Surat Cinta

Dalam perjalanan pulang kantor, tiba-tiba terlintas di pikiran tentang ‘surat cinta’ yang pernah didapat dalam dua momen berbeda.

Ya, surat cinta. Maksud saya, bukan surat cinta yang biasa ditulis dari seorang kekasih kepada pujaan hatinya lho.. Tapi surat cinta dalam amplop bertuliskan nama kita, yang ditempel rapi di dinding, bersama dengan amplop-amplop bertuliskan nama-nama anggota kelompok yang lain.

Saya mengenal konsep surat cinta ini pertama kali sekitar lima tahun yang lalu. Saat itu, saya sedang mengikuti pelatihan Voluntary Counselling and Testing (VCT) sebagai persiapan untuk menjadi relawan konselor VCT HIV/AIDS bersama dengan beberapa teman. Kami wajib mengikuti pelatihan tersebut secara menginap selama beberapa hari (saya lupa persisnya berapa hari). Karena konsep pelatihan tersebut adalah sejenis diasramakan, maka interaksi kami, para peserta, lebih intens daripada sekedar datang ke kelas-ikut materi-pulang. Selama beberapa hari berinteraksi, makin mencairlah ‘dinding antara’ di antara kami.

Setelah hari berjalan, salah seorang mentor kami, dr. Marga Maramis, SpKJ,  tiba-tiba meminta kami menulis masing-masing nama kami pada sebuah amplop, lalu menempelkannya di dinding kelas. Awalnya saya bertanya-tanya, untuk apa amplop-amplop itu. Setelahnya kami diberitahu, ternyata untuk surat cinta.

Aturan main surat cinta ini sederhana:

– Sebagai permulaan & latihan, kami diminta membuat tulisan di potongan kertas untuk masing-masing teman kami dan memasukkannya di amplop-amplop yang sudah tertempel tersebut.

– Tulisan bisa berisi apa saja untuk/tentang kawan kami. Bisa tentang kelebihannya, bisa berisi pujian, saran, sapaan, atau apapun yg ingin disampaikan kepada teman kami – sesama peserta, yang dapat mendukung pengembangan diri kami. Intinya, demi kebaikan sesama, & bukan untuk menjatuhkan.

-Setiap harinya, kami diminta minimal 1x ‘mengirim’ surat cinta untuk masing-masing peserta (seingat saya).

– Kami juga bisa menuliskan pesan apapun (in a positive way), bagi siapapun, dan kapanpun, selain dari syarat minimal 1 hari 1x untuk 1 orang yang tadi.

– Peserta hanya boleh membuka amplop yang bertuliskan namanya sendiri.

– Amplop hanya boleh dibuka di akhir program pelatihan (saat pulang).

Awalnya, kami bingung akan menulis apa, rasanya masih aneh dan canggung. Namun kelamaan, kami merasa semakin lancar & bebas dalam memuji & menyampaikan saran kepada kawan-kawan kami, untuk kebaikannya tentunya. Permainan ini terasa makin mengasyikkan. Kami makin saling mengenal. Paling tidak, minimal, kami semakin hafal nama, lalu berikutnya saling memperhatikan satu sama lain. Kami makin mengenal kelebihan & kekurangan satu sama lain, saling memberi apresiasi untuk memperkuat kelebihan yang dimiliki & saling memberi saran yang membangun & demi kebaikan masing-masing peserta.

Saat penutupan pelatihan, kami dipersilakan membaca semua isi surat cinta yang ada di amplop kami masing-masing & selanjutnya bisa kami bawa pulang. Ada sensasi tersendiri saat akan membuka amplop itu. Setelah dibuka, ternyata isinya beragam & bisa bikin senyum-senyum sendiri.

– Dari yang sekedar memuji penampilan, seperti “padanan hitamnya oke“, lalu di lain kertas ada lagi yang nulis, “hari ini baju kamu lebih fresh dan cocok daripada warna gelap” 😀

– Berisikan persepsi peserta lain terhadap sisi positif kita, seperti, “ceria“, “seru“, “pintar“, “asyik diajak diskusi“, “stay cool“, “keibuan“, “ramah“, dan lain-lain

– Ada yang menyemangati, “semangat!

– Ada juga sih yang nulis surat ga jelas cuman bertuliskan, “meong” (tapi tetep.. bikin senyum-senyum sendiri :D)

– Ada juga yang nulis pengakuan palsu dengan bilang, “aku akan selalu mencintaimu” (yang ini ketauan siapanya, gombal bener :D)

Yang jelas, efek surat-surat itu luar biasa! Setelah membaca, wajah kami semua makin berseri-seri. Tak ada yg sakit hati. Meski ada beberapa isi surat yang berisi saran, namun karena sebelumnya kami telah sepakat untuk fokus terhadap sisi positif & menyampaikan saran dengan cara yang baik & tidak menyinggung, sehingga tak ada yang kecewa. Seolah kami menjadi ‘diingatkan’ kembali tentang sisi-sisi positif yang kami miliki yang dapat berguna sebagai modal kami untuk menjadi seorang relawan konselor. Seolah mata kami ‘dibuka’-kan, diberi saran-saran membangun demi perkembangan positif dalam diri kami. Amplop itu masih saya simpan hingga kini. 🙂

Image

Foto 1. Surat cinta yang saya dapat saat pelatihan VCT 5 tahun yg lalu

—————————————————–

Saya jadi berimajinasi, bagaimana bila kita bisa menerapkan prinsip surat cinta ini dalam sebuah organisasi. Seringkali, kita melihat adanya keberadaan ‘kotak saran’ dalam tempat-tempat pelayanan. Dengan judul ‘kotak saran’ ini, terkadang masih dapat menimbulkan persepsi yang negatif tentang apa yang akan dituliskan. Seolah kita (konsumen) diminta untuk mencari kekurangan dari pelayanan/lembaga/instansi tersebut, lalu memberikan saran, untuk perbaikan diri & pengembangan mereka ke depan. Berbeda dengan prinsip surat cinta ini. Kita diminta untuk berfokus kepada kelebihan. Fokus pada sisi positif dan saran positif.

Saya membayangkan, bagaimana bila kita bisa menerapkan surat cinta ini dalam sebuah lingkungan organisasi. Setiap bagian/ruang punya ‘amplop’/’kotak’ masing-masing, dan siapapun bisa menuliskan ‘surat cinta’ untuk bagian/ruang/anggota bagian tersebut (perseorangan). Lalu di awal minggu, pada hari Senin, masing-masing bagian mengadakan rapat intern bersama (saya lebih senang menyebutnya dengan koordinasi), lalu membuka ‘amplop’/’kotak’ mereka, dan membaca surat cinta untuk mereka bersama-sama. Saya membayangkan ada begitu banyak wajah berseri-seri karena membaca tulisan-tulisan positif & membangun seperti:

bajunya rapi “

datengnya tepat waktu terus ya.. salut! keep it up!

senyumnya ramah 🙂

pelayanannya cepat!

terima kasih karena keluarga saya bisa tetap tersenyum karena gaji yang bapak bantu proses pencairannya setiap bulan

mbaknya cantik, profesional & tanggap dalam bekerja. akan lebih sip lagi kalau dihiasi dengan senyum manis, biar makin cantik 🙂

kagum sama masnya. pinter banget! pasti akan lebih oke lagi kalau bisa lebih ramah dan sabar 🙂

dan tulisan-tulisan lainnya.

Saya membayangkan bagaimana mereka merasa lebih diapresiasi, merasa kelebihannya diakui, dan merasa tetap dianggap dan diperhatikan karena ada yang memberi saran positif demi kebaikan mereka. Membayangkan, bagaimana suasana hati mereka setiap harinya setelah menerima & membaca surat-surat cinta yang dikirim spesial hanya untuk mereka. Dan saya membayangkan, bagaimana efeknya pada organisasi setelah para anggotanya mendapat begitu banyak apresiasi & saran positif setiap minggunya.

Ah.. alangkah indahnya bila kita bisa saling menghargai hal-hal kecil & berfokus pada kebaikan. ^__^

Image

Foto 2. Amplop surat cinta yang kami terapkan saat menjalani Kuliah Kerja Nyata 1 bulan lamanya di Kab. Bojonegoro

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s