Aku tentang Otentisitas

Hidup adalah permainan yang memaksa siapapun yang terlempar ke dalamnya untuk ikut bermain hingga babak yang mesti dilakoninya usai. Dalam hidup, masing-masing individu memiliki permainannya sendiri. Teori psikologi menjelaskan bahwa manusia atau bisa disebut sebagai ‘tokoh’ belajar dari sosok tokoh lain yang ia temui dalam hidupnya. Hasil belajar ini kemudian menjadi bekal bagi individu untuk menjalani ‘permainan’ kehidupannya. Di titik inilah tokoh-tokoh itu bukan hanya berpengaruh tetapi juga hidup dalam ‘diri’ individu. ‘Diri’ atau ‘self’ dengan demikian merupakan persilangan dari karakter sejumlah tokoh. Namun, pada titik lain, individu juga harus menghadapi kenyataan bahwa hidup adalah soal seberapa otentik ‘diri’ memainkan peran.

Sebelum berbicara mengenai otentisitas manusia lebih dalam, alangkah baiknya bila kita berbicara mengenai manusia itu sendiri. Ya, sebenarnya apakah manusia itu? Tentu akan sulit untuk menjawab pertanyaan ini secara lengkap dan rinci pada tulisan ini kecuali bila pertanyaan di atas dijadikan satu judul utama sebagai pembahasan pokok pada satu artikel tersendiri. Ini dikarenakan begitu rumit dan banyaknya penjelasan mengenai apa dan siapakah manusia itu.

Manusia adalah makhluk yang berelasi. Manusia menyempurnakan diri dengan menyempurnakan relasi dengan sesama, dengan dunia, dan dengan Tuhan. Meskipun manusia berelasi dengan yang lain, namun manusia tetap berdiri sendiri. Aristoteles menyebutnya dengan istilah ‘subtantia’ (berdiri pada kaki sendiri). Tiap substansi mempunyai individualitas dan keunikan yang khas sehingga manusia bukan hanya berupa makhluk yang berelasi, namun manusia juga merupakan makhluk yang berdiri sendiri. Berdiri sendiri tidak hanya berlaku bagi manusia, namun juga berlaku bagi makhluk lain seperti pohon ataupun hewan. Makhluk-makhluk lain pun berdiri sendiri dan memiliki suatu individualitas tersendiri. Lantas apa yang membedakan individualitas manusia dengan makhluk lainnya? Hanya manusialah yang berdiri sendiri dalam arti sepenuhnya. Manusia memiliki suatu pusat yang berbeda dengan yang lain. Sumber gerakan manusia berasal dari dalam, dari diri manusia. Jadi, ‘aku’lah yang memutuskan dan ‘aku’lah yang bertindak. Manusia memiliki kesadaran dan juga kemampuan refleksi. Berkat kesadaran dan kemampuan refleksi inilah manusia dapat memasuki diri dan mengambil jarak terhadap diri sendiri. Manusia sadar akan diri sendiri, manusia memiliki daya refleksi, dapat berdistansi terhadap diri, dan dapat kembali kepada diri sendiri. Manusia menentukan sikapnya terhadap diri sendiri dan mengoreksi diri sendiri. Manusia tahu, namun ia juga mengetahui bahwa ia tahu, sehingga manusia memiliki kemampuan refleki yang besar.

Dilihat dari perspektif filosofis dan psikologis, manusia juga unik. Keunikannya tampak dalam kemampuannya untuk memahami dan menelusuri eksistensinya sendiri; untuk mampu mengambil jarak, bertransenden, terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, sesuatu yang tidak terdapat dalam diri hewan. Kemampuan ini memungkinkan manusia berpandangan obyektif terhadap apa yang ada di luar dirinya. Di dalam dirinya, jiwa, roh dan badan menyatu; manusia adalah makhluk yang utuh dan mempunyai struktur mental dan fisik yang mandiri, yang berbeda dari makhluk-makhluk lainnya. Manusia juga otentik, memiliki keaslian, yang tidak dipunyai makhluk lain. Sekalipun struktur DNA manusia mirip dengan struktur DNA gorilla, namun manusia bukan gorilla; manusia memiliki otentisitas yang khas, yang tampak misalnya dalam akal budi yang dipunyai dan dalam keinginan sadarnya untuk meneliti dan mendalami, untuk makin mengetahui dan menjangkau realitas-realitas tanpa batas. Otentisitas dan keunikan manusia juga terlihat dalam kenyataan bahwa seorang manusia itu bukanlah salinan dari manusia lain; seorang manusia bukanlah fotokopi individu lain. Manusia adalah manusia pada keadaannya yang apa adanya, yang unik, otentik dan mandiri. Manusia memiliki kesadaran. Berkat kesadaran inilah manusia dapat memasuki dirinya sendiri dan berefleksi.

Kesadaran manusia akan keberadaan dirinya, kepastian diri untuk melihat diri sendiri seolah-olah berasal dari dunia luar, merupakan ciri khusus manusia (Rollo May, p.88). Pada dasarnya kesadaran manusia akan keberadaan dirinya merupakan sumber kualitas tertinggi. Kesadaran tersebut menekankan kemampuannya untuk membedakan antara ‘aku’ dan dunia, juga kemampuan untuk mengatur waktu, yang merupakan kemampuan untuk berdiri tegak di hari ini, serta membayangkan masa lalu dan berpikir tentang masa depan.

Ketika kita berbicara tentang otentisitas, tentunya kita juga akan menyinggung soal kesadaran. Mengapa? Karena segala sesuatu yang terjadi pada manusia, tentunya manusia itu sendirilah yang tahu, paham dan mengerti. Menurut Kierkegaard, salah seorang filsuf eksistensialis, manusia adalah pengada yang memiliki kesadaran, bukan saja terhadap apa yang ada di sekitarnya, melainkan juga kesadaran atas diri dan eksistensinya sendiri. Dengan kata lain, manusia memiliki kemampuan untuk melampaui segala bentuk hasrat-hasrat spontan, yang seringkali mendikte dirinya. Kesadaran dan refleksi akan memberi kesempatan kepada manusia untuk mengatur, dan memproyeksikan hidupnya ke masa depan. Kesadaran, dengan demikian, menjadi basis bagi kebebasan manusia untuk menentukan hidupnya dan menjadi dirinya sendiri. Otentisitas secara umum berhubungan dengan kemampuan diri untuk mengikuti kata hatinya. Otentisitas dapat membentuk suatu individu yang unik, serta membuat individu menjadi ‘aku’ secara nyata tanpa dipengaruhi oleh sekelilingnya. Apabila seseorang memiliki otentisitas, berarti seseorang tersebut mengerti mengenai dirinya, bagaimana lingkungannya, dan apa yang akan dilakukan. Sehingga, jika seseorang menjalankan otentisitas yang ada pada dirinya, ia dapat memaknai dirinya, kehidupannya, dan lingkungannya.

Manusia hidup tidak hanya sebagai diri yang berdiri sendiri namun juga hidup sebagai ‘aku’ di antara ‘aku’ yang lain. Dalam dunia sosial, orang dapat begitu saja terlarut di dalam publik, kerumunan, dan sistem sosial, sehingga lupa pada pencarian identitas dan otentisitas hidupnya. Resiko yang dapat muncul jika orang hidup di dalam sebuah sistem yang demikian adalah kehilangan jati diri. Jika sudah seperti itu, orang tidak lagi memiliki keberanian untuk menyatakan siapa dirinya, dan apa yang dipikirkannya. Bahkan, individu-individu yang sudah hidup terlarut di dalam ayunan sistem dapat dengan mudah mengidentifikasikan dirinya dengan sistem tersebut.

Mungkin, manusia memang lebih senang hidup terlarut dalam sistem, daripada menyatakan siapa dirinya. Di dalam sistem, individu tidak pernah kesepian, ia selalu berada bersama rekan yang lain, sehingga ia tak perlu berjuang sendiri melawan arus. Ia akan selamat hanya dengan mengikuti saja arus yang mengalir. Tentu saja, ia tidak akan peduli jika hidup yang dihayati hanya begitu-begitu saja, tanpa gairah untuk menghidupinya. Hidup begitu saja memang mudah. Akan tetapi, hidup dalam kesadaran yang otentik akan eksistensinya yang khas sebagai manusia itulah yang paling sulit.

Yang menjadi persoalan sekarang adalah mampukah manusia menjadi aku yang otentik dalam keberadaannya di antara ‘aku’-‘aku’ yang lain dalam suatu sistem sosial? Pada dasarnya mau menjadi otentik atau tidak adalah pilihan bebas seseorang, manusia bisa otentik atau tidak tergantung pada pilihannya sendiri. Antara memilih menjadi otentik atau melenyap dalam kerumunanlah hidup manusia ibarat permainan yang di dalamnya terdapat misteri dan paradoks atas hidup itu sendiri. Hidup adalah persoalan bagaiamana manusia menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas plihan tersebut. Di sinilah sebenarnya letak otentisitas manusia. Kita menjadi otentik ketika kita menjadi diri sendiri, celah otentik itu muncul ketika manusia sedang merenung (bergaul dengan dirinya sendiri). Tetapi manusia juga bisa menjadi tidak otentik ketika ia dipengaruhi oleh orang lain atau dengan kata lain ketika seseorang mengikuti arus lingkungan (social control).

Contoh sederhananya adalah saat saya bersama teman-teman membicarakan mata kuliah apa saja yang akan saya ambil di semester depan. Ketika teman-teman saya mempengaruhi saya yang masih merasa ragu ingin memilih mata kuliah apa saja, di sinilah saya mulai dipengaruhi oleh kerumunan atau social control. Lalu saat saya berpikir dan akhirnya memutuskan apa yang akan saya ambil, sebenarnya saat itulah saya sedang menjalankan otentisitas saya. Sehingga persoalan apakah manusia sebenarnya dapat menjadi otentik atau tidak akan menjadi sangat tergantung kepada individu masing-masing. Dapat dikatakan bahwa celah otentik hanya bersifat temporal. Beberapa saat menjadi otentik, namun beberapa saat kemudian menjadi tidak otentik lagi. Maka dapat disimpulkan bahwa otentik dan tidak otentik menjadi semacam siklus. Otentik terjadi saat kita membuat jarak dengan lingkungan (social control); konsentrasi berpikir, merenung, mensintesis semua stimulus atau pengaruh sehingga mencapai suatu kesimpulan atau menjatuhkan pilihan yang sesuai dengan hati nurani kita. Individu bisa mencapai kesadaran yang otentik apabila ia mampu merealisasi kemungkinan yang terbaik yang dipilihnya sendiri. Sebaliknya, individu tidak dapat disebut otentik atau tidak akan mencapai keberadaan yang otentik apabila ia menghilangkan otonomi diri atau kebebasannya dan menyerahkan pemilihan atau penentuan dalam realisasi kemungkinan-kemungkinan kepada orang lain.

Otentisitas ini tentu tak terlepas dengan adanya subyektifitas dari masing-masing diri individu. Subyektivitas, menurut seorang filsuf Perancis yang bernama Descartes, terletak di dalam kemampuan manusia berpikir secara logis, rasional, dan terpilah-pilah. Ia merumuskannya dalam sebuah kalimat padat, “Aku berpikir maka aku ada”. Akan tetapi, subyektivitas manusia pun terlalu kaya dan kompleks untuk termuat begitu saja di dalam rumusan itu. Subyetivitas manusia juga menempati dimensi yang berlawanan dengan optimisme Descartes itu, yakni dalam keberaniannya untuk bergulat dengan pilihan-pilihan hidup, pun ketika pilihan tersebut harus dibuat dalam keadaan kurangnya informasi, yang pada akhirnya menimbulkan penderitaan. Rumusan yang berlawan dengan optimisme kerasionalan manusia itu dipadatkan dalam kalimat berikut, “Aku memilih maka aku ada”. Tugas membuat pilihan ini ada pada setiap manusia, dan berlangsung dalam proses pergulatan batin untuk menentukan sebuah keputusan atau pilihan hidup. Otentisitas manusia hanya dapat diraih dalam keberaniannya untuk membuat keputusan dan pilihan-pilihan penting dalam hidupnya.

Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang, seberapa pentingkah otentisitas ini bagi manusia? Tentu saja otentisitas memiliki peran yang sangat penting dalam hidup manusia. Karena otentisitaslah kita, manusia, dapat dikenal sebagai individu-individu yang independen, serta berbeda dari individu yang lain. Otentisitas membantu manusia untuk bergerak ke arah aktualisasi diri, menuntun kita untuk terus merenungi serta mengejar makna hidup kita. Otentisitas mampu meletakkan ‘aku’, manusia, pada posisi subjek, dan bukan sebagai objek karena ‘aku’ berkehendak bebas, dan karena ‘aku’lah yang menentukan seperti apa ‘aku’ jadinya. Otentisitas membuat diri seorang ‘aku’ menjadi merasa lebih berarti, dan menjadi lebih menyadari bahwa ‘aku’ adalah hanya ‘aku’ yang berbeda yang berada di antara ‘aku’ yang lain sehingga seorang ‘aku’ mampu menghargai dirinya serta ‘peranan’ apapun yang sedang ia jalankan dalam ‘permainan’ hidupnya. Otentisitas pulalah yang membuat karakter dari masing-masing individu sebagai ‘aku’ yang berbeda, yang tak pernah mati meski jasad mereka tak lagi ada di dunia ini. Karakter mereka tetap hidup dan menjadi spirit bagi banyak orang, jauh melampaui jamannya. Otentisitas mampu membuat manusia menjadi sosok abadi terlepas dari jasadnya sekalipun.

 

“History knows of no man who ever like did the like”

(Sejarah tahu bahwa tak ada orang yang menjalani hidup untuk menyerupai orang lain.)

Kutipan kalimat di atas menunjukkan bahwa hanya mereka yang benar-benar berbeda dan sadar akan keberadaannya, yang mampu keluar dari kerumunan untuk menjadi tercatat dalam sejarah. Sisanya, yang terjebak dalam kerumunan, akan hilang seiring usainya ‘permainan’ hidup mereka…..

————————————————-

*Ditulis untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Psikologi Humanistik, Juli 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s