Jadi ini salah setan?

Kinar sudah nggak tahan. Kinar pingin sekolah. Kinar berasa makin bodoh aja sekarang.

Sekolah terus. Kamu itu kapan punya pacarnya, Kinar? Biar ada yang anter-anter kamu kalo kamu sekolah lagi nanti.“, jawab ayah Kinar.

Dalam hati, Kinar mendengus kesal. Ayahnya tak bosan-bosan menuntutnya untuk segera punya pacar. Yang lebih membuatnya kesal, bagaimana mungkin ayahnya dengan ‘dangkal’-nya menuntutnya punya pacar supaya Kinar tak pergi sendiri ke kampus dan ada yang bersedia mengantar-jemputnya.

Kinar, seorang wanita usia dewasa awal, yang sedang berproses memperbaiki diri dalam penantiannya bertemu jodohnya. Selama hidupnya, Kinar tak pernah punya pacar.  Bukannya ia anti pacaran seperti yang diajarkan dalam agamanya, namun memang sejak awal, Kinar berprinsip bahwa ia tak akan dengan mudahnya menjadikan/menerima seseorang sebagai pacarnya. Ia akan dengan rela hati berpacaran dengan seseorang, apabila ia telah yakin benar bahwa seseorang itu layak menjadi suaminya kelak. Dengan kata lain, Kinar punya kriteria yang sama antara jadi calon pacar, dengan jadi calon suami. Tak ada beda. Laki-laki yang masih dengan prinsip main-main, apalagi tak punya tanggung jawab, akan langsung lewatlah ia. Oleh sebabnya, hingga usianya saat ini, tak satupun yang berhasil menaklukkan hatinya karena dianggapnya masih belum layak memenuhi kriteria sebagai seorang suami ideal. Tak ada kamus main-main atau coba-coba dalam kamus Kinar. Pacaranpun, serius dianggapnya.

Seiring bertambahnya usia Kinar, ia semakin dapat menerima pandangan bahwa tak ada kamus pacaran dalam Islam. Kinar percaya, bahwa wanita yang mulia adalah yang menjaga benar dirinya, hingga ia bertemu jodohnya kelak. Wanita yang benar-benar memposisikan suaminya sebagai orang pertama yang berhak atas dirinya. Sayangnya, kedua orangtua Kinar sepertinya belum dapat memiliki pandangan yang sama. Kedua orangtuanya percaya, tak mengapa pacaran, asal serius, guna saling mengenal satu sama lain sebelum keduanya berlanjut ke pelaminan.

———————————————————–

Suatu siang, Kinar tampak berbunga-bunga sekaligus bimbang. Ada seorang lelaki yang pernah dikenalkan padanya, mengajaknya makan malam. Dilema lahir batinlah ia. “Bagaimana mungkin aku hanya makan berdua dengannya? Kala ada dua orang lawan jenis bersama, maka jelas ketiganya adalah setan.” Berkirimlah ia pesan dengan sahabat baiknya. Menanyakan apakah sahabatnya bisa pulang cepat dari kantornya sore itu. Ia berencana mengajaknya untuk menemaninya bertemu lelaki itu. Sayang, sahabat baiknya masih perlu lanjut bekerja hingga malam. Sukseslah setan membisiki batin Kinar kala itu, “Mana mungkin kau biarkan ia, jauh-jauh dari luar kota, sendirian, padahal ia sudah memintamu menemaninya. Lagipula ia pria baik-baik, nggak neko-neko. Kesempatan untuk kalian saling mengenal. Siapa tau jodoh!” Segera dibalaslah pesan pria itu. Sepakatlah mereka untuk bertemu.

Sore harinya, Kinar tampak grogi. Buru-buru ia mandi, sholat, & mempersiapkan diri. Tiba-tiba bunyi notifikasi pesan di telepon genggamnya berbunyi. Sang pria mengiriminya pesan singkat, “Kita ketemu jam 7 ya. Nanti aku jemput kamu aja.

Deg. Kinar makin bingung. Ah, godaan setan memang gencar banget!

Oke. Gapapa mas, aku berangkat sendiri aja. Nanti kita langsung ketemu di sana ya. Nanti mas bingung nyari alamatnya kalo musti jemput Kinar dulu.“, seloroh Kinar beralasan. Legalah ia. Lepas satu godaan setan yang akan menjebaknya duduk berdua dengan seorang pria dalam sebuah taksi di malam hari.

Jarum jam menunjukkan pukul 18.30. Kinar buru-buru menyiapkan motornya, dan tak lupa pamit pada ayah-ibunya. Oh ya. Tentu Kinar tak lupa menjelaskan akan ke mana ia malam itu. Tak ada yang bisa ia sembunyikan dari kedua orangtuanya. Baginya, restu & izin orangtua itu mutlak perlu. Bila tidak, tak yakinlah ia akan selamat nantinya di perjalanan.

Dia naik apa, Kinar? Kamu nggak bawa helm dua? Masa berangkat dia sudah naik taksi, pulang kamu biarkan naik taksi lagi? Janganlah. Kasihan. Antar dia.“, ujar ibunya.

Ah. Setan tak bosan-bosannya berusaha. Kali ini lewat titah ibunya. Kinar bimbang. Agak ragu dalam hatinya, namun tetap akhirnya ia menuruti apa saran ibunya. Tak apalah. Toh jaraknya dekat. Hibur batinnya.

Begitulah. Malam itu, Kinar berhasil menuruti beberapa bujukan setan. Mereka akhirnya bertemu hanya berdua, berboncengan, melalui jalanan kota dalam malam bersama, meski tak saling bersentuhan dan tetap menjaga jarak. Ah!

Malam harinya, Kinar tak bisa tidur. Hatinya berbunga-bunga. Ia benar-benar bahagia. Lelaki itu tampak baik dan bersahaja. Baru kali itu ia yakin benar saat bertemu seorang lelaki, padahal cuma sekali dua kali. Tumbuhlah doa dalam batinnya. Semoga benar ia.

Hari berganti hari, pun akhirnya berganti bulan, keyakinan Kinar makin menipis. Lelaki tadi tak pernah lagi ada kabarnya. Hilang dimakan usia. Perlahan Kinar menyesal dalam hatinya. Mengapa ia menuruti pesan ibunya untuk membawa dua helm, dan berboncengan berdua? Mengapa ia menuruti bisikan untuk menerima ajakan makan malamnya, meski ia tahu bahwa mereka hanya akan berdua? Padahal Kinar benar-benar ingin menjaga & memperbaiki diri. Sayangnya, nasi telah menjadi bubur. Kinar terlanjur ikut mau setan. Malu iya, kesal iya, sedih iya. Yang membuat Kinar makin bingung adalah, bagaimana Kinar menjelaskan kepada kedua orangtuanya, bahwa Kinar benar-benar ingin memperbaiki dan menjaga diri? Bahwa ia benar-benar tak mau pacaran. Bahwa Kinar percaya, bahwa Allah telah menyiapkan jodohnya di waktu & tempat yang tepat, saat Kinar & jodohnya telah memperbaiki diri & sama-sama siap. Sedang kedua orangtuanya selalu tampak bahagia bila tau Kinar bertemu dengan seorang pria. Bagaimana? Yang orangtua Kinar tau, Kinar tak pernah punya pacar. Yang mereka tau, Kinar cuma mau sekolah tinggi-tinggi, seolah lupa kalau Kinar perlu suami.

Ah, Kinar.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s