbak tanpa nama tadi. Muncullah rasa terima kasih dalam hati saya padanya. Serasa kedatangan malaikat yg tak terduga! Maklum, harga barangnya kalo ga didiskon, bayarnya berasa. Jadi kalo dapat diskon 50 ribu rupiah, ya lumayan. Hehe.. Daaaan ternyata, dari pembelanjaan saya tadi, saya masih dapat 2 kupon potongan lagi senilai total 100 ribu rupiah. Muncullah pemikiran dlm hati saya, akan saya apakan kupon ini. Toh saya tak mungkin belanja lagi. Jadi pilihannya cuma dua: mengikuti jejak mbak-mbak malaikat tadi, atau langsung pulang & membiarkan kupon itu tak berguna dlm dompet/tempat sampah. Sempat terpikir akan memberikannya pada orang lain, namun muncul bisikan dalam hati saya, “bagaimana memberinya? iya kalau orang itu mau, kalau enggak? belum lagi ntar ada yg nyangka aneh. sok kenal sok deket bagi-bagi kupon segala. bla bla bla..” adaaaa aja alesan di hati saya. Saya berkeinginan memberikannya pada orang lain, tapi masih antara ya dan tidak. Belum 100% bulet niat berbagi. Ah, niat baik aja kok banyak pertimbangan! 😀

Setelah nyari orang yg kira-kira ‘aman’ & terlihat perlu untuk dibagi ga nemu-nemu, akhirnya saya memutuskan pulang saja. Eh, ternyata di dekat pintu keluar, ada dua orang mbak-mbak yg terlihat serius sedang memilih-milih barang yg bisa dibeli dg kupon diskon 50 ribu saya tadi. Saya hampirilah mereka. Saya tawarkan kupon saya dg cara yg sedikit-sedikit mirip dengan mbak malaikat tadi. Saya amati ekspresinya, ia tampak terkejut juga. Idem dengan ekspresi saya saat tiba-tiba dihampiri mbak malaikat yg tak dikenal & ditawarin kupon diskon. Dan akhirnya, diterimalah kupon saya itu. Legalah hati saya. Rasanya bahagiaaaaaa sekali. Memang, saat diberi kupon tadi, saya bahagia. Kalau diskala, mungkin ada di level 2. Lalu saat mengetahui bahwa ternyata kupon yg saya terima tadi bisa saya gunakan saat pembayaran, level kebahagiaan saya meningkat jadi 5. Berikutnya, saat saya bisa memberikan kupon yg sama ke orang lain, level kebahagiaan saya naik lagi jadi 7. Daaaan saat mbak-mbak itu mau menerima pemberian saya, dan ia mengucapkan terima kasih tulus sembari tersenyum, saya jadi maaaaakin bahagia. Naik lagi levelnya jadi 9 atau 10 mungkin! *ini ga lebay loh*

Dari pengalaman sederhana itu, saya belajar. Berbagi itu mudah. Bahagia itu mudah. Tak perlu rumit-rumit ternyata. Kita bisa bahagia dg memulai untuk berbagi & membahagiakan orang lain. Mungkin bagi beberapa orang, kejadian tersebut bisa dinilai biasa. Namun bagi saya, itu istimewa. Ternyata kita bisa berbuat kebaikan apapun, walau dg cara yg sederhana. Bayangkan saja, kalau misal mbak tadi ga ngasih saya kupon, mungkin perasaan saya standar-standar aja. Terus saya ga bisa dapet diskon. Beda dg kejadian ini. Berkat mbak-mbak malaikat yg ngasih saya kupon, akhirnya saya ngerasa seneng, akhirnya saya ingin menularkan kebahagiaan saya, ingin berbagi dg yg lain, & insya Allah mbak-mbak yg saya kasih itu jg bahagia dg pemberian saya (aamiin). Bayangkan selanjutnya, bisa jadi mbak tadi karena bahagia, juga ingin menularkan kebahagiaannya dg yg lain lagi. Berbagi lagi. Nah. Sudah terbayang skemanya bukan? Betapa berbagi kebahagiaan itu bagai bola salju yg menggelinding. Menular dan semakin besar. Mungkin efek kebaikan yg kita lakukan tak langsung berbalik kepada kita. Namun saya percaya dg kebaikan yg kita beri, ada org lain yg juga bahagia, & ingin menularkan kebaikannya. Energinya terus menular. Dan entah pada saatnya, bisa jadi kita akan mendapat kebaikan dari orang lain pula. Siklus yg tak akan kita pahami alur detilnya.

Oh ya, kejadian ini, juga masih berhubungan dg pesan atasan saya sore tadi. Seperti biasa, kalau saya lembur, pulang kantor lewat dari jam kerja, beliau menemani sembari ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Dari diskusi tentang kantor, SDM, berbagi ilmu, berbagi cerita, dan juga berbagi pengalaman serta pesan filosofis. Kali ini, beliau berpesan, kebaikan yg kita lakukan itu bagai hukum deposito. Kalau kita mau dapat banyak, ya musti nabung yg banyak. Tabungan tadi ga usah diambil, tapi pas kita butuh nanti, tiba-tiba kita udah punya banyak.

Saya pikir, masuk akal juga.

Sehubungan dengan menularnya energi kebaikan, saya pernah nemu video di youtube yg berkaitan. Videonya bagus banget! Kontennya menyentuh & mengharukan. Saya ga bosen nonton berulang-ulang. Pingin banget berbagi videonya dg banyak orang, terutama orang-orang yg dekat dg saya, supaya tertular energinya. Hanya saja, belum ‘keturutan’ banget. Paling-paling cuma bisa share lewat facebook. Kali ini, mumpung tema tulisan saya masih nyambung, saya share juga lewat sini. Semoga bermanfaat & menginspirasi.

Jadi gimana? Terinspirasi untuk berbagi & menjadi pencipta kebahagiaan orang lain & diri sendiri?

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s