Antara Amanah dan Amarah

 

…bekerja memang bukan untuk mengharapkan ucapan terima kasih, tapi setidaknya luangkan sejenak waktu anda untuk berterima kasih sebagai bentuk apresiasi atas pekerjaan orang tersebut…..

Begitulah kira-kira tulis seorang kawan dalam halaman media sosialnya. Tampak ada yang mengganjal dalam hatinya. Ia kesal. Setelah semua jerih payah yang ia kerjakan, nyaris tak ada apresiasi yang ia terima. Serasa semua yang telah ia lakukan seolah tak berharga. Kecewalah ia…

Mungkin kita pun pernah merasa yang sama. Load pekerjaan yang menumpuk, dikejar-kejar deadline, diikuti dengan tuntutan ketepatan pekerjaan. Bekerja dengan cepat dan tepat. Begitulah yang seringkali kita hadapi. Tuntutan pekerjaan yang demikian, bila kita tak mengelola hati dengan baik, lama-kelamaan seringkali dapat membuat pikiran dan perasaan menjadi penat. Jenuh. Jengah. Ingin rasanya keluar dari lingkaran pekerjaan dan refresh sebentar. Namun sayangnya, keinginan kita untuk refresh tersebut belum tentu dapat terpenuhi seketika, karena tekanan deadline yang memang sudah ada di depan mata. Jadi, apa daya, dengan sepenuh tenaga yang dipunya, berusahalah kita dengan sebaik-baiknya menyelesaikan apa yang sudah diamanahkan, sembari berdoa dalam hati, semoga ini semua segera berakhir dan selesai dengan memuaskan.

Hari demi hari dilalui dengan mencurahkan upaya agar pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target. Hingga tibalah saatnya, pekerjaan selesai. Terbentang senyum di wajah kita. Hati terasa lega. Akhirnya pekerjaan selesai juga. Sayangnya, senyum yang telah mengembang tak dapat bertahan lebih lama. Terlintas rasa kecewa dalam hati. Seolah dalam diri ada yang berbisik, “Ternyata kebanyakan orang hanya bisa menuntut, namun setelah selesai, maka akan terlupa seluruh daya yang telah kita beri.” Menyeruaklah racun hati. Makin sakitlah hati ini. Pekerjaan yang kita usahakan dikerjakan dengan sebaik-baiknya sepenuh hati setiap hari, di ujung ternyata tak jua mendapat apresiasi. Bila ada kurang, apalagi salah malah mendapat maki, namun bila berjalan dengan lancar, tak ada terima kasih, apalagi puji. Sekali dua kali terasa seolah tak mengapa, namun kekecewaan yang menumpuk dalam hati dan tak dikelola oleh diri, seolah bagai bom waktu yang dapat meledak dan meluluhlantakkan pribadi. Wah, ngeri!

Aku kerja sebanyak itu, seolah seperti nggak ada harganya. Seperti nggak berarti. Belum lagi ngerasain kita sibuk bangetnya yang kaya gitu, sampe mau berdiri dari kursi aja mikir, eh, lihat ada temen yang dengan enaknya bisa jalan-jalan. Lhah, di belakang gini dapetnya sama. Mending aku jadi dia aja. Maksudku bukan lihat nilainya atau nilai uangnya, ya tapi penghargaan di baliknya itu lho. Seolah selama ini yang kukerjakan ya nggak seberapa artinya. Seperti nggak dihargai. Rasanya makin capek.

Ya, berharap dan membandingkan, bisa menjadi dua sisi yang ambigu. Terkadang menguntungkan, namun bisa juga merugikan. Berharap diberi apresiasi, berharap nilai DP3 lebih bagus dari kawan yang dirasa kurang bekerjanya, berharap tunjangan yang didapat lebih tinggi dari kawan yang dirasa lebih santai dari diri sendiri, berharap ada yang bilang terima kasih, berharap disanjung, berharap.. berharap.. berharap.. ditambah lagi membandingkan dengan kawan yang lain. Meski mungkin terkadang memang dirasa realistis, namun akan terasa lebih besar efek negatifnya bila kita terus-menerus memupuk harapan terhadap orang lain dan membandingkan diri dengan orang lain. Tak terasa menjadi pamrihlah kita. Semua yang kita kerjakan tak lagi diiringi rasa ikhlas, namun pamrih. Ingin timbal balik. Makin memperparah penyakit hati.

Kawan, normal bagi kita sebagai manusia mengalami mood yang naik-turun, keimanan yang fluktuatif. Namun akan lebih baik bila kita senantiasa berusaha meluruskan hati kembali. Akan terus ada peluang rasa kecewa bila kita berharap kepada sesama manusia. Akan selalu ada ruang untuk duka bila yang kita kerjakan sebatas hanya untuk manusia. Karena manusia punya lebih dan kurang, pun begitu pula diri ini. Tak akan mampu kita, manusia, untuk menjadi sempurna, memenuhi segala yang diminta oleh sesama. Jadi, akan lebih baik bila kita menggantungkan harapan kepada Yang Maha Tinggi. Meluruskan niat bahwa segala yang kita lakukan adalah untuk-Nya, sebagai bentuk pengabdian. Bukan sebatas untuk manusia. Bila toh ternyata tak ada yang berterima kasih, bila toh ternyata terasa tak diapresiasi, tetap tak mengapa, karena Tuhan melihat segalanya. Karena kita yakin, Tuhan Maha Adil, Ia mengetahui yang terbaik bagi umat-Nya. Karena sebenarnya, semua yang kita lakukan hanyalah antara kita dan Tuhan, seperti apa yang Ibu Theresa katakan:

“Bila kamu baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih.
Tapi bagaimanapun juga, berbaik hatilah.

Bila kamu jujur dan terbuka, mungkin orang lain akan menipumu.
Tapi bagaimanapun juga, jujur dan terbukalah.

Bila kamu mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan, bisa saja orang lain jadi iri. Tapi bagaimanapun juga, berbahagialah…

Bila kamu sukses, kamu akan mendapatkan beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati. Tapi, bagaimanapun juga, sukseslah!

Apa yang kamu bangun selama bertahun-tahun, mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam. Tapi bagaimanapun juga, bangunlah.

Kebaikan yang kamu lakukan sepanjang hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang lain. Tapi, bagaimanapun juga, berbuat baiklah.

Berikanlah yang terbaik dari dirimu!
Pada akhirnya, kamu tahu bahwa ini adalah urusan antara kamu dan Tuhan-mu. Ini bukan urusan antara kamu dan mereka.”

Kawan, bukankah amanah tidak akan pernah salah memilih tuannya? Bukankah Tuhan tidak akan pernah salah mempercayakan sesuatu kepada hamba-Nya? Jadi, apapun yang terjadi, mari kita senantiasa berusaha menjaga hati, mengusahakan yang terbaik atas segala kesempatan dan amanah yang telah diberi. Melaksanakan amanah dengan segenap kemampuan yang dipunya, hanya untuk Sang Maha. Dan sekali lagi, ini hanyalah antara kita dan Tuhan, bukan dengan mereka. Bila sudah begini, menjadi lebih ringanlah segala puji atau caci maki.

Nyatanya, keris yang baik harus banyak ditempa, pensil yang runcing harus diraut terlebih dahulu. Semoga sakit dan luka yang dilalui adalah jalan untuk bertumbuh.
Jadi, selamat berkarya!

Surabaya, 16 Februari 2013
Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s