Balada

Kala itu, dadaku sesak, nafasku menggebu, saat kuterima pesan singkat darinya, tepat hanya 3 hari sebelum hari pernikahannya dengan pilihan hatinya. Sakit sekali rasanya, seakan masih tak percaya, bahwa akhirnya ia benar-benar memutuskan untuk menyerah, dan melanjutkan hidupnya dengan orang lain.

Aku tau, aku memang terlalu egois. Aku sendiri tak begitu yakin apakah aku akan bisa menghabiskan sisa hidupku bersamanya, sesuai dengan rencana yang ia punya. Sekian tahun ia bersabar, menunjukkan segala kasih sayang, dengan caranya. Hanya saja aku tak pernah sadar. Ah, bukan. Tak pernah yakin lebih tepatnya. Aku terlalu sering dihantui ketakutanku sendiri. Jangan-jangan, semua perbuatan baiknya padaku itu hanyalah hal biasa, karena memang ia orang baik, tak lebih. Berulang kali kutanyakan padanya, mengapa ia demikian baik padaku. Mengapa ia begitu rela bersabar, begitu baik, begitu peduli. Namun ia tak pernah mau mengatakannya. Belum saatnya, katanya.

Delapan tahun, setelah kami saling mengenal, ia semakin mengerikan bagiku. Ia tak lagi sepengertian dahulu. Kurasakan ia makin posesif, makin mengikatku dengan cara-caranya sendiri. Menghujaniku dengan berbagai saran, yang bagiku lebih terasa sebagai nasihat setengah perintah. Yang ini benar, dan yang kulakukan selama ini adalah salah. Kuceritakan tentang mimpiku untuk melanjutkan pendidikan, ia menghujaniku dengan pertanyaan apa tujuanku, bagaimana rumah tanggaku kelak, bagaimana jika aku bekerja, nyamankah aku bekerja, dan beberapa pertanyaan masa depan lainnya. Lain waktu, ia mengajakku berdiskusi mengenai cara-cara mengasuh anak, ia juga menanyakan padaku, bagaimana rencanaku kelak bila aku dan sang suami sama-sama bekerja, bagaimana anakku kelak. Di lain waktu lagi, ia memberi masukan padaku mengenai cara hidupnya, bagaimana seharusnya berdoa, bagaimana seharusnya kujalani ritual harianku. Duh, makin terasa sesaklah aku. Seolah semua yang kujalani selama ini, dan perencanaanku ke depan adalah salah baginya. Ah!

Hingga suatu hari, kami bertemu di hari pernikahan salah seorang kawan lama kami. Tiba-tiba ia menghampiriku, dan memberiku sebuah buku. Sesampai di rumah, kubaca buku itu, dan terhenyaklah aku. Isinya mengenai bagaimana Sang Nabi Besar menjalankan rumah tangganya serta bagaimana Beliau mengasuh anak-anaknya. Makin berputaranlah beberapa pertanyaan dalam kepalaku. Apa maksudnya ia berikan ini padaku? Ia mau aku membacanya? Untuk apa? Kutanyakan padanya apa maksudnya memberiku buku itu. Katanya, ia cuma mau aku membacanya. Ia tak tau alasan lain, yang jelas, menurutnya buku itu bagus dan ia teringat bahwa aku perlu untuk membacanya.

Caranya kali ini terasa makin menyesakkan untukku. Bagiku, kami bukan apa-apa, maksudku, tak ada ikatan resmi di antara kami. Kami masih teman biasa. Teman yang hanya saling peduli, dan seringkali bertukar ide dan pikiran. Kupikir, itulah kami. Toh ia juga tak pernah menyatakan lebih. Meski kutanyakan pada beberapa kawan, bahwa semua yang telah ia lakukan padaku mengisyaratkan lebih. Namun, aku tak pernah mau percaya, aku terlalu takut untuk sakit hati. Aku tak akan pernah menganggapnya lebih bila memang ia tak pernah mengatakannya langsung padaku. Hanya saja, semua yang ia lakukan, termasuk yang terakhir, tentang buku pengasuhan anak itu, bagiku sudah terlampau kelewatan. Seolah ia mengaturku. Mengikatku. Padahal kami belum apa-apa. Aku tak kuasa lagi terhadapnya.

Berbulan-bulan setelah perdebatan kami tentang buku itu dan kejelasan hubungan kami, kami seolah semakin jauh. Kala itu, kuminta ia berlaku normal selayak teman biasa saja, bila memang kami hanya sebatas teman. Setelahnya, sekali ia mengirim pesan elektronik singkat padaku, katanya, ia mohon izin mencabut janjinya terdahulu, janjinya bahwa suatu saat ia akan mengatakan padaku alasan segala bentuk perhatian & kebaikannya selama ini padaku. Sejak hari itu, aku mulai berpikir, bahwa ia benar-benar menyerah. Sejak hari itu, kami tak lagi saling sapa, kami menghidupi mimpi kami masing-masing. Hingga hampir setahun berlalu, tepat 3 hari menjelang hari bersejarah untuknya itu, menjadi makin jelaslah semuanya. Sepertinya Allah telah benar-benar mengijabah doa malam kami. Seringkali aku berdoa, mohon diberi petunjuk benarkah ia jodoh yang Allah siapkan untukku, dan aku yakin ia pun berdoa yang sama. Akhirnya, hari itu aku tahu, Allah menunjukkan dengan cara-Nya, bahwa kami bukanlah dua orang yang bisa saling melengkapi dan memperbaiki satu sama lain. Aku bukanlah yang terbaik untuknya, dan ia bukanlah yang tepat untukku.

Setelah semalaman menata hati & menenangkan diriku, kuberanikan kutulis pesan untuknya. Kuucapkan selamat, kusampaikan selarik doa tulus, serta tak lupa ucapan terima kasih atas segala kebaikannya selama ini. Pun ucapan maaf atas segala khilaf dan salah. Bahwa aku sungguh bersyukur telah diberi kesempatan oleh Allah untuk mengenalnya.

——

“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh. Iya sama-sama, aku minta maaf jika pernah bikin salah, sedih, atau yg lainnya. syukron doa nya. mudah-mudahan cepet menyusul utk nikah dan ketemu calon suami yg sholeh.”, balasnya.

Ah, rasanya hatiku ini banjir air mata. Tak sanggup lagi keluar lewat kedua mata. Sakit sekali rasanya. Entahlah, aku tau ia orang baik, hanya saja, aku tak yakin bisa menghabiskan waktuku bersamanya. Tetapi, menerima undangan pernikahannya itu, hatiku sakit. Mungkin bukan murni sakit karena kehilangan orang yang dicinta, tapi lebih kepada sakit karena kehilangan cinta yang biasa dirasa. Semua yang pernah ia lakukan, kini sebatas hanya bisa dikenang, tak akan pernah lagi sama. Aku jahat ya?

Kuharap, pesan yang kukirim dan kuterima menjelang pernikahannya itu, adalah pesan terakhir kami berdua. Entahlah, sepertinya aku belum sanggup bila kami harus tetap saling berhubungan, meski sekedar bertatap muka, atau berkirim pesan singkat layaknya teman biasa, seperti semula. Semoga waktu akan menyembuhkan semuanya. Ya, semoga saja segera. Dan semoga saja, Allah mengijabah doa tulusnya padaku, dalam pesan terakhirnya kala itu. Aamiin..

06 November 2015

Dan sekarang, setelah sekian lama kami menghidupi jalan kami masing-masing,
Ia dengan istri & putrinya,
Sedang aku pun dengan rencana-rencana persiapan masa depanku.

Kini, di kala aku sedang menghitung mundur tiap detik waktu menjelang hari pernikahanku sendiri,
Ia hadir kembali sebagai ujian
Tak hentinya mengirimi berbagai pesan-pesan hikmah, motivasi, & sejenisnya
Terus menerus tak kenal waktu dlm beberapa bulan terakhir ini,
Meski toh tak satupun kubalas.
Kata teman, block saja, beres urusan. Tapi tak tega juga 😥

Semoga persiapan pernikahan lancar
Semoga segala ujian dpt dilalui dg baik
Hingga saatnya tiba, dan penuh dg kerendahan hati kusampaikan pula kabar baikku ini padanya
Dan semoga setelahnya, kami bisa baik-baik saja, dengan menjalani hidup kami masing-masing.

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s