Love Letter for My Dearest Husband: Happy 1st Anniversary

​Dear Mas Ipanku sayang.. tak terasa ternyata waktu begitu cepat bergulir. Tetiba saja sudah setahun berlalu. Kuinjak juga 26 Maret kedua bersamamu.

Rasanya seperti baru kemarin semalaman aku tak bisa tidur karena mencemaskan akad nikah esok paginya. Masih kuingat jelas kala itu, betapa hati dag dig dug tak karuan. Berbagai pikiran berkelebatan dlm kepalaku. Apakah engkau benar jodohku. Lancarkah engkau esok hari kala mengucap ijab qabul sembari bersalaman dg bapakku.
Rasanya masih kuingat jelas kala itu. Betapa hatiku berdegup kencang melihat wajahmu. Lalu menjadi semakin kencang saat mendengar sumpahmu di hadapan Rabb & bapakku. Dan menjadi semakin tak karuan kala engkau menjemput & menggandengku, lalu aku memegang & mencium takzim tanganmu, yg akhirnya menjadi imamku. Sentuhan pertama di antara kita. Tanganmu yg menggandengku & tanganku yg mencium takzim tanganmu. 

Suamiku sayang, terima kasih telah memilih & mempercayaiku untuk mendampingimu. Setahun tentu masihlah terlalu muda bagi sepasang suami istri dlm membina rumah tangga. Namun tentu berbagai dinamika sudah kita lalui bersama. Maafkan istrimu ini bila dirasa terlalu banyak mengeluarkan air mata. Berbagai kekurangan tentulah masih banyak yg perlu kutata. Aneka penyesuaian juga tentu masih banyak yg perlu kuusahakan. Namun percayalah, semakin waktu bertambah, aku pun semakin bersyukur tak hingga memasrahkan jodohku hanya pada-Nya kala itu. Bersyukur luar biasa bersuamikan dirimu, sayangku.

Berulang kali kau tanyakan padaku, apakah aku bahagia? Tentu hari-hariku tak bisa kurasakan selalu bahagia, sebab hidup yang memang berdinamika. Namun percayalah masku sayang, aku selalu berbahagia diberi suami sepertimu. Maafkan istrimu ini yg mungkin seringkali membuatmu merasa gagal. Tidak masku sayang. Sungguh dari dasar hatiku, kuhargai setiap jerih payah yg engkau usahakan. Kuiringi doa-doa dalam diamku semoga Allah memberkahi tiap tetes niat baik & keikhlasanmu padaku. Terima kasihku yg dalam untuk setiap yg engkau usahakan untukku. Maafkan istrimu ini yg mungkin seolah kurang tahu terima kasih & seolah membuatmu selalu merasa tak ada yg benar bagiku.

Mas Ipanku sayang, semakin bertambah waktu, semakin Allah tambahkan rasa cintaku padamu. Semakin sering aku mengkhawatirkanmu, mengharap & mendoakan kesehatan serta kebahagiaanmu. Tahukah masku sayang, di balik pertanyaanmu ttg kebahagiaanku, dari dlm hatiku pun kutanyakan yg sama, apakah engkau juga bahagia. Di kepalaku pun berkelebatan tanya pula, bagaimana caranya aku bisa membahagiakanmu & berbakti padamu. 

Suamiku, dalam mengarungi bahtera, berbagai kemungkinan tentu mungkin saja ada. Lautan tak selamanya tenang. Adakalanya riak atau gelombang mungkin akan datang. Kala saat itu tiba, jangan lupakan bahwa kita selalu masih punya hati untuk saling terpaut, masih punya telinga untuk saling mendengarkan, masih ada jemari untuk saling menggenggam, serta mulut untuk terus merapal doa. Semoga kita bisa lalui segalanya bersama. 

Dear imamku, semoga engkau ingat selalu bahwa jalan yg kita tempuh ini adalah perjalanan untuk menggapai ridha-Nya. Oleh karenanya tolong bersabarlah dalam membimbingku serta kedua putri cantik kita kelak. Kuharap kita bisa saling mengingatkan satu sama lain untuk dapat terus meniti jalan ini. Ingatkan aku dg kelembutanmu. Semoga Allah mempermudah jalanmu untuk melindungi keluarga ini dari api neraka sebagaimana perintah-Nya. 

Mas Ipanku sayang,
Beribu maaf kuhaturkan untuk segala khilaf & kurangku. Syukur telah kulalui juga setahun bersamamu. Semoga Allah berkahi jalanku mendampingimu.

Happy anniversary, my dearest one. Tons of gratitude having you as my husband. Lots of love for you  πŸ˜˜

Salam,
Galuh Nindya

Advertisements

Being a (new) mother of twins

Tak terasa ternyata setahun lebih sudah saya tak menulis. Niat hati mau rutin menuliskan perjalanan persiapan pernikahan saya, lalu perjalanan kehidupan saya setelahnya, diary dinamika kehamilan saya, dan seterusnya. Namun nyatanya semua terlewati begitu saja. Hanya bisa terkenang dalam memori, tak sempat mengabadikan dalam tulisan. Hikss..

Setahun lebih berlalu. Sudah banyak yg terlewati. Alhamdulillah akhirnya saya menikah dengan pria yg sempat membuat saya agak ragu kala itu. Antara maju mundur seperti yg saya ungkapkan dalam tulisan terakhir saya sebelumnya. Alhamdulillah pernikahan kami dilancarkan.. keraguan saya pupus sudah & berubah menjadi syukur tak hingga sebab dikarunia suami sepertinya. Sungguh Allah memang Maha Mengetahui yg terbaik bagi hamba-Nya. 

Menikah, sempat LDR selama 8 bulan, & alhamdulillah saya bisa mendapat SK mutasi di kehamilan saya yg menjejak 4 bulan. Hidup berdua bersama suami tercinta tentu rasanya penuh suka cita, meski masih dg segala keterbatasan yg ada. Meski saya juga harus merelakan pekerjaan saya yg ‘turun tahta’. Pindah dari kantor provinsi dg jumlah satuan kerja terbanyak se-Indonesia, dg load pekerjaan yg hecticnya luar biasa, dg kawan2 yg banyak & ramah.. serta fasilitas yg cukup memadai, ke kantor kabupaten dg lingkup kecil, dg pekerjaan yg saya tak tahu menahu sama sekali, sehingga saya jadi seolah menjadi pegawai ‘pupuk bawang’ – serasa ada & tiada. Tetapi bukankah hidup adalah pilihan? Toh prioritas utama saya adalah keluarga.

Setahun berlalu, kini kami dianugerahi amanah bayi kembar. Amanah yg tak disangka-sangka & tak sedikitpun terlintas dalam bayangan saya sebelumnya. Sempat surprised & agak ragu kala pertama sang dokter memberitahu keberadaan janin kembar dalam rahim saya di usia 3 bulan kala itu. Namun seiring waktu.. kami mulai beradaptasi & menerima. Bukankah Allah mengetahui kemampuan hamba-Nya?

Hari ini, tepat sebulan usia kedua putri kami. Lahir pd tanggal  18 Februari 2017 di usia kandungan yg masih 36 minggu. Syukur alhamdulillah mereka bisa langsung pulang bersama kami ke rumah di hari keempat pasca melahirkan.

Menjadi ibu dari dua orang anak kembar ternyata luar biasa dinamikanya. Bahagia, tentu saja. Diamanahi dua orang putri mungil yg sehat, lucu, & menggemaskan. Namun tentu tak lepas pula dari berbagai tantangan. Dimulai dari begadang semalam suntuk. Kalau katanya yg bayi 1 saja begadangnya sudah ampun-ampun, nah ini 2. Bayi 1 nenen, bayi 2 nangis minta nenen.. bayi 2 nenen belum selesai, bayi 1 sudah nangis minta nenen lagi. Jadilah saya harus begadang non stop dari malam sampai pagi jam 6an. Hehehe

Belum lepas dari balada menyusui.. dengan tekad bulat menyusui ASI eksklusif, jadilah tantangan berikutnya.. menyusui bayi kembar tentu tak mudah. Tuntutan intake makanan juga perlu ekstra. Sedang hasil pompa tak seberapa. Sedih rasanya. Belum lagi ditambah komentar-komentar yg berlalu lalang. Heu.. naik turun rasanya hati ini.

Masih soal menyusui, karena saya belum bisa menyusui tandem langsung berdua.. jadilah saya harus menyusui secara bergantian. Cara ini tentu berimbas pada habisnya waktu saya. Sebagian besar waktu saya hanya bisa untuk menyusui. Sambil sesekali mencari celah singkat untuk makan, mandi, ke belakang, cuci & steam botol, plus pumping yg semuanya serba berkejaran. Kalau sempat sedikit.. bisalah sesekali menyisir rambut atau pakai lotion setelah mandi. Itu kalau si kembar sedang tenang terlelap & tak teriak-teriak minta nenen. 😁

Belum bisanya saya menyusui secara tandem juga berimbas pada naik turunnya ketenangan hati saya. Gimana tidak, kala keduanya menangis teriak-teriak karena sama-sama kehausan. Sakit hati saya kala saya harus memilih satu, sementara yg satunya musti menunggu sambil tersedu. Syukur-syukur kalau ada stok ASIP, bisa diminumkan dahulu. Namun sayang, stok ASIP saya juga belum dapat memenuhi banyak. Belum lagi kalau sama-sama suka ngempeng.. padahal saudaranya antri menyusu. Rasanya seperti diiris-iris hati ini saat tak bisa memenuhi keinginan kedua putri untuk terus nempel manja sama ibunya.. ya tapi mau bagaimana, tangan ini tak bisa merengkuh keduanya sekaligus.. hiks

Terkadang muncul kekhawatiran pula soal perkembangan psikososial sang anak terkait trust vs mistrust ala Erickson. Berhubung usia newborn adalah periode pembentukan bonding & kepercayaan, khawatir sang anak kurang optimal pembentukan rasa percayanya sebab saya belum tentu bisa selalu langsung memenuhi keinginannya karena harus berbagi dg saudara kembarnya. Dia nangis, belum tentu bisa langsung saya gendong atau saya handle. Haus, belum tentu bisa langsung saya penuhi rasa hausnya. Sedih rasanya.. Heu. Semoga mereka tetap baik-baik saja.. 😒

Begitulah sekilas pengalaman saya selama sebulan menjadi ibu baru dari 2 orang putri kembar. Mohon maaf kalau tulisan saya acak adut bin amburadul. Sebenarnya ini saya tulis juga sebagai media katarsis saya alias media curhat. Sedikit demi sedikit ngetik sambil nenenin anak2 gantian buat ngilangin jenuh bin stres. Hehehe

Anak pertama, kembar pula. Mengasuh anak saja saya belum pernah.. jadi lumayan agak shock rasanya πŸ˜πŸ˜‚

Bismillah saja.. saya percaya insyaa Allah kami bisa. Aamiin aamiin yra..

Salam,
Galuh Nindya

PMS: Pre Marital Syndrom

image

Ya Allah.. Masih separuh jalan, tapi dinamika rasanya ampun-ampunan.. πŸ˜₯πŸ˜”

Entah sudah berapa orang yg bilang kurusan. Berapa orang yang menyebut wajah pucat pasi & mata makin menghitam.
Entah berapa kali pula perut mual & kehilangan selera makan padahal jelas-jelas sedang perlu makan.

Berulang kali mengingatkan diri bahwa segala bisikan buruk datangnya dari syaitan.
Untuk segala yg telah & akan dihadapi di depan, semoga Allah selalu mempermudah jalan. Memantapkan hati, langkah, & pikiran.
Sungguh bila azzam telah ditetapkan, maka bismillah.. bismillah.. bismillah..

Ya Allah, hamba berlindung kepada-Mu dari segala doa & prasangka buruk hamba, baik yang hamba sadari maupun yang tidak hamba sadari. Sungguh Engkaulah yang Maha Mengetahui segala isi hati.

Aamiin aamiin yra..

Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir..

– Galuh Nindya –

Perihal Lupa Nama

“Hai Benny! Eh, maksud saya Denny. Atau Ronny? Aduh maaf, siapa tadi nama kamu?” πŸ˜€

Hehehe.. Pernah demikian?

Mungkin banyak dari kita yang demikian, terutama saat baru kenalan. Ngobrol sedikit banyak, lalu lupa lagi nama kenalannya siapa. Terlebih bila baru kenalan dengan sejumlah orang dalam waktu yang bersamaan, misal saat baru bergabung dengan lingkungan yang baru.

Bila baru semenit dua menit berkenalan lalu lupa, masih wajar saja. Namun bagaimana bila sudah cukup lama lantas lupa nama? Steffi Teowira di situs http://www.qerja.com menyebutkan beberapa tips & trik yang dapat diterapkan agar lebih mudah mengingat nama:

1. Menyebut Nama Berulang-Ulang
Teknik mengingat nama tidak ada bedanya dengan teknik menghafal: semakin sering Anda mengucapkannya, semakin ‘menempel’ di otak Anda.

Misalnya Anda baru dikenalkan dengan seseorang bernama Timo, pastikan Anda langsung menyebut ulang namanya. “Hai Timo, nama saya XXX. Kerja di mana, Timo?”

2. Asosiasi Nama
Anda dapat mencoba mengasosiasikan nama mereka dengan penampilan atau informasi yang Anda dapatkan saat berbincang-bincang.

Ketika Anda sedang berkenalan, coba perhatikan fitur fisik mereka. Misalnya A memiliki rambut panjang, jadi ingat-ingatlah kalau “A itu yang rambutnya panjang”. Jika orang tersebut kebetulan memiliki nama yang unik, Anda juga bisa mencoba mengasosiasikannya dengan nama benda yang mirip, kemudian visualisasikan benda tersebut setiap Anda melihat sang kenalan.

Jika Anda sudah bercakap-cakap dan mendapat informasi tambahan tentang orang tersebut, bisa juga coba kaitkan dirinya dengan sepotong informasi. Misalnya koneksi Anda bekerja sebagai koki, coba bayangkan ia sedang memasak dengan topi koki. Menurut para ahli, asosiasi visual akan membuat informasi lebih mudah diserap.

3. Visualisasikan Nama Mereka di Dahi
Coba bayangkan kalau nama kenalan baru Anda tertulis di dahinya. Yup, coba saja! Trik ini konon juga dipakai oleh Franklin Roosevelt, loh.

KALAU TELANJUR LUPA

Bagaimana kalau telanjur lupa? Tentu rasanya memalukan bukan main. Kadang malah berisiko menyinggung lawan bicara Anda. Daripada Anda terbata-bata, coba salah satu trik ini:

1. Tanyakan Nama Belakang
Tanyakan kembali nama lawan bicara Anda dan mereka otomatis akan menyebutkan nama depan, lalu katakan “Maksudnya nama belakang”. Berpura-puralah kalau yang Anda tanyakan adalah nama belakang, padahal sebetulnya yang Anda incar adalah nama depan yang Anda lupakan tadi.

2. Minta Kartu Nama
Tentu saja tidak ada yang akan tersinggung jika Anda meminta kartu nama mereka, kan?

3. Minta Kontak Sosial
Minta kontak email, Twitter atau aplikasi messaging. Nama mereka akan muncul di ponsel Anda dan ini juga akan memudahkan Anda untuk menghubungi mereka lain kali.

4. Kenalkan Pada Teman
Kenalkan teman Anda pada koneksi baru Anda dan mereka otomatis akan mengenalkan diri, jadi Anda bisa menangkap kembali nama mereka!

Sekian beberapa tips & trik yang mungkin bisa digunakan.
Anda ada tips/cara lain? Yuk berbagi di kolom komentar! Semoga makin memperkaya kamus tips & trik para pembaca lainnya πŸ™‚

Salam,
Galuh Nindya

Memories: Backward – Forward

For every new road we take, I know that we’ll miss those past memories sometimes.
I know that sometimes u miss those adventurous work moments here and there.
Just like I miss praying for u for every weeks to have safe flights those days.
Just as I miss waiting someone to come at my door for every months while his job visit.

But life is full of choices, eh?
We choose by Allah’s guidance. We’ve repeatedly pray for the guidance.
We’ve considered several times from any sides, ’till finally u choose this way.
And I choose to keep on supporting u for every road u take.
And now we’re in this path.

I understand that it mustn’t be easy sometimes to adjust to the new rhythm, but we have to keep on moving forward. It’s natural if sometimes u miss those memories just as I miss mine.
But I know we’ll get through this anyway, insyaa Allah.
Bismillah.. For the future ahead, please keep on moving forward.

We never know where the future will take us.
Let us following Allah’s plans, in His misterious ways.
We just have to believe.

*Agak galau episode ke sekian
Mohon maaf, harap maklum _/|\_ πŸ˜€

Salam,
Galuh Nindya