Review: “Hiduplah Anakku, Ibu Mendampingimu”

INFORMASI BIBLIOGRAFI
Judul : Hiduplah Anakku, Ibu Mendampingimu
Pengarang : Michiyo Inoue
Penerjemah : Tiwuk Ikhtiari
Bulan, Tahun : Februari 2008
Kota Penerbit : Jakarta
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo: Kelompok Gramedia
Tebal : 183 halaman

REVIEW

Buku yang berjudul ‘Hiduplah Anakku, Ibu Mendampingimu’ yang menceritakan kehidupan nyata Michiyo Inoue, seorang ibu dalam membesarkan putrinya, Miyuki Inoue, yang tuna netra sejak lahir dengan tebal 183 halaman ini sangat inspiratif. Terdiri dari VI bab yang menceritakan berbagai episode kehidupan tokoh serta sejumlah halaman berisi foto-foto Michiyo bersama putrinya, Miyuki, dalam kesehariannya. Buku ini mampu memberikan gambaran dengan jelas dan sederhana mengenai kehidupan seorang ibu serta interaksinya dalam membesarkan putrinya yang tuna netra seorang diri.

Michiyo Inoue adalah seorang anak yang tidak terbiasa dibesarkan oleh ibunya. Ia diasuh dan tinggal bersama nenek dan kakeknya. Ibunya seolah tak menyayangi dan tak menginginkannya. Michiyo sudah terbiasa dididik dengan pola yang disiplin dan keras. Ibu Michiyo selalu bersikap buruk dan tidak menyenangkan seolah tidak mengharapkan kehadiran Michiyo dalam hidupnya. Ibunya memperlakukan Michiyo tidak seperti putrinya, seolah Michiyo adalah budak yang harus mau menuruti segala perintahnya, bahkan hingga melayani segala keinginan tamu-tamu yang datang ke kedai minum milik ibunya. Michiyo merasa sangat sedih dan merindukan kasih sayang ibunya.

Tak lama setelah kakeknya meninggal, nenek Michiyo pun meninggal. Saat itu Michiyo sedang tinggal bersama ibunya. Michiyo menjadi benar-benar tersadar bahwa ibunya benar-benar seorang wanita yang kejam saat ia dilarang oleh ibunya untuk melayat ke pemakaman neneknya. Bahkan, saat itu Michiyo diperintahkan untuk tetap melayani tamu-tamu di kedai minum ibunya tersebut. Hal ini merupakan pukulan yang berat bagi Michiyo. Bagaimana tidak, ia dilarang oleh ibunya sendiri untuk melayat ke pemakaman neneknya, nenek yang telah membesarkannya dari kecil dengan penuh cinta kasih. Kemarahan Michiyo semakin menjadi saat ayah tiri Michiyo mencoba memeluknya dan ibunya bahkan bersikap cuek terhadap peristiwa tersebut. Michiyo pun memutuskan untuk pergi meninggalkan ibunya. Ketika itu ia berusia 15 tahun, baru saja lulus tingkat SMP saat liburan musim semi.

Michiyo tinggal di sebuah penginapan dan bekerja pada pemiliknya di sebuah kedai makanan. Setelah beberapa tahun, Michiyo memberanikan diri untuk membuka sebuah rumah makan dari hasil kerja kerasnya dan sedikit uang yang ia pinjam dari seniornya di tempat kerjanya dulu. Rumah makan itu ia beri nama ‘Nodate’. Rumah makan inilah yang menjadi harapan dan kebanggaannya.

Saat mengandung putrinya, Miyuki Inoue, ayah Miyuki yang merupakan calon suami Michiyo meninggal dunia karena kecelakaan kereta dalam perjalanan dinasnya. Peristiwa tersebut merupakan pukulan keras bagi Michiyo sehingga berakibat pada memburuknya kondisi kesehatannya dan membuat Miyuki lahir super premature saat usia kandungannya masih enam bulan. Miyuki lahir dengan berat 500 gram dalam keadaan koma. Michiyo mengungkapkan bahwa saat terlahir, Miyuki hanya sebesar ballpoint, tubuhnya kecil kecoklatan. Hal ini membuat Miyuki memerlukan perawatan khusus dan intensif di dalam inkubator agar organ-organnya dapat berkembang dan befungsi sempurna. Hati Michiyo miris melihat kondisi putrinya tersebut. Ia merasa sedih sekaligus menyesal karena tak berhasil menjaga kondisi kandungannya dengan baik.

Meski mengetahui bahwa harapan hidup Miyuki sangat kecil, namun semangat Michiyo tak pernah pupus untuk terus mendampingi putrinya tersebut. Ia selalu berada di sisi inkubator putrinya, menyemangatinya, sembari menggenggam tangannya dan terus-menerus memanjatkan doa kepada Tuhan, memohon keselamatan putri tercintanya. Setiap hari ia selalu mencoba untuk menanamkan hal-hal positif dalam keyakinannya, bahwa segalanya akan baik-baik saja, sambil terus mengajak putrinya bicara dan berdoa. Michiyo yakin bahwa yang dilakukannya itu jauh lebih baik daripada hanya sekedar menangis menyesali nasib. Miyuki dirawat dalam inkubator selama tujuh bulan. Selama itu pula Michiyo terus-menerus memantau perkembangan putrinya, mendampinginya, memberi semangat, dan berdoa untuk kebaikan putrinya. Bahkan ia tak segan untuk menegur para perawat yang ia lihat, menurutnya, tidak begitu tepat dalam merawat putrinya. Semua itu ia lakukan karena ia begitu khawatir akan kondisi putrinya.

Saat Miyuki berusia lima bulan, ia didiagnosa menderita kegagalan retina yang membuatnya tak mampu melihat kecuali menangkap sedikit cahaya secara permanen sepanjang hidupnya. Tentu ini merupakan pukulan yang berat bagi Michiyo. Ia terus menangis membayangkan kebutaan putrinya. Ia merasa putus asa karenanya. Bahkan ia membayangkan bila kelak ia meninggal, bagaimana kondisi putrinya? Pada siapa Miyuki akan bergantung nantinya? Ia terus membayangkan hal-hal negatif yang membuat pikirannya semakin suram hingga terlintas pula dalam benaknya untuk membunuh putrinya saja agar segalanya berakhir. Sebenarnya saya memaklumi hal ini. Mungkin memang inilah yang dirasakan para orangtua yang memiliki anak tuna netra. Merasa sedih, putus asa membayangkan nasib anaknya kelak tanpa kehadiran mereka di sisinya.

Kemudian Michiyo tersadar bahwa membiarkan putrinya tetap hidup adalah jauh lebih baik daripada membunuhnya. Timbul kesadaran dalam dirinya bahwa apa pun yang terjadi, ia harus hidup bersama putrinya, ia akan berusaha membesarkan putrinya. Ia tersadar bahwa Miyuki adalah anugerah yang dititipkan Tuhan padanya dan oleh karenanya ia harus menjaganya sebaik mungkin. Sejak saat itu, Michiyo berjanji tidak akan mengeluhkan ketidaksempurnaan Miyuki, bahkan ia akan membantunya semaksimal mungkin hingga suatu saat putrinya itu akan mengatakan bahwa ia merasa bahagia meski ia tak mampu melihat. Itulah cita-citanya. Cita-cita hebat dan mulia dari ibu seorang tuna netra.

Menurut saya, Michiyo merupakan ibu yang kreatif, penuh semangat, dan pantang menyerah dalam membesarkan putrinya. Ia selalu berusaha untuk menemukan cara bagaimana mendidik putrinya dengan tepat dengan ketidaksempurnannya tersebut. Ia bahkan meminta nasihat dari guru SLB dan mengambil pelajaran berharga dari ibu-ibu anak tuna netra yang dijumpainya. Guru SLB itu memberinya pesan yang sangat berharga, “Lupakan jika ia tak bisa melihat. Tangannya yang akan menggantikan matanya. Biarkan ia menyentuh apa saja.” Hal inilah yang menjadi prinsipnya dalam mendidik putrinya. Membiarkan Miyuki memegang apa saja, berhenti menjaga Miyuki secara berlebihan serta belajar untuk tidak mengkhawatirkan kondisi Miyuki agar Miyuki tidak berpikir bahwa ia hidup dalam dunia yang penuh bahaya sehingga tumbuh keberanian serta kepercayaan dalam diri Miyuki.

Michiyo mendidik Miyuki dengan penuh kesabaran. Ia selalu mencoba menjelaskan apa saja yang ia dan Miyuki temui. Tak lupa pula ia untuk membiarkan Miyuki menyentuh apa saja yang ditemui sebagai media pembelajarannya. Michiyo juga mengajak Miyuki berjalan-jalan keluar rumah, membiarkan putrinya merasakan hembusan angin dan kehangatannya. Mengajaknya bermain-main di taman. Semakin besar, Miyuki semakin memerlukan pengawasan dan perhatian ibunya, sehingga membuat Michiyo dengan berat hati menutup Nodate dan beralih ke bisnis lainnya yang tidak terlalu menyita waktunya bersama Miyuki. Michiyo tak mau kehilangan kesempatan untuk mendidik putrinya seoptimal mungkin.

Michiyo mengenalkan dunia pada Miyuki dengan sentuhan. Ia memperkenalkan pohon, daun, pasir, angin, serta lainnya dengan sentuhan sembari memberi penjelasan rinci pada Miyuki. Ia juga membiarkan Miyuki mencoba apa pun yang diinginkannya. Saat Miyuki terjatuh, Michiyo menahan diri untuk tak menolong Miyuki, ia hanya mengawasinya dari kejauhan dan memastikan bahwa putrinya baik-baik saja. Selanjutnya, ia membiarkan putrinya untuk berusaha bangkit sendiri. Michiyo ingin menanamkan prinsip pada Miyuki bahwa di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan.

Saat memasuki bangku SD, Miyuki masuk ke SLB-A yang terletak jauh dari rumahnya. Hal ini membuat Michiyo berpikir bahwa ia harus mendidik Miyuki agar nantinya dapat pergi dan pulang sekolah sendiri dengan kereta tanpa ia antar jemput. Di sekolah, ia memiliki seorang guru yang sangat perhatian padanya, Ibu Junko Nakamuta namanya. Beliau membantu Miyuki mengenal huruf braille dengan sabarnya. Selain itu Miyuki selalu terbuka dengan ibunya. Segala hal yang ia temui dan lakukan di sekolah selalu diceritakan pada ibunya. Miyuki adalah seorang siswa dengan semangat belajar yang tinggi. Ia pun rajin mengerjakan tugas-tugasnya. Suatu hari, gurunya memberi tugas Miyuki untuk menulis buku harian agar Miyuki lebih lancar menulis dan membaca. Karena mimpinya agar Miyuki dapat menjadi anak yang berhasil kelak dan tidak sekedar menjadi pemijat atau ahli akupuntur seperti para tuna netra kebanyakan, Michiyo sangat menginginkan agar Miyuki mampu melanjutkan sekolah setinggi-tingginya sehingga Michiyo menjadi ibu yang keras dalam mendidik putrinya agar belajar sekeras mungkin.

Michiyo pun sadar bahwa lebih baik baginya bila ia membiarkan Miyuki melakukan hal sesukanya tanpa disertai berbagai macam aturan dan teguran agar Miyuki tidak merasa takut salah dalam bertindak. Michiyo sangat disiplin dalam mendidik kemandirian putrinya. Sebisa mungkin ia membiarkan Miyuki berusaha sekuat tenaga dengan sendirinya dan tidak membantunya melakukan sesuatu. Ia pun juga mengajarkan Miyuki memasak, dimulai dari merebus air, menggunakan pisau, hingga yang rumit hingga Miyuki mampu memasak beberapa menu dengan mandiri.

Kehidupan Michiyo dan Miyuki tidaklah berjalan dengan mulus dan akur-akur saja. Terkadang juga terjadi konflik di antara keduanya. Seperti saat Miyuki tidak juga paham dengan penjelasan ibunya mengenai operasi perkalian. Ibunya memarahinya karena benar-benar takut bila nanti Miyuki tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sikap ibunya tersebut membuat Miyuki merasa tertekan dan marah pada ibunya. Pertengkaran pun juga terjadi pada suatu malam saat Michiyo menemukan sampah makanan yang telah dibuang Miyuki saat Miyuki malas makan karena merasa kesepian tanpa ibunya yang menemaninya karena bekerja.

Saat Miyuki duduk di kelas empat SD, ia terserang pilek hingga jumlah sel darahnya menurun drastis yang tidak diketahui apa penyebabnya. Ia harus diopname di rumah sakit. Michiyo merasa senang karena di sana ia merasa bisa semakin dekat dengan Miyuki. Akhirnya Miyuki mampu melanjutkan ke SLB-A Lanjutan Pertama. Wali kelasnya bernama Pak Kono yang juga tuna netra. Beliaulah yang menasihati Miyuki untuk selalu memiliki cita-cita yang tinggi serta pantang menyerah. Ia juga menyarankan agar Miyuki mau mengikuti lomba pidato. Dalam pidatonya, Miyuki menuliskan kisah hidupnya. Ia mengungkapkan bahwa ibunya adalah sosok yang jahat dalam mendidiknya, namun ia menyadari bahwa sebenarnya ibunya sangat menyayanginya. Ia pun mengungkapkan bahwa ia akan berusaha mengejar impiannya dan ingin membuat ibunya menangis bahagia karenanya. Michiyo sangat bangga melihat putrinya mampu membawakan pidatonya dengan penuh percaya diri tanpa canggung di hadapan banyak orang. Ia pun lebih bangga karena Miyuki berhasil memenangkan lomba tersebut dan mendapat kesempatan untuk mengikuti lomba pidato selanjutnya se-Kyushu. Miyuki pun berhasil memenangkan lomba tersebut dan mendapat kesempatan untuk mengikuti lomba pidato tingkat nasional dan ia pun juga berhasil memenangkannya. Ia pun semakin bangga dan percaya diri karenanya. Miyuki benar-benar senang karena ia berkesempatan untuk berbagi kisahnya dengan sesama tuna netra hingga bisa menginspirasi teman-temannya tersebut. ia merasa cukup bermanfaat. Ia pun berkeinginan untuk dapat lebih bermanfaat bagi orang lain. ia sempat bekerja di panti jompo. Namun, ia merasakan kesulitannya hingga ia beralih pada keinginan untuk menerbitkan sebuah buku. Di usia lima belas tahun, Miyuki berhasil menuliskan kisah hidupnya bersama ibunya sehingga dapat menginspirasi banyak orang. Ia menceritakan bagaimana ibunya mendidiknya, bagaimana perasaannya, serta penderitaan yang dialami olehnya serta ibunya. buku yang ditulis Miyuki mampu menyembuhkan luka hati Michiyo pada ibunya dulu dan menyadarkannya bahwa kelembutan serta cinta akan menjadi kekuatan dan membuka kemampuan seseorang, dan Michiyo pun bersyukur karenanya.

Kisah yang ditulis Michiyo ini membuat saya terinspirasi sekaligus merasa kagum dan salut terhadap keteguhan hati Michiyo. Meski ia mengalami luka yang sangat dalam terhadap ibunya karena ia tak pernah merasakan kasih sayang yang tulus dari ibunya, namun ia tidak melampiaskannya kepada putrinya. Ia justru menjadi tersadar dan berjuang agar putrinya tidak merasakan apa yang dirasakannya. Ia melimpahkan seluruh perhatiannya, cintanya, bahkan segalanya bagi putrinya. Ia pun rela menutup ‘Nodate’ kebanggaannya, mengubah pola hidupnya, demi Miyuki yang sangat disayanginya.
Saya juga salut dengan keyakinannya bahwa berpikir dengan kemungkinan terbaik adalah jauh lebih baik daripada berpikir mengenai hal-hal yang buruk. Ia yakin bahwa Miyuki akan bertahan hidup, mencurahkan segala perhatiannya, selalu mendampingi serta mengajak bicara Miyuki meski masih di dalam inkubator.

Prinsip-prinsipnya dalam mendidik seorang anak yang tuna netra juga sangat menginspirasi. Tak ada yang tak mungkin bila kita mau berusaha. Biarkan Miyuki melihat segalanya dengan menyentuh. Michiyo adalah sosok ibu yang tangguh, yang mampu menahan diri dan perasaannya demi kebaikan putrinya. Ia berhasil menahan dirinya untuk tak menolong Miyuki saat terjatuh, bahkan meski Miyuki terluka dan berdarah. Ia menahan diri dan membiarkan Miyuki berusaha sendiri karena ia yakin suatu saat Miyuki akan berhasil bangun dengan sendirinya tanpa ia bantu.

Michiyo juga telah berhasil membina hubungan baik dengan putrinya. Menjalin kedekatan dan keterbukaan. Menanamkan kepercayaan diri dan keyakinan pada diri Miyuki yang merupakan modal penting bagi kehidupan Miyuki ke depan. Ia pun berhasil mendidik Miyuki menjadi sosok pribadi yang mandiri, yang tidak tergantung pada orang lain, mampu bersepeda, bepergian sendiri, membaca, menulis, bahkan memasak. Dan yang terpenting adalah Michiyo berhasil membuat Miyuki benar-benar merasa bahagia meski ia tak mampu melihat dan bahkan ia mampu menginspirasi banyak orang.
Kisah Michiyo dan Miyuki ini merupakan ilmu dan pelajaran berharga bagi kita semua, terutama memberikan contoh konkrit bagaimana cara mendidik dan membesarkan seorang anak yang tuna netra. Tak perlu menahannya untuk melakukan sesuatu dan selalu menolongnya dalam segala hal karena justru akan menjerumuskannya dalam dependensi. Yang perlu dilakukan adalah menanamkan keyakinan dalam diri bila berusaha pasti bisa. Biarkan anak mengeksplorasi segalanya, dan orang tua perlu memiliki kreatifitas dalam mengenalkan segalanya pada anak, menanamkan kewaspadaan dan bersabar dalam mendidik dan membesarkannya. Bukan ketidakmampuan itu yang menghalangi, namun pikiran kitalah yang akan menentukan keberhasilannya. Sekali lagi, “Tak ada yang tak mungkin bila kita mau berusaha!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s